Wednesday, 10 June 2020

SUMBER DAYA MANUSIA DALAM ORGANISASI PERPUSTAKAAN

SUMBER DAYA MANUSIA DALAM ORGANISASI PERPUSTAKAAN


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................  i

DAFTAR ISI ............................................................................................................  ii

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .....................................................................................................  1

B. Rumusan Masalah ................................................................................................  1

C. Tujuan ..................................................................................................................  1

PEMBAHASAN

A.    Pengertian  sumber daya manusia........................................................................ 2

B.     Sumber daya manusia dalam organisasi perpustakaan........................................ 4

C.     Peran sumber daya manusia perpustakaan.......................................................... 7

D.    Pembinaan sumber daya manusia........................................................................ 8

E.     Tanggung jawab dan wewenang pustakawan..................................................... 10

PENUTUP

A.    Kesimpulan .........................................................................................................  11

B.     Saran ...................................................................................................................  11

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................  12

 


 

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sumber daya manusia perpustakaan terdiri dari pustakawan, tanaga fungsional lain dan tenaga administrasi berfungsi untuk menggerakkan aktivitas perpustakaan. Kualitas mereka perlu ditingkatkan terus menerus agar mampu mengoptimalkan kinerja dan menggerakkan sumber daya lainnya.

Perlunya peningkatan kualitas karena adanya realitas di lapangan bahwa mereka itu kurang motivasi, rendah kinerja, kurang berani tampil, dan bekerja statis. Hal-hal seperti inilah yang kurang mampu mendorong perkembangan perpustakaan dan profesi pustakawan di negeri ini. Peningkatan sumber daya manusia tidak harus dengan biaya mahal. Maka upaya peningkatan ini dapat dilaksanakan melalui pendidikan formal, informal dan nonformal. Perpustakaan akan bagus apabila memiliki SDM yang unggul dan berkualitas.

B. Rumusan Masalah

1.      Apakah pengertian  sumber daya manusia?

2.      Apa sajakah sumber daya manusia dalam organisasi perpustakaan?

3.      Bagaimana peran sumber daya manusia perpustakaan?

4.      Bagaimana pembinaan sumber daya manusia?   

5.      Bagaimana tanggung jawab dan wewenang pustakawan?

C. Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian  sumber daya manusia

2.      Untuk mengetahui sumber daya manusia dalam organisasi perpustakaan

3.      Untuk mengetahui peran sumber daya manusia perpustakaan

4.      Untuk mengetahui pembinaan sumber daya manusia

5.      Untuk mengetahui tanggung jawab dan wewenang pustakawan


                                                                PEMBAHASAN

Sumber Daya Manusia dalam Organisasi Perpustakaan

Peranan SDM di bidang perpustakaan sangat dibutuhkan dalam era globalisasi seiring dengan perkembangan zaman, sumber daya manusia harus menguasai IPTEK. Oleh karena itu, kualitas dan kompetensi sumber daya manusia merupakan suatu keharusan kalau ingin bersaing dan menjadi terdepan. Peranan perpustakaan sebagai pusat informasi dan dokumentasi sangat strategi dalam memacu dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan cara mendekatkan sumber-sumber informasi IPTEK secara luas.

Sumber daya manusia sebagai pelaku utama dalam, segala kegiatan perpustakaan perpustakaan sekarang ini sebagian besar kurang peka terhadap kebutuhan pemakai, tidak tanggap terhadap kritik, masih berpola pada pekerjaan yang rutin dan bersifat pasif. Padahal perpustakaan membutuhkan orang-orang yang profesional dan mempunyai komitmen untuk tanggap terhadap kebutuhan pemakai, membuat hal-hal baru di perpustakaan, bersikap kreatif dan inovatif, mempunyai semangat untuk mengembangkan diri demi kemajuan perpustakaan.

Oleh karena itu, kompetensi dan profesionalisme tenaga perpustakaan perlu didongkrak sehingga dapat memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang dan tantangan uuntuk menciptakan bentuk-bentuk layanan baru, meningkatkan layanan yang diharapkan pengguna dan mengubah image tentang tenaga perpustakaan.

A.    Pengertian Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia adalah faktor sentral dalam suatu organisasi, apapun bentuk serta tujuannya organisasi dibuat, berdasarkan visi, misi dan tujuan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dilakukan oleh manusia, jadi manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan institusi/organisasi.[1] Manusia atau yang sering disebut sumber daya manusia, termasuk didalamnya sumber daya otak (brain). Di dalam manajemen unsur manusia merupakan yang paling utama. Sebab semuanya berawal dari unsur manusia tersebut. Manusia di dalam manajemen mencakup semua faktor yang mempengaruhi, mewarnai dan melingkupinya.[2] Unsur manusia meliputi beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain meliputi:

a)      Jumlah harus sesuai dengan formasi dan kebutuhan,

b)      Persyaratan, seperti pendidikan, kemampuan, ketrampilan, pengalaman,

c)      Komposisi, misalnya unsur pimpinan, unsur pelaksana, teknis, unsur administrasi.

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai harkat, martabat dan derajat, dan harga diri dan kehormatan sebagai makhluk yang paling mulia di dunia yang harus dihargai dan ditempatkan sebagaimana mestinya. Manusia juga mempunyai kepribadian, kemauan keinginan, kehendak, ide, gagasan dan pikiran yang membedakannya dengan makhluk-makhluk yang lain sangat menentukan dan diperukan. Unsur manusia sebagai sumber daya manusia mencakup :

a)      Perencanaan kebutuhan, berapa yang dibutuhkan oleh perpustakaan,

b)      Seleksi, melalui kualifikasi, persyaratan, penempatan, sesuai dengan kemampuan dan tempat jobnya,

c)      Penempatan yang sesuai dengan kemampuan dan posisi atau jabatan,

d)      Pembinaan, mencakup karier, dan jabatan, peningkatan kemampuan melalui pendidikan, pelatihan, dan pendidikan non-formal serta pelatihan dalam jabatan, magang, dan lain-lain, peningkatan kesejahteraan seperti gaji, pendapatan tabahan, pakaian dinas (seragam), koperasi, dan lain lain.

Pemberian rasa aman, tentram, dan suasana kerja yang menyenangkan, lalu kesempatan berkembang dan berkarier. Penghargaan atas prestasi (reward) dan hukum kepada yang melakukan kelalaian  yang seimbang dan bersifat mendidik, bukan bersifat mematikan karier. Hukuman itu bukan atas dasar dendam pribadi dan lain lain. kegiatan yang terakhir adalah pension. Setelah mencapai masa usia tertentu, dan dikembalikan kepada masyarakat. Pengembalian tersebut sebaiknya disertai pengahargaan yang wajar, membanggakan, sebagai bentuk terima kasih atas dedikasi, pengabdian, darma bakti kepada organiasi (perpustakaan) selama puluhan tahun. Penghargaan lebih lanjut mungkin diusahakan adanya tali hubungan yang berlanjut yang informal bersifat personal contact, Meskipun secara formal sudah terputus, namun secara kekeluargaan, perlu dibina hubungan yang baik, karena ada ikatan batin, emosional dan kebanggaan organisasi (semangat korps). Pembinaan pegawai yang berorientasi kepada dasar atau segi kemanusiaan dapat dilakukan. Menurut Abraham Maslow tentang Teori Motivasi Manusia adalah:

 

1)      Manusia itu merupakan makhluk yang berkemauan. Kemauannya banyak dan tidak akan berkurang, malahan sebaliknya makin bertambah. Apa yang dikehendaki berpangkal pada apa yang telah dia punyai. Begitu kebutuhannya dipenuhi. maka muncullah yang baru dan demikian berlangsung terus mulai lahir sampai meninggal.

 

2)      Kebutuhan manusia yang sudah terpenuhi sudah bukan motivator perilaku manusia lagi. Hanya kebutuhan nyata yang belum terpenuhi atau terpenuhi yang dipergunakan oleh manajer sebagai motivator.

 

3)      Tingkatan-tingkatan kebutuhan manusia yaitu membedakan tingkat kebutuhan manusia menjadi faktor-faktor dasar sikap kelakuannya, yakni:

a.       Kebutuhan fisiologis atau biologis yaitu kebutuhan hidup misalnya harus lapar, seks semua itu secara fisik harus dipenuhi.

b.      Kebutuhan rasa aman dan kepastian nasib, baik aman dari gangguan orang lain, aman dari segi ekonomi, dan aman lahir batin dan kepastian nasib, misalnya tentang pekerjaan, masa depan dan lain-lain.

c.       Kebutuhan sosial, seperti penghargaan orang lain, keberadaan dalam kelompok dan,lingkungan dan lain-lain.

d.      Kebutuhan kebebasan tidak tergantung kepada orang lain, status, bebas dari kekangan orang lain, kehormatan dan lain-lain.

e.        Kebutuhan untuk aktualisasi diri, keinginan swarealisasi. Artinya setiap orang ingin berprakarsa, berekspresi diri memiliki konsep ide atau gagasan yang mungkin dapat diakui, diketahui dan dilaksanakan untuk orang banyak. [3]

 

Teori Maslow tentang kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi tersebut dalam rangka memberikan motivasi kepada orang-orang yang ada di dalam organisasi. Jadi setelah “semua” kebutuhannya tepenuhi diharapkan timbul dorongan dari dalam diri orang yang bcrsangkutan untuk memberikan, menyumbangkan, dan mendedikasikan semua potensi, kemampuan, tenaga dan pikirannya untuk kemajuan organisasi, kemajuan bersama, dan pencapaian tujuan umum, daripada tujuan dan kepentingan pribadi atau kelompoknya saja.

Faktor manusia dapat dikatakan paling unik, sebab berbeda dengan unsur-unsur yang lain di dalam manajemen. Keunikannya misalnya, manusia banyak kemauan, keinginan, dan tuntutan. Sebaliknya ia juga mempunyai pikiran, ide dan gagasan, Manusia mempunyai potensi yang dapat dikembangkan, dipupuk, disalurkan untuk kepentingan organisasi. Manusia juga memiliki sifat-sifat negatif, seperti sifat ambisius, malas, kurang loyal, dan sifat iri terhadap yang lain. Sifat-sifat tersebut apabila tidak dikendalikan dengan baik dan karena satu dan lain hal bahkan sulit terkontrol akan dapat menjadi kendala, penghambat, bahkan merong-rong organiasi. Seorang manajer atau pemimpin sebaiknya dapat membaca, mempelajari, dan menganalisis semua faktor yang terdapat pada diri para bawahan. Selanjutnya berusaha mengembangkan hal-hal yang positif, dan menekan hal-hal yang bersifat negatif secara arif dan bijaksana.

 

B.     Sumber Daya Manusia dalam Perpustakaan

Pada dasarnya maju atau mundumya sebuah perpustakaan akan sangat ditentukan oleh manusia-manusia yang mempunyai ide, gagasan, dan konsep yang berlian, cemerlang, dan mempunyai semangat untuk mengabdikan dirinya kepada kemajuan organisasi. Oleh karena itu perpustakaan sebaiknya memiliki tenaga-tenaga ahli pemikir, perencana, dan pelaksana yang andal, bermental dan bermoral jujur, disiplin, mau berkorban dan bermotivasi bekerja. Orang yang bertugas dalam mengelola dan mengembangkan perpustakaan adalah pustakawan. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.

Agar dapat memberikan layanan yang baik sesuai dengan fungsinya, perpustakaan memerlukan tenaga yang memadai baik dari jumlah dan kualitas yang harus dimilikinya. Jumlah dan kualitas dari tenaga pustakawan atau mereka yang bekerja di lingkungan perpustakaan sangat tergantung dari jenis perpustakaan serta cakupan tugas yang harus dilaksanakannya. Dengan demikian kualifikasi tenaga untuk masing-masing jenis perpustakaan tentunya juga berbeda. Kualitas Sumber daya manusia dalam organisasi perpustakaan tentu akan sangat berpengaruh terhadap kualitas perpustakaan yang dikelola.

Perpustakaan harus memiliki dana yang mencukupi dan berlanjut untuk tenaga yang terlatih, materi perpustakaan, teknologi dan fasilitas serta aksesnya harus bebas biaya. Sumber daya manusia terdiri dari pustakawan (ahli dan terampil), staff administrasi dan tenaga TI atau staff lain yang berminat dibidang perpustakaan.

Pada umumnya perpustakaan di Indonesia belum memiliki sumber daya manusia sebagai pengelola perpustakaan secara baik dan memadai, kenyataan di lapangan menunjukkan perpustakaan dikelola oleh orang bukan berlatar belakang jurusan ilmu perpustakaan. Kondisi ini mengindikasikan sebagian besar perpustakaan belum memiliki karyawan yang berlatar belakang pendidikan perpustakaan dan tidak profesional dalam menempatkan tenaga sebagai pengelola perpustakaan. Akibatnya perpustakaan seperti ini tidak mungkin diandalkan untuk memberikan layanan perpustakaan secara baik dan maksimal. Jika layanan yang diberikan itu rendah, akibatnya pemanfaatan koleksi perpustakaan oleh pemakai juga rendah, sehingga bagaimana pun komplitnya koleksi suatu perpustakaan tanpa didukung oleh layanan yang berkualitas akan menyebabkan koleksi tidak dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Oleh sebab itu, untuk tercapainya fungsi dan tujuan perpustakaan sebagaimana yang diimpikan. Merteka memiliki beban, tugas dan tanggung jawab yang berat dibandingkan dengan pelaksanaan administrasi teknis pada umumnya.

Berikut ini gambaran kualifikasi kemampuan tenaga pustakawan berdasarkan jenjang pendidikan, atau guru bidang studi yang diberi tugas tambahan sebagai penanggung jawab atau pengelola perpustakaan.

1.      Jenjang Pendidikan SLTA ditambah Kursus/Diklat Bidang Perpustakaan:

a)      mengetahui dasar keterampilan bidang lulusannya,

b)      mengembangkan pengetahuan sesuai dengan derajad pendidikan yang diperoleh,

c)      memiliki kemampuan tingkat dasar dalam membantu kegiatan perpustakaan,

d)      merencanakan serta mengembangkan pada peringkat dasar, segala sumber daya kegiatan perpustakaan,

e)      Menunjukkan sikap dan perilaku yang baik dan berdedikasi sebagai tenaga pustakawan dalam memberikan pelayanan perpustakaan

2.      Jenjang Pendidikan D II Perpustakaan, diharapkan memiliki kualifikasi:

a)      mengetahui dasar-dasar dari ilmu pengetahuan dan teknologi

b)      memahami pengetahuan yang bersangkutan dengan perpustakaan dan informasi

c)      melaksanakan dengan terampil pekerjaan rutin perpustakaan

d)      menunjukkan sikap dan perilaku profesional sebagai pustakawan ahli dalam memberikan pelayanan perpustakaan.

e)      mengembangkan pengetahuan sesuai dengan derajad pendidikan yang diperoleh

f)       merencanakan serta mengembangkan pada peringkat menengah, segala sumber daya kegiatan perpustakaan.

3.      Jenjang Pendidikan Sl Perpustakaan, diharapkan memiliki kualifikasi:

a)      berjiwa Pancasila dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi,

b)      bersifat terbuka, tanggap terhadap perubahan dan kemajemukan ilmu dan teknologi maupun masalah yang dihadapi masyarakat khususnya yang berkaitan dengan bidang keahliannya,

c)      menetapkan pengetahuan dan keterampilan teknologi yang dimilikinya sesuai dengan bidang keahliannya dalamkegiatan produktifdanpelayanan kepada masyarakat,

d)      menguasai dasar-dasar ilmiah serta pengetahuan dan teknologi bidang keahliannya sehingga mampu menemukan,

e)      memahami, menjelaskan dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang berlaku di dalam kawasan keahliannya,

f)       menguasai dasar-dasar ilmiah sehingga mampu berpikir sesuai dengan bidangnya,

g)      mampu mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bidangnya. [4]

Pada kasus-kasus tertentu dimana sulit diperoleh tenaga pustakawan dengan kualifikasi yang memadai, perpustakaan sekolah menugaskan guru bidang studi sebagai guru pembina perpustakaan. Agar dapat melaksanakan tugas-tugas dengan baik maka petugas perpustakaan membutuhkan pembinaan. baik pembinaan karir sebagai tenaga pustakawan maupun pembinaan terhadap semangat kerja.

Selain pembinaan kemampuan petugas dan semangat kerja maka pustakawan perlu dibina karinya. Pembinaan karir pustakawan khususnya pustakawan yang berstatus pegawai negeri dan memangku iabatan fungsional pustakawan telah diatur dalam Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN) No 33 tahun 1998 tentang jabatan fungsional pustakawan. Dalam Keputusan MENPAN No 33 tahun 1998 diatur syarat masuk ke jabatan fungsional pustakawan, cara kenaikan pangkat, serta kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan sebagai pemangku jabatan fungsional pustakawan. [5]

C.    Peran Sumber Daya Manusia Perpustakaan

Tenaga perpustakaan menurut Depdiknas sebagaiknya terdiri dari pustakawan, asisten pustakawan, tenaga administrasi, dan tenaga fungsional lainnya sebagai berikut:

a)      Pustakawan dengan pendidikan paling rendah sarjana atau S1 dalam bidang ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi (pusdokinfo) atau S1 bidang lain yang memiliki kompetensi dalam pengelolaan perpustakaan dengan tegas keprofesian dalam bidang perpustakaan.

b)      Asisten pustakawan dengan pendidikan ilmu perpustakaan tingkat diploma dalam bidang ilmu perpustakaan (pusdokinfo) dengan tugas melaksanakan tugas penunjang keprofesian dalam bidang perpustakaan.

c)      Tenaga fungsional lain dengan pendidikan kejuruan atau keahlian tingkat sarjana dengan tugas melaksanakan pekerjaan penunjang keprofesian seperti penata computer dan kearsipan.

d)      Tenaga administrasi dengan tugas melaksanakan kegiatan kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, perlengkapan, penjilidan, perlistrikan, grafika, dan lain-lain.[6]

Adanya pembagian sdm tersebut diharapkan ada keserasian kerja antar petugas perpustakaan saling mendukung dalam pencapaian tujuan perpustakaan dan tidak menjadi tumpang tindih dalam pembagian/ jobdeskcription.

Peran SDM perpustakaan sanagt menentukan terwujudnya fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar para civitas akademika dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Sumber informasi yang mudah diakses oleh pencari dan pengguna informasi, sebagai tempat untuk mendapatkan sumber-sumber primer dan sekunder untuk melakukan penelitian dan pengkajian ilmu pengetahuan, mengembangkan kreativitas, minat dan daya inovasi pengguna perpustakaan, dan membantu melakukan publikasi karya yang dihasilkan oleh civitas akademika.

Pengelolaan perpustakaan pada bagian pengembangan koleksi memerlukan sdm yang bertugas mencari informasi judul-judul buku dan majalah melalui internet. Sehingga pekerjaannya lebih cepat diselesaikan dan lebih mudah dilakukan. Dapat juga melanggan jurnal secara online atau dalam bentuk CD Room.

Pengelolaan bahan pustaka memerlukan SDM yang mempunyai tingkat analisis yang tinggi terhadap pengklasifikasian bahan pustaka, penentuan subjek, entri data dan pembuatan catalog sehingga bahan pustaka yang baru dapat dimanfaatkan oleh pengguna secara cepat dan mudah ditemukan di rak.

Sedangkan dibagian pelayanan pengguna diperlukan SDM yang bertindak cepat dan tepat dalam memberikan pelayanan, menyediakan sarana penelusuran yang dapat mengakses secara luas misalnya pengguna internet dan peminjaman koleksi antar perpustakaan yang dilakukan secara elektronis. SDM dibagian ini harus berjiwa smart yang berarti siap mengutamakan pelayanan, menyenangkan dan menarik, antusias atau bangga pada profesi, ramah dan menghargai penggunan jasa, dan tabah ditengah kesulitan.

Pengembangan teknologi informasi yang cepat memungkin SDM untuk melakukan penyimpanan dan pendayagunaan informasi dan pengetahuan yang lebih menarik interaktif dan mudah diapahami melalui visualisasi multimedia yang berupa teks, suara, gambar, dan animasi atau film. Melalui visualisasi multimedia ini akan mengubah paradigm belajar dari hanya melihat dan membaca menjadi paradigma belajar dengan membaca, melihat, mendengar, mengamati dan mengerjakan.

 

D.    Pembinaan Sumber Daya Manusia

Ada tiga jenis pembinaan sumber daya manusia dalam organisasi perpustakaan yaitu pembinaan kkmemampuan petugas, pembinaan moral petugas dan pembinaan karir pustakawan melalui jabatan fungsional

1.      Pembinaan Kemampuan Petugas

Pembinaan kemampuan petugas perpustakaan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas perpustakaan. Untuk mencapai ini harus diketahui terlebih dahulu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh masing-masing petugas, misalnya kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh petugas pelayanan teknis, kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh petugas pelayanan pembaca, sehingga segala aktivitas pembinaan dapat diarahkan kepada pencapaian kemampuan dasar tersebut.

Metode yang dapat digunakan untuk membina kemampuan petugas perpustakaan bermacam-macam, dan masing-masing metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan.

Metode-metode tersebut antara lain adalah bimbingan, pendidikan formal, kursus, penataran, workshop, diskusi, seminar, ceramah, dan sebagainya. Metode lain yang tidak terlalu formal dan tidak banyak menghabiskan biaya adalah kunjungan antar petugas perpustakaan. Tujuan kunjungan ini adalah untuk belaiar dari pengalaman petugas perpustakaan lain. Melalui kunjungan ini kedua belah pihak baik yang dikunjungi maupun yang mengunjungi dapat mengadakan sharing of experience, misalnya dalam hal bagaimana petugas perpustakaan lain membuat program pengembangan perpustakaan, bagaimana petugas perpustakaan membina minat baca, bagaimana petugas perpustakaan melayani pengunjung, dan sebagainya.

2.       Pembinaan Moral Kerja Pustakawan

Selain pembinaan kemampuannya, moral kerja petugas perpustakaan harus juga dibina agar mereka memiliki moral kerja yang tinggi. Moral kerja yang tinggi akan meningkatkan  i produktivitas. Artinya seseorang yang memiliki moral kerja yang tinggi akan mengerjakan tugas-tugasnya dengan sebaik-baiknya sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih banyak dan lebih baik. Begitu pula apabila semua petugas perpustakaan memiliki moral kerja yang tinggi akan produktif. Mereka selalu masuk kerja, tidak pemah datang terlambat, rajin mengerjakan tugas-tugas, pulang tepat pada waktunya, penuh kegembiraan dalam mengerjakan tugas-tugas, ikut serta dalam kegiatankegiatan sosial dan sebagainya. Sebaliknya apabila semua atau sebagian petugas perpustakaan tidak memiliki moral kerja yang tinggi mereka akan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan, seperti pemogokan, lalai bekerja, sering terlambat, sering tidak hadir, dan sebagainya.

3.      Pembinaan Karir Pustakawan Melalui Jabatan Fungsional

Pemerintah mulai memberikan kesempatan berkarir secara terbuka bagi pegawai negeri sipil dengan melalui penetapan jabatan fungsional untuk berbagai bidang seperti guru, dokter. dosen, peneliti, pranata komputer, arsiparis, perekayasa, paramedis, penilai mutu barang dan pustakawan. Kesempatan berkarir secara terbuka artinya bahwa pegawai negeri sipil yang memilih jalur jabatan fungsional dapat naik pangkat pada jenjang yang tertinggi di kepangkatan pegawai negeri sipil yaitu IV/e. Perlu diketahui bahwa jabatan fungsional sifatnya adalah pilihan secara sukarela, sehingga implikasi dari jabatan yang dipilihnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemangku jabatan fungsional tersebut. Karena sifatnya sukarela, maka pada satu lembaga (instansi) seperti misalnya perpustakaan ada pegawai yang memilih jalur fungsional namun juga ada yang memilih karimya sebagai pegawai administrasi.[7]

Pengertian jabatan fungsional adalah suatu jabatan yang memberikan kesempatan pada pegawai negeri sipil untuk mencapai karirnya dengan memilih menurut keyakinan dan kemampuan pribadi masing-masing mengenai jenis pekerjaan yang akan ditempuh serta arti pekerjaan tersebut bagi instansi maupun dirinya sendiri. Dengan demikian dalam jabatan fungsional pustakawan, maka si pemangku jabatan dengan sadar dan dengan kemauannya sendiri menentukan pilihan karimya melalui jabatan fungsional yang disandangnya.

E.     Tanggung jawab dan Wewenang Pustakawan

Tanggung jawab Pustakawan pratama adalah terselesaikannya secara profesional pekerjaan kepustakawanan yang bersifat analisis sederhana yang menjadi tugas pokoknya dengan memilih dan menentukan metode kerja yang sesuai untuk melaksanakan tugas pokok tersebut agar dicapai hasil yang optimal. Tanggung jawab pustakawan muda adalah terselesaikannya secara profesional pekerjaan kepustakawanan yang besifat analisis menengah yang menjadi tugas pokoknya dengan memilih dan menentukan metode kerja yang sesuai untuk melaksanakan tugas pokok tersebut agar dicapai hasil yang optimal. Tanggung jawab Pustakawan Madya adalah terselesaikanya secara profesional pekerjaan kepustakawanan yang bersifat analisis kompleks yang menjadi tugas pokoknya dengan memilih dan menentukan metode kerja yang sesuai untuk melaksanakan tugas pokok tersebut agar dicapai hasil yang optimal. Tanggung jawab Pustakawan Utama adalah terselesaikannya secara profesional pekerjaan kepustakawanan yang bersifat analisis kompleks dan pengembangannya yang menjadi tugas pokoknya dengan memilih dan menentukan metode kerja yang sesuai untuk melaksanakan tugas pokok tersebut agar dicapai hasil yang optimal.[8]


 

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Sumber daya manusia adalah faktor sentral dalam suatu organisasi, apapun bentuk serta tujuannya organisasi dibuat, berdasarkan visi, misi dan tujuan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dilakukan oleh manusia, jadi manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan institusi/organisasi. Sumber daya manusia dalam perpustakaan  terdiri dari pustakawan (ahli dan terampil), staff administrasi dan tenaga TI atau staff lain yang berminat dibidang perpustakaan. Peran sdm perpustakaan sanagt menentukan terwujudnya fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar para civitas akademika dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Ada tiga jenis pembinaan sumber daya manusia dalam organisasi perpustakaan yaitu pembinaan kemampuan petugas, pembinaan moral petugas dan pembinaan karir pustakawan melalui jabatan fungsional. Tanggung jawab Pustakawan adalah terselesaikannya secara profesional pekerjaan kepustakawanan yang bersifat analisis sederhana yang menjadi tugas pokoknya dengan memilih dan menentukan metode kerja yang sesuai untuk melaksanakan tugas pokok tersebut agar dicapai hasil yang optimal.

 

B.     Saran

Dari kesimpulan di atas penulis menyarankan agar kita sebagai mahasiswa/i jurusan ilmu perpustakaan mengetahui  apa saja sumber daya manusia dalam organisasi perpustakaan, serta terus mempelajari tugas, wewnang serta tanggung jawab pustakawan . Agar kita bisa menjadi seorang pustakawan yang berkompeten dalam bidang perpustakaan dan mampu mengikuti arus perkembangan teknologi informasi yang dapat berorientasi sesuai kebutuhan pengguna sehingga perpustakaan tidak terdistrupsi pada era milenial saat ini.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Sudirman dkk. 2019. Manajemen Perpustakaan. Riau: Indragiri

Darmono. 2018. Manajemen dan Tata Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Grasindo.

Larasati, Sri. , 2018. Manajemen Sumber Daya Manusi. Yogyakarta: Deepublish.

Maslow, Abraham . 1954. Motivation and Personality. New York: Harper.

Sutarno. 2006. Manajemen Perpustakaan: Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Sagung Seto.

 



[1] Sri Larasati, Manajemen Sumber Daya Manusia,(Yogyakarta: Deepublish, 2018) Hlm. 1

[2] Sutarno NS, Manajemen Perpustakaan: Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: Sagung Seto, 2006) Hlm. 160-161

[3] Abraham  Maslow, Motivation and Personality (New York: Harper, 1954)

[4] Darmono, Manajemen dan Tata Perpustakaan Sekolah, (Jakarta: Grasindo, 2018) Hlm. 220-221

[5]Ibid, Hlm. 223

[6] Sudirman Anwar dkk, Manajemen Perpustakaan, (Riau: Indragiri, 2019) Hlm. 100-101

[7] Darmono, Manajemen dan Tata Perpustakaan Sekolah, (Jakarta: Grasindo, 2018) Hlm. 223

[8] Ibid, Hlm. 233


No comments:

Post a Comment

TOKOH TASAWUF DI INDONESIA

BAB II PEMBAHASAN A.     TOKOH TASAWUF DI INDONESIA Berikut merupakan beberapa tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia: 1.       Hamzah Fan...