Wednesday, 10 June 2020

ANALISIS PENERAPAN WIRAUSAHA BIDANG INFORMASI DAN PERPUSTAKAAN

                                                                                                                                                                                Hal

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i

DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

A.      Latar Belakang ................................................................................................. 1

B.       Rumusan Masalah ........................................................................................... 1

C.       Tujuan  ............................................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN  ..................................................................................... 2

A.      Pengertian Wirausaha, Informasi dan Perpustakaan ....................................... 2

B.       Macam-Macam Wirausaha Bidang Informasi dan Perpustakaan.................... 4

C.       Analisis Penerapan Wirausaha Bidang Informasi dan Perpustakaan............... 6

BAB III PENUTUP............................................................................................... 10

A.      Simpulan........................................................................................................... 10

B.       Saran................................................................................................................. 10

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 11

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Negara yang maju pada umumnya adalah negara yang memiliki banyak wirausahawan sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan, baik itu bagi diri sendiri maupun menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, sehingga dapat mengurangi pengangguran dan banyak menyumbang pendapatan bagi, negara, berupa badan usaha perseorangan, persekutuan firma, persekutuan komanditer maupun dalam bentuk perseroan terbatas.

Infopreneur mengkhususkan diri dalam informasi. Mereka menyediakan, mempromosikan, mendistribusikan dan memasarkan informasi. Infopreneur mengumpulkan informasi dari beberapa sumber, dan mengemas dalam berbagai cara baru, dan bentuk/format baru untuk memenuhi kebutuhan informasi. Mereka mengambil peluang dari revolusi informasi yang telah menyebabkan ledakan informasi, dimana telah terjadi kesemrawutan informasi yang berdampak kepada sulitnya dan tidak efektifnya sistem temu kembali informasi.

 

B.       Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan wirausaha, informasi dan perpustakaan?

2.      Apa saja macam-macam wirausaha bidang informasi dan perpustakaan?

3.      Bagaimana analisis penerapannya?

 

C.      Tujuan

1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan wirausaha, informasi dan perpustakaan

2.      Untuk mengetahui apa saja macam-macam wirausaha bidang informasi dan perpustakaan

3.      Untuk mengetahui bagaimana analisis penerapannya

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.      Pengertian Wirausaha, Informasi dan Perpustakaan

a.       Wirausaha

Secara etimologi kata wirausaha adalah berasal dari kata “wira” dan “usaha”. “Wira” berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Kata “wira” juga digunakan dalam kata “perwira”. Sedangkan “usaha” berarti “perbuatan untuk mencapai sebuah tujuan”. Jadi, secara etimologis/harfiah, wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang melakukan perbuatan untuk mencapai sebuah tujuan.

Wirausaha (entrepreneur) merupakan seseorang yang memiliki ide mengenai produk atau jasa dan kemudian membisniskannya. Kamus Umum Bahasa Indonesia  mengartikan wirausaha sebagai orang yang pandai dan berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi baru untuk pengadaan produk baru, memamarkanya serta mengatur permodalan operasinya.[1]

Adam Smith, yang kita kenal sebagai bapak ekonomi memiliki pandangan tersendiri. Dalam pandangannya wirausaha berarti orang yang mampu bereaksi terhadap perubahan ekonomi, lalu menjadi agen ekonomi yang mengubah permintaan menjadi produksi. Ahli ekonomi perancis Jean Baptise berpendapat bahwa wirausaha adalah orang yang memiliki seni dan keterampilan tertentu dalam menciptakan usaha ekonomi yang baru. Sedangkan Cantilon berpendapat bahwa wirausaha adalah seorang inkubator gagasan-gagasan baru yang sellau berusaha menggunakan sumber daya secara optimal untuk mencapai tingkat paling tinggi.[2]

Jadi  wirausaha adalah orang yang mempunyai semangat, sikap, perilaku dan kemampuan kewirausahaan atau mengarah kepada orang yang melakukan usaha/kegiatan sendiri dengan segala kemampuan yang dimilikinya.[3]

b.      Informasi

Informasi adalah sekumpulan data/ fakta yang diorganisasi atau diolah dengan cara tertentu sehingga mempunyai arti bagi penerima. Data yang telah diolah menjadi sesuatu yang berguna bagi si penerima maksudnya yaitu dapat memberikan keterangan atau pengetahuan. Dengan demikian yang menjadi sumber informasi adalah data. Informasi dapat juga di katakan sebuah pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi.

Secara etimologis pengertian dari informasi adalah berasal dari bahasa latin yaitu “informatinem” yang berarti ide, garis besar atau kode. Informasi bisa disajikan ke dalam berbagai bentuk mulai dari tulisan, gambar, diagram, tabel, audio, video dan lain-lain.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Informasi adalah hasil pemrosesan data yang diperoleh dari setiap elemen sistem tersebut menjadi bentuk yang mudah dipahami dan merupakan pengetahuan yang relevan yang dibutuhkan oleh orang untuk menambah pemahamannya terhadap fakta-fakta yang ada.[4]

c.       Perpustakaan

Perpustakaan berasal dari kata pustaka, yang berarti kitab atau buku. Setelah ditambah awalan “per” dan akhiran “an” menjadi perpustakaan yang artinya kumpulan buku-buku yang kini dikenal sebagai koleksi bahan pustaka. Dalam bahasa Inggris dikenal istilah Library yang berasal dari bahasa latin,yaitu liber atau libri yang artinya buku. Dalam Bahasa Belanda disebut bibliothek, Jerman dikenal dengan bibliothek, Perancis disebut bibliotheque, Spanyol dan Portugis dikenal dengan bibliotheca. Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung tempat menyimpan buku-buku untuk dibaca, sedangkan menurut Taslimah Yusuf (1996), Perpustakaan adalah tempat menyimpan berbagai jenis bahan bacaan. Di situ masyarakat dapat memanfaatkan bacaannya untuk menambah pengetahuan, mencari informasi atau sekadar mendapatkan hiburan. Berbagai jenis koleksi yang tersedia yaitu berupa buku, majalah, surat kabar, bahan audio visual, rekaman kaset, film.

Menurut Random House Dictionary of the English Language, perpustakaan adalah suatu tempat, berupa sebuah ruangan atau gedung yang berisi buku-buku dan bahan-bahan lain untuk bacaan, studi maupun rujukan.

Oleh karena perkembangan zaman, istilah perpustakaan pun menjadi berkembang, sesuai dengan tugas dan fungsinya. Berdasarkan tugas dan fungsinya saat ini, perpustakaan merupakan tempat menyimpan, mengolah dan mencari informasi, di mana informasi tersebut dapat berbentuk bahan bacaan tercetak (buku, jurnal, referensi, dan bahan pustaka tercetak lainnya) maupun bahan bacaan dalam bentuk elektronik (electronic book, elektronik jurnal, dan bahan bacaan bentuk elektronik lainnya). Di dalam perpustakaan tersebut ada organisasi dan sistem yang mengatur perjalanan bahan pustaka/informasi mulai dari pengadaan, pengolahan hingga pelayanan dan penyajian kepada pengguna perpustakaan.[5]

 

B.       Macam-Macam Wirausaha Bidang Informasi dan Perpustakaan

a.       Pemasaran Perpustakaan

Menurut Sindoro yang dimaksud dengan pemasaran yaitu memuaskan kebutuhan pelanggan bila pemasaran melakukan tugas memahami kebutuhan pelanggan dengan baik, mengembangkan produk akan memberikan nilai superior, dan menetapkan harga, mendistribusikan serta mempromosikan secara efektif, produk ini akan dijual dengan mudah.

Menurut Mustafa pemasaran adalah kegiatan analisis, perencanaan, pelaksanaan dan mengendalikan program-program yang telah direncanakan secara cermat yang dibuat untuk menetapkan tukar-menukar sesuatu secara sukarela untuk mencapai sasaran sesuai dengan tujuan organisasi. Konsep pemasaran sebagai bagian manajemen bisnis diarahkan untuk memaksimalkan minat pembaca. Maka dalam meraih sukses pemasaran harus ada pedoman baku sebagai pegangan dalam perencanaan pemasaran.

b.      Jaringan Perpustakaan

Jaringan dalam sebuah perpustakaan berkaitan dengan kegiatan kewirausahaan. Pembangun jaringan di perpustakaan dapat dilihat dari kerjasama produksi buku, spesialis subjek, pengadaan buku asing, penyimpanan buku yang kurang digunakan, pemusatan dan penyimpanan, pengolahan data bibliografi, penyediaan fasilitas, pinjaman koleksi antara perpustakaan, pengembangan pendidikan dan penembangan TI.

c.       Promosi Perpustakaan

Kata promosi dalam bahasa Inggris; promotion, promote yang mempunyai arti menaikkan, memajukan mengembangkan. Promosi dalam usaha perdagangan merupakan instrumen pemasaran yang berkaitan dengan komunikasi, yaitu pesan (message) yang disampaikan oleh produsen kepada konsumen. Menurut Mursid promosi adalah ajakan dengan membujuk dan mendesak target yakni terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Mempromosikan perpustakaan setidaknya menyampaikan pesan (message) yang akan diinformasikan melalui media iklan, poster, brosur, ataupun melalui kegiatan promosi seperti ceramah, diskusi.

d.      Promosi Perpustakaan dengan Web

Website sabagai bagian dari teknologi informasi dapat difungsikan sebagai promosi perpustakaan, yaitu sebagai sarana untuk menginformasikan segala hal yang terdapat di perpustakaan kepada pemustaka. Promosi perpustakaan melauli web akan menjangkau pemustaka yang sangat luas. Dengan web pemustaka tidak harus secara langsung datang ke perpustakaan sudah dapat mengetahui jasa layanan dan koleksi yang terdapat di perpustakaan. Melaui web dapat difungsikan sebagai sarana desiminasi informasi di perpustakaan, dengan semakin kompleksnya koleksi perpustakaan, informasi yang disimpan di perpustakaan bisa diakses oleh masyarakat secara online.

Penggunaan web untuk promosi akan dapat mengangkat citra perpustakaan dan akan membangun image perpustakaan. Dimana perpustakaan dapat mengikuti perkembangan dan tuntutan dari pemustaka. Sehingga perpustakaan mampu menarik pemustaka guna menggunakan fasilitas yang tersedia di perpustakaan.[6]

Penggunaan teknologi informasi dalam inovasi kewirausahaan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan manajemen suatu perpustakaan, dukungan teknologi informasi perpustakaan mampu memenuhi harapan pengguna sehingga perpustakaan tetap diminati dan citranya meningkat di mata masyarakat. Penerapan teknologi di perpustakaan dalam kegiatan kewirausahaan dapat dilihat dari penggunaan katalog online, dapat dilihat juga dengan munculnya web digital library yang kemudian dikenal dengan nama institutional repository (IR).

Perpustakaan adalah instituai nirlaba di mana alas keberadaanya adalah untuk memberikan pelayanan bukan untuk kepentingan finansial. Oleh karena itu dalam dunia perpustakaan tujuan inovator kewirausahaan berkaitan dengan pengembangan kepemimpinan untuk memenuhi kebutuhan perpustakaan dan pengguna. Di Indonesia kewirausahaan dilakukan oleh pustakawan yaitu dengan penyediaan berbagai fasilitas penunjang bagi pengguna. Fasilitas yang disediakan seperti pembukaan kafe, layanan fotokofi, percetakan mini, toko cenderamata, serta penyediaan fasilitas umum seperti mesin ATM dal lain-lain.

 

C.      Analisis Penerapannya

Perpustakan sebagai salah satu penyedia informasi tidak bisa tinggal diam dengan berbagai macam perubahan dan perkembangan yang ada. Perpustakaan dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan informasi dengan memperbaharui koleksi-koleksinya sesuai dengan tingkat perkembangan zaman serta kebutuhan pemakai dan juga meningkatkan mutu pelayanannya. Perpustakaan dituntut untuk menyediakan bervariasi koleksi, baik jenis maupun bentuknya seperti koleksi cetak, non cetak , elektronik, dan lain-lain. Untuk itu penerapan wirausaha dalam bidang informasi dan perpustakaan bisa dilakukan dengan cara:

a.       Pemasaran Perpustakaan

Menurut Harmawan dan Haryono konsep marketing mix cocok untuk diterapkan dalam pemasaran informasi di Perpustakaan. Konsep marketing mix mencakup 4 komponen pokok, yaitu produk, promosi, tempat dan harga.

1.      Produk, produk yang dihasilkan dalam hal ini adalah jurnal, laporan penelitian, indek, abstrak, katalog, pelayanan pemakai dan lain-lain.

2.      Promosi, prinsip promosi dilakukan untuk memberikan atau menyarankan pemakai bahwa perpustakaan tersedia berbagai jenis layanan dan menjelaskan bagaimana cara menggunakanya.

3.      Tempat, setelah promosi maka harus ada tempat sebagai tujuan untuk menempatkan produk yang dipromosikan, yaitu lokasi fisik tempat dimana barang dan jasa yang ditawarkan oleh perpustakaan dapat diakses.

4.      Harga, perbedaan pendapat yang belum sama antara pakar perpustakaan mengenai perlu tidaknya penetapan biaya dalam layanan perpustakaan.

Prinsip pemasaran yang dilakukan perpustakaan manarik minat pemakai dengan tujuan agar informasi yang belum dimanfaatkan dapat teraksibilitas secara maksimal.

b.      Promosi Perpustakaan

Promosi perpustakaan adalah aktivitas mempopulerkan perpustakaan, baik fasilitas, koleksi, jenis layanan, dan semua yang terdapat di dalamnya yang dapat diambil manfaatnya. Tujuan promosi perpustakaan adalah: memperkenalkan fungsi perpustakaan kepada masyarakat pemakai, mendorong minat baca dan mendorong masyarakat agar menggunkan koleksi perpustakaan semaksimal dan menambah jumlah orang yang gemar membaca, memberi kesadaran masyarakat akan adanya pelayanaan perpustakaan dan menggunakannya, serta mengembangkan pengertian masyarakat, agar mendukung kegiatan perpustakaan, memasyarakatkan slogan , sebagai contoh misalnya, ”tak kenal maka tak sayang”.

Beberapa sarana yang dapat digunakan untuk melakukan promosi antara lain:

1)  Sarana promosi dalam bentuk cetak

a.  Brosur adalah media promosi biasanya berbentuk kertas cetak berisi informasi tentang suatu barang atau jasa yang ditawarkan pada konsumen dengan harapan dapat dibeli atau dimanfaatkan.

b. News letter adalah media promosi yang digunakan untuk memberikan informasi kepada sejumlah orang secara teratur berupa berita, artikel dengan tulisan gaya formal.

c. Pembatas buku adalah suatu benda yang digunakan sebagai pembatas pada halaman buku.

d. Terbitan khusus perpustakaan

1. Panduan perpustakaan

2. Kalender perpustakaan

2) Sarana promosi dalam bentuk kegiatan

Sarana promosi dalam bentuk kegiatan bisa berupa pameran perpustakaan, ceramah, seminar, bazar, wisata perpustakaan, pemutaran film tentang penggunaan perpustakaan, perlengkapan perpustakaan, sikap petugas, koleksi, jasa dan semua kegiatan perpustakaan.

3) Sarana promosi dalam bentuk web

Website sebagai bagian dari teknologi informasi dapat difungsikan sebagai promosi perpustakaan, yaitu sebagai sarana untuk menginformasikan segala hal yang terdapat di perpustakaan kepada pemustaka. Promosi perpustakaan melauli web akan menjangkau pemustaka yang sangat luas. Dengan web pemustaka tidak harus secara langsung datang ke perpustakaan sudah dapat mengetahui jasa layanan dan koleksi yang terdapat di perpustakaan. Manfaat yang dapat diperolah promosi melalui internet antara lain:

1.      Siap Sedia 24 Jam

Tidak seperti praktek bisnis offline lainnya yang layanannya tergantung pada hari kerja dan jam kerja, web site selalu siap sedia 24 jam serta bisa diakses oleh pelanggan dari mana saja dan kapan saja.

2.      Menjangkau Pangsa Pasar Yang Tertarget

Melalui promosi online, bisa secara efektif memasarkan bisnis berdasarkan pangsa pasar yang ditargetkan. Baik dari segi area, minat, kebutuhan pelanggan, bahasa, dan lain-lain.

3.      Mengangkat Citra Bisnis

Dengan memiliki sebuah web site, citra (image) bisnis kita bisa terangkat. Walau bisnis tidak besar, tetapi melalui kehadiran secara online, citra bisnis kita akan terangkat dibandingkan kompetitor lain dan bisa bersaing dengan perusahaan besar.

4.      Biaya Pemasaran yang lebih Efektif dan Efisien

Karena pemasaran melalui internet sangat tertarget dan biaya relatif lebih rendah disbanding pemasaran offline, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pemasarannya juga lebih efektif dan efisien.

5.      Memposisikan Bisnis Di Masa Depan

Semakin hari, semakin banyak bisnis yang hadir secara online. Demikian juga kompetitor lainnya. Kalau tidak sekarang, kelak pun mereka akan menghadirkan bisnisnya melalui internet. Karena itu, kehadiran situs bisnis di internet, setidaknya telah menolong memposisikan bisnis di masa depan.

6.      Mempermudah Dalam Membangun Hubungan Baik Dengan Pelanggan.

Karena internet adalah media yang interaktif, dengan mudah menjalin komunikasi dan menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Baik itu melalui newsletter, kotak saran,  survey/polling, forum, dll. Kelebihan macam-macam perangkat  ini, Anda bisa melayani banyak pelanggan dalam satu waktu.  Lebih hemat waktu, tenaga dan biaya.

7.      Sistem Otomatisasi Yang Responsif

Melalui sistem otomatisasi, web site bisa memberikan respon dengan cepat jika datang pesanan atau permintaan informasi bisnis yang lebih lengkap dari pelanggan. Di zaman yang serba instan ini, kecepatan layanan adalah kemutlakan.[7]

BAB III

PENUTUP

 

A.      Simpulan

Wirausaha adalah orang yang mempunyai semangat, sikap, perilaku dan kemampuan kewirausahaan, Informasi adalah sekumpulan data/ fakta yang diorganisasi atau diolah dengan cara tertentu sehingga mempunyai arti bagi penerima, sedangkan perpustakaan merupakan tempat menyimpan, mengolah dan mencari informasi, di mana informasi tersebut dapat berbentuk bahan bacaan tercetak maupun bahan bacaan elektronik.

Macam-macam wirausaha dalam bidang informasi dan perpustakaan yaitu; pemasaran perpustakaan, promosi perpustakaan, promosi perpustakaan dengan web.

Perpustakaan dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan informasi dengan memperbaharui koleksi-koleksinya sesuai dengan tingkat perkembangan zaman serta kebutuhan pemakai dan juga meningkatkan mutu pelayanannya. Perpustakaan dituntut untuk menyediakan bervariasi koleksi, baik jenis maupun bentuknya seperti koleksi cetak, non cetak , elektronik, dan lain-lain.

 

B.       Saran

Semoga kita bisa mengambil peluang dari adanya revolusi informasi dengan baik dan memiliki sikap inovatif dalam mengikuti perkembangan informasi yang begitu pesat.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ajie, Miyarso Dwi. Sistem Informasi. Universitas Pendidikan Indonesia.

Dewiyana, Himna, dkk. (2015). Kewirausahaan Informasi (Infopreneur). Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 11, No. 1, 4.

Hutagalong, Raja Bongsu, dkk. 2008. Pengantar Kewirausahaan. Medan: USU Press.

Rifa’i, Muhammad dan Husinsah. 2020. Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Kecil. Medan.

Saleh, Abdul Rahman dan Komalasari Rita. 2014. Manajemen Perpustakaan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sukirno. (2016). Optimalisasi Web Promosi Perpustakaan. Pustakaloka, Vol. 8, No. 2.

 

 

 

 



[1] Muhammad Rifa’i dan Husinsah. Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Kecil. (Medan, 2020), hlm.13

[2] Raja Bongsu Hutagalong dan Syafrizal Helmi Situmorang. Pengantar Kewirausahaan. (Medan: USU Press, 2008), hlm.2 

[3] Himna Dewiyana, dkk. (2015). Kewirausahaan Informasi (Infopreneur). Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 11, No. 1, 4

[4] Miyarso Dwi Ajie. Sistem Informasi. Universitas Pendidikan Indonesia, hlm.2

[5] Abdul Rahman Saleh dan Rita Komalasari. Manajemen Perpustakaan. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2014), hlm. 1.4-1.5

[6] Sukirno. (2016). Optimalisasi Web Untuk Promosi Perpustakaan. Pustakaloka, Vol.8, No. 2, hlm. 247-249

[7] Sukirno. (2016). Optimalisasi Web Untuk Promosi Perpustakaan. Pustakaloka, Vol.8, No. 2, hlm. 250-252


Peraturan Standar dalam Tesaurus



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................... i
DAFTAR ISI............................................ ii
BAB I................................................. 1
A.  Latar Belakang........................................ 1
B.  RumusanMakalah........................................ 1
C.  Tujuan Makalah........................................ 1
BAB II................................................ 3
A.  PeraturanStandar Dalam Thesaurus...................... 3
B.  StrukturPembuatanTesaurus............................. 8
C.  Perkembangan NISO DalamPembuatan Tesaurus............. 11
BAB III............................................... 16
A.  Kesimpulan............................................ 16
B.  Saran................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA......................................... 19








BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Semakinberkembangnyaperkembangan zaman danteknologiinformasi yang memberikankemudahankepadapenggunaperpustakaandalammenemukaninformasi yang diinginkan. Denganmunculnya thesaurus lebihmempermudahdalam proses temukembaliinformasibaiksecara manual maupunelektronik. Yang mana tesaurusinisendirimemilikitujuandanfungsiterhadapperkembanganinformasidiperpustakaan.
Dalampembuatan thesaurus terdapatperaturanstandar yang harusdiikutidalampembuatantesaurus yang berlandaskanpada NISO.

B.     RumusanMakalah
1.      Apa yang dimaksuddenganperaturandalamtesaurus ?
2.      Bagaimanastrukturdalam thesaurus?
3.      Bagaimanaperkembangan NISO dalampembuatan thesaurus?

C.    Tujuan
1.      Untukmengetahuiapa yang dimaksuddenganperaturandalam thesaurus.
2.      Untukmengetahuistrukturdalam thesaurus.
3.      Untukmengetahuiperkembangan NISO dalampembuatan thesaurus.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    PeraturanStandarDalam Thesaurus.
Standar berasal dari bahasa Prancis Kuno  artinya titik tempat berkumpul, dalam bahasa Inggris Kuno merupakan gabungan kata standan artinya berdiri dan or (juga bahasa Inggris Kuno) artinya titik. (Merriam-Webster, 2000) kemudian diserap dalam bahasa Inggris sebagai kata standard  (Pengantar standardisasi, 2009). Standar   adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan consensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh  manfaat yang sebesar-besarnya (Peraturan Pemerintah, 2000).[1]
Dalam melakukan konstruksi tesaurus pengindeks sebaiknya berpedoman pada suatu standar tertentu. Standar dibuat sebagai panduan untuk mengembangkan tesaurus (baik dalam tesaurus satu bahasa maupun multilingual), Mengikuti seperangkat peraturan dalam suatu standar tesaurus akan mempermudah pengindeks dalam membuattesaurus.
Standar dalam membuat tesaurus dapat memberikan panduan seperti bagaimana tesaurus harus dikonstruksi, jenis-jenis hubungan apa yang harus dimasukkan, bagaimana cara mengidentifikasi istilah terpilih dan lain sebagainya, selain itu, standar juga akan mempermudah pengideks untuk mengembangkan tesaurus di kemudianhari
Terdapat beberapa standar internasional yang umum digunakan dalam melakukan kostruksi tesaurus, diantaranya :
1)      Documentation--guidelines    for    the    establishment    and   development    of monolingual thesauri. 2.ed.
Geneva: International Organization for Standardization; 1986. Standar Internasional ISO 2788-1986(E).
Standar ini dibuat berdasarkan pertemuan Austin, September 1981.
2)      Guidelines for construction, format, and management of monolingual thesauri: An American National Standard dikembangkan oleh the National Information StandardsOrganization.
Bethesda, MD: NISO press; 1994. 69p. ANSI/NISO Z39.19-1993 R1998
3)      British standard guide to the establishment and development of monolingual thesauri.
London: British Standards Institution; 1987
4)      Documentation--guidelines    for    the    establishment    and   development  of multilingualthesauri.
Geneva: International Organization for Standardization; 1985. Standar Internasional ISO 5964-1985(E).
Standar ini berdasarkan panduan Unesco.
5)      Guidelines for MultilingualThesauri
Working Group on Guidelines for Multilingual Thesauri, Classification and Indexing Section,IFLA, April 2005.[2]
Dengan mengikuti standar internasional maka dapat dipastikan bahwa sebuah thesaurus yang akan diciptakan memiliki keunggulan. Namun sebelum membuatnya maka peracang pembuat thesaurus harus melakukan analisis terhadap perpustakaan yang akan dibuatkan tesaurusnya. Analisi yang dimaksud adalah pencarian secara maksimal bahwa dalam perpustakaan tersebut belum terdapat thesaurus, atau yang mirip dengan thesaurus yang akan dibuat.
Terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pembuatan kontuksi thesaurus, yaitu:
1)      Membuat tesaurus baru dengan pendekatan buttomup
a)      mengembangkan kelompok yang terdiri dari para ahli subjek yang nantinya berfungsi sebagai penasihat; Lakukan koordinasi dengan kelompok ahli subjek ini untuk menentukan cakupan dari tesaurus  jika belumditentukan;
b)      jika telah terdapat kumpulan dokumen sarana pengindeksan yang dianggap representatif, istilah-istilah indeks tersebut bisa digunakan sebagai daftar istilahawal;
c)      jika belum ada, lakukan pengideksan terhadap dokumen-dokumen yang dianggap representatif dengan menggunakan bahasa alami (apabila tidak terdapat sarana pengendalian kata), dan ambil istilah- istilah ini sebagai daftar istilahawal;
d)      lakukan konstruksi tesaurus dengan melakukan pengecekan kembali dan pengorganisasian istilah-istilah yang sudah diperoleh dari langkah-langkah sebelumnya dengan menggunakan berbagai sarana bantu.
e)      indeks-indeksnya, dan lakukanrevisi;
2)      Kombinasi dari tesaurus yang telahada
a)      menggabungkan dua atau lebih tesaurus yang telah ada kedalam satu tesaurus yang baru untuk kemudian digunakan dalam proses pengindeksan dan temukembali;
b)      menghubungkan antara tesaurus dan daftar tajuk subjek yang sudah adasebelumnya;
3)      Menerjemahkan tesaurus dari bahasa asli ke bahasa yangdiinginkan.

B.     Struktur Pembuatan Tesaurus
         Sebuahstrukturpembuatanataulangkah-langkah yang akanditempuhdalampembuatan thesaurus tergantungdenganstandarkonstruksi yang digunakan. Karenasebuahacuanstandarmemilikikriteriamasing-masingdalampembuatanthesaurus.
Langkah- langkahmenurut NISO
1)      MenghindariDuplikasi
Sebelum memutuskan untuk membuat tesaurus baru sebaiknya dilakukan penyelidikan untuk mengetahui ada atau tidaknya tesaurus yang sama. agar pembuatan tesaurus tidak menjadi sia-sia. Namun jika tidak ada tesaurus  yang sama, maka perlu diselidiki kembali apakah ada tesaurus sejenis atau yang mendekati dengan tesaurus yang akan dibuat. Jika ada maka, tesaurus tersebut dapat dijadikan dasar dalam pembuatan tesaurus yang baru. Dengan adanya dasar tersebut pembuatan tesaurus akan lebihmudah.
2)      Menentukan Struktur dan format Peragaan
Struktur dan format peragaan tesaurus perlu ditentukan terlebih dahulu  karena akan mempengaruhi tipe dan indikator hubungan yang diperagakan dalam tesaurus tersebut.
3)      Metode
Yaitusebuahmetode yang digunakandalammembuat thesaurus.Misalnyaliterary warrant.
4)      BantuanMesin
ANSI/NISO Z39.19 – 2003 menganjurkan untuk menggunakan katalog komputer dalam melakukan pencarian istilah. Hal ini dilakukan dengan melakukan identifikasi calon istilah secara otomatis contohnya melalui judul maupun abstrak dan melihat frekuensi penggunaan istilah yang terekam dalamkatalog.
5)      RekamanIstilah
Setiap deskriptor maupun istilah entri yang dimasukkan ke dalam tesaurus harus dibuat catatannya masing-masing. Catatan yang dibuat untuk istilah entri seperti sumber istilah dan tanggal istilah ditemukan dan dimasukkan ke dalam tesaurus. Sedangkan catatan untuk deskriptor bisa mencakup keseluruhan atau sebagian dari entri dibawah ini, yaitu:
1.      Deskriptor;
2.      Sumber-sumberyangdigunakandalammenemukandeskriptor.
3.      Bagian ini penting terutama bagi istilah yang kurang dikenal. Catatan pada bagian ini dapat termasuk kutipan dari sumber yang dipublikasikan atau nama ahli yang diajak berkonsultasi.
4.      Ruang lingkupistilah;
5.      Sinonim;
a.       Variasi lain yang tidak ditampilkan, misalnya pengejaan yangsalah;
b.      Istilahluas;
c.       Istilah khusus atausempit;
d.      Istilah yangberkaitan;
e.       Locally establishedrelationships;
f.        Kategori atau nomorklasifikasi;
g.      Tanggal, termasuk tanggal dimasukkan dan perubahanistilah;
6)      VerifikasiIstilah
Setiap istilah yang akan dimasukkan ke dalam tesaurus harus diverifikasi terlebih dahulu. Selain itu hubungan antar deskriptor juga harus dikaji kembali ketepatannya. Verifikasi ini dilakukan melalui kamus istilah terkait, ensiklopedia, bagan klasifikasi, dan juga dengan melakukan wawancara dengan seorangahli
7)      TingkatKekhususan
Penambahan deskriptor yang sangat spesifik biasanya dibatasi pada wilayah inti dari bidang subjek yang dicakup oleh tesaurus. Pada penelitian ini dibatasi untuk area inti dari bidang subyek korupsi. Pada langkah ini, peneliti melihat apakah istilah yang terkumpul sudah spesifik untuk cakupan bidang korupsi. Selain itu juga, peneliti melihat apakah istilah yang terkumpul tidak melebar keluar dari cakupan bidang subyekinti.[3]
Tahap pembuatan standar
Untuk membuat standar baik pada tingkat ISO maupun Indonesia, lazimnya ada 6 tahap yaitu:
1.      Tahap pengusulan, di sini pemangku kepentingan mengajukan permintaan tentnag perlunya sebuah standar dalam bidangnya. Misalnya pihak pemangku kepentingan mi instan memerlukan standar Kegiatan ini sering disebut “call for proposal.”
2.      Tahap persiapan. Di sini ISO atau BSN membentuk panitia terdiri dari pakar untuk menyusun naskah kerja, di dalamnya termasuk kajian apakah usulan yang diajukan sudah sesuai dengan kebutuhan, apakah layak dari segi teknis.
3.      Tahap Komisi. Dibuat lagi naskah kerja, namun sudah menyerupai naskah standar, diedarkandi kalangan komisi untuk ditelaah dan disetujui. Bila komisi sudah merasa bahwa naskah itu cukupbaik untuk menangani masalah yang dibahas (mislanya standar ruas untuk deskripi bibliografis) maka ditingkatkan ke tahap berikutnya.
4.      Tahap  permintaan pendapat (inquiry) . Disebarkan ke anggota serta publik  yang berminat untuk memperoleh masukan.
5.      Tahap persetujuan, dimintakan pendapat dari anggota komisi dan masyarakat. Bila pernyataan setuju di atas kuorum, maka naskah dijadikan naskah final komisi.
6.      Tahap publikasi, naskah dijadikan standar lalu diberi nomor, mislanya SNI nomor x, atau ISO nomor x diikuti tahun publikasi.
C.    Perkembangan NISO DalamPembuatanTesaurus
Didirikan pada tahun 1939, Organisasi Standar Informasi Nasional (NISO) adalah asosiasi non-pemerintah yang berbasis industri, nirlaba.  NISO diakreditasi oleh American National Standards Institute (ANSI) untuk mengidentifikasi, mengembangkan, memelihara, dan menerbitkan standar sukarela berbasis konsensus untuk mengelola informasi.
 NISO mendorong pengembangan dan pemeliharaan standar yang memfasilitasi penciptaan, manajemen yang gigih, dan pertukaran informasi yang efektif sehingga dapat dipercaya untuk digunakan dalam penelitian dan pembelajaran.
Misi NISO berfokus pada tiga bidang utama kegiatan: Keterlibatan, Interoperabilitas, dan Pendidikan.  NISO memungkinkan perpustakaan, penerbit, dan vendor untuk terlibat lintas dan menyelesaikan masalah yang menjadi kepentingan bersama dengan menyediakan forum netral di mana mereka dapat terlibat dan membangun konsensus.  NISO menyatukan beragam kelompok kerja dan memandu pekerjaan mereka saat mereka mengembangkan solusi untuk masalah masyarakat.  Masalah-masalah inti yang kita selesaikan secara bersama-sama memusatkan perhatian terutama pada interoperabilitas teknologi dan membangun efisiensi di antara berbagai organisasi yang membentuk komunitas kita.  Standar NISO fokus pada pembuatan dan kurasi konten, penemuan dan pertukaran, analisis dan proses bisnis yang memfasilitasi pertukaran konten.  Yang penting bagi adopsi teknologi ini adalah membangun kesadaran dan dukungan untuk solusi ini melalui pendidikan.  Program pendidikan NISO mencakup konten tertulis gratis di situs web NISO, webinar, teleconference terbuka, konferensi langsung dan virtual.
            Standar NISO mempromosikan aliran konten antara pembuat, penerbit, distributor dan pengguna.  Standar NISO diarahkan kepada mereka yang mempublikasikan informasi dan / atau menyediakan alat untuk mengakses, menggunakan, atau menyimpan informasi.  ISBN adalah salah satu standar NISO yang menjadi sandaran perusahaan Anda. Prosedur yang digunakan NISO memastikan integritas dan jaminan bahwa semua pemangku kepentingan memiliki suara.
Membuat sistem informasi lebih mudah digunakan dan lebih murah untuk dioperasikan. Perluas pasar di dalam negeri dan luar negeri untuk semua orang yang mengembangkan dan menjual produk dan layanan informasi. Berikan stabilitas sehingga semua orang yang mengelola informasi mengikuti perkembangan lingkungan bisnis. Yakinkan pelanggan dan mitra bisnis Anda bahwa produk dan layanan Anda memenuhi tingkat kualitas dan keandalan yang diperlukan.
            Penerbit, agregator informasi dan penyedia konten, perpustakaan dan penyedia informasi lainnya menggunakan standar NISO.  Semua orang yang bisnisnya bergantung pada interoperabilitas dengan sistem dan proses lain menggunakan standar NISO.
Keanggotaan dalam NISO terbuka untuk organisasi mana pun yang tertarik untuk mendukung tujuan NISO.  Kami memiliki anggota yang penerbit, perpustakaan, asosiasi, perusahaan alat perangkat lunak, arsip, vendor komposisi dan agen berlangganan, hanya untuk beberapa nama.  Silakan kunjungi halaman GABUNG NISO untuk informasi lebih lanjut.[4]
Aliansi Standar Perpustakaan NISO
Perpustakaan memainkan peran penting dalam berkontribusi dan menerapkan standar informasi, dan memburuhkan masyarakat untuk berkontribusi dengan NISO. Menjadi keanggotaan Aliansi Standar Perpustakaan NISO adalah cara yang mudah dan terjangkau bagi organisasi untuk mendukung pekerjaan kami. Keanggotaan LSA memungkinkan kelompok lain untuk berkontribusi dalam pengembangan standar kerja informasi dan untuk tetap up to date dengan banyak kegiatan standar nasional dan internasional yang melibatkan NISO.
Manfaat keanggotaan Aliansi Standar Perpustakaan meliputi:
1. Mendukung akses masyarakat ke standar NISO
- dukungan dari anggota Aliansi Standar Perpustakaan memungkinkan kami untuk terus membuat semua standar NISO tersedia secara bebas untuk komunitas untuk penggunaan dan aplikasi
- Anggota Aliansi yang bereputasi baik terdaftar di situs web NISO, dengan tautan ke situs web Anda sendiri
2. Berpartisipasi dalam pengembangan standar
- mencalonkan perwakilan untuk melayani dalam jumlah yang tidak terbatas komite standar NISO dan kelompok kerja (non-anggota hanya dapat mencalonkan satu orang untuk melayani dalam satu kelompok)
- dapatkan pemberitahuan awal tentang konsep dan standar NISO yang baru disetujui, sehingga Anda punya cukup waktu untuk memberikan umpan balik untuk organisasi dan komunitas Anda
3. Pendaftaran gratis atau diskon tanpa batas untuk  acara NISO
- kehadiran gratis untuk semua staf di webinar pendidikan bulanan NISO (14 tahun 2020)
- cukup tunjuk satu atau lebih titik kontak webinar sehingga kami dapat berbagi petunjuk bergabung
- Akses ke rekaman webinar yang sedang berlangsung dan ke arsip rekaman acara sebelumnya termasuk 10+ tahun program
- pendaftaran dengan potongan harga untuk acara NISO lainnya, termasuk konferensi NISO Plus, Konferensi Virtual NISO, seri Pelatihan NISO, Forum Teknologi NFAIS, Humanities Roundtable,dan banyak lagi.















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan consensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan dating untuk memperoleh  manfaat yang sebesar-besarnya (Peraturan Pemerintah, 2000).Standar dalam membuat tesaurus dapat memberikan panduan seperti bagaimana tesaurus harus dikonstruksi, jenis-jenis hubungan apa yang harus dimasukkan, bagaimana cara mengidentifikasi istilah terpilih dan lain sebagainya, selain itu, standar juga akan mempermudah pengideks untuk mengembangkan tesaurus di kemudianhari.
Terdapat beberapa standar internasional yang umum digunakan dalam melakukan kostruksi tesaurus, diantaranya :
1)      Documentation--guidelines    for    the    establishment    and   development of monolingual thesauri. 2.ed.Geneva: International Organization for Standardization; 1986. Standar Internasional ISO 2788-1986(E).
Standar ini dibuat berdasarkan pertemuan Austin, September 1981.
2)      Guidelines for construction, format, and management of monolingual thesauri: An American National Standard dikembangkan oleh the National Information StandardsOrganization.
Bethesda, MD: NISO press; 1994. 69p. ANSI/NISO Z39.19-1993 R1998
3)      British standard guide to the establishment and development of monolingual thesauri.
London: British Standards Institution; 1987
4)      Documentation--guidelines    for    the    establishment    and   development  of multilingualthesauri.
Geneva: International Organization for Standardization; 1985. Standar Internasional ISO 5964-1985(E).
Standar ini berdasarkan panduan Unesco.
5)      Guidelines for MultilingualThesauri
Working Group on Guidelines for Multilingual Thesauri, Classification and Indexing Section,IFLA, April 2005.
Terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pembuatan kontuksi thesaurus, yaitu:
1.      Membuat tesaurus baru dengan pendekatan buttomup
2.      Kombinasi dari tesaurus yang telahada
3.      Menerjemahkan tesaurus dari bahasa asli ke bahasa yang diinginkan.
Langkah- langkahstruktur pembuatan menurut NISO
1.      MenghindariDuplikasi
2.      Menentukan Struktur dan format Peragaan
3.      Metode
4.      BantuanMesin
5.      RekamanIstilah
6.      VerifikasiIstilah
7.      TingkatKekhususan
Didirikan pada tahun 1939, Organisasi Standar Informasi Nasional (NISO) adalah asosiasi non-pemerintah yang berbasis industri, nirlaba.  NISO diakreditasi oleh American National Standards Institute (ANSI) untuk mengidentifikasi, mengembangkan, memelihara, dan menerbitkan standar sukarela berbasis konsensus untuk mengelola informasi.
B.     Saran
Semoga makalah ini menjadi bermanfaat khususnya bagi penyusun dan bagi pembaca semuanya. Serta diharapkan, dengan diselesaikannya makalah ini, baik pembaca maupun penyusun dapat memahami lebih dalam tentang “Peraturan Standar Dalam Teasaurus”.


















DAFTAR PUSTAKA
Pandu Prakasa, Arya, “konstruksit thesaurus korupsi dengan pendekatan literary warrant”, diakses dari https://adoc.tips/queue/konstruksi-tesaurus-korupsi-dengan-pendekatan-literary-warra.html


[2]Pandu Prakasa, Arya, “konstruksit thesaurus korupsi dengan pendekatan literary warrant”, diakses dari https://adoc.tips/queue/konstruksi-tesaurus-korupsi-dengan-pendekatan-literary-warra.htmlpada tanggal 23 Mei 2020
[3]Pandu Prakasa, Arya, “konstruksit thesaurus korupsi dengan pendekatan literary warrant”, diakses dari https://adoc.tips/queue/konstruksi-tesaurus-korupsi-dengan-pendekatan-literary-warra.html   pada tanggal 23 Mei 2020

TOKOH TASAWUF DI INDONESIA

BAB II PEMBAHASAN A.     TOKOH TASAWUF DI INDONESIA Berikut merupakan beberapa tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia: 1.       Hamzah Fan...