STRES KERJA DALAM
PERPUSTAKAAN
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar
Belakang
Pustakawa yang dalam kesehariannya selain
memberikan pelayanan kepada pengguna juga melakukan pekerjaan administrative
dan pekerjaan rutin, seperti penyeleksian bahan pustaka, pengolahan bahan
pustaka, serta perawatan bahan pustaka. Bekerja melayani pengguna dengan
beragam jenis kebutuhan dan pertanyaan yang mereka ajukan membutuhkan banyak
energi dan harus bersifat sabar serta dapat memahami apa yang mereka inginkan.
Keseluruhan pekerjaan tersebut merupakan beban kerja yang berat bagi seorang
pustakawan
Jika
seseorang dihadapkan pada tuntunan pekerjaaan yang melampaui kemampuan
individu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut mengalami stress kerja.
Pemicu stress (stressor) di dunia
perpustakaan Antara lain adalah Renumerasi yang rendah, beban kerja yang berat,
lemahnya managemen dan sistem pengawasan, rendahny apresiasi masyarakat
pengguna terhadap profesi pustakawan, serta kurang jelasnya jenjang karir
pustakawan.
Banyaknya
jumlah pengguna yang harus dilayani, jam kerja yang panjang, serta tingkat
kesulitan pekerjaaan yang harus ditangani, sangat potensial menjadi pemicu
timbulnya stress pustakawan, selain itu beberapa pustakawan kadag-kadang
menunjukkan gejala-gejala timbulnya stress kerja Antara lain lekas marah,
kebosanan kerja, menunda dan menghindari pekerjaan, serta menurunnya kualitas
hubungan interpersonal dengan teman.
- Rumusan
masalah
- Apa
yang dimaksud dengan stess kerja dan factor-faktor yang mempengaruhi
stress kerja?
- Apa
saja indikator dalam stress kerja?
- Upaya
apa saja yang di lakukan untuk mengurangi stress kerja?
- Tujuan:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan
stess kerja dan factor-faktor yang mempengaruhi stress kerja
2. Untuk mengetahui apa saja indikator dalam
stress kerja
3. Untuk mengetahui upaya apa saja yang di lakukan untuk mengurangi stress kerja
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian stres kerja
Menurut Phil Kitcel,
Stres kerja merupakan respons fisik dan emosional pada kondisi kerja yang
berbahaya, termasuk lingkungan dimana pekerjaan memerlukan kapabilitas, sumber
daya, atau kebutuhan pekerja lebih banyak.[1]
Dari perspektif orang
biasa, stres dapat digambarkan sebagai perasaan tegang, gelisah, atau khawatir.
Secara ilmiah semua perasaan ini merupakan manifestasi dari pengalaman stres,
suatu respons terprogram yang kompleks untuk mempersepsikan ancaman yang dapat
menimbulkan hasil yang positif maupun negatif. Istilah stres sendiri telah didefinisikan secara harfiah
dalam berbagai literatur. Akan tetapi, hampir semua definisi ini dapat
ditempatkan dalam dua kategori, stres dapat didefinisikan sebagai suatu
stimulus atau suatu respons.
Definisi stres sebagai
suatu stimulus menganggap stres sebagai sejumlah karakteristik atau peristiwa
yang mungkin menghasilkan konsekuensi yang tidak beraturan. Dalam hal ini
definisi tersebut merupakan definisi teknis dari stres, dipinjam dari ilmu
fisika. Dalam ilmu fisika stres merujuk pada kekuatan luar yang di aplikasikan
suatu objek. Dalam definisi stres menurut respons, stres dilihat secara
sebagian sebagai suatu respon terhadap sejumlah stimulus yang di sebut Stressor.
Sebuah Stressor merupakan peristiwa atau situasi eksternal yang secara
potensial mengancam dan berbahaya. Akan tetapi, stres lebih dari hanya sekedar
sebuah respons terhadap suatu Stressor. Dalam definisi respons, stres
merupakan konsekuensi dari interaksi antara suatu stimulus lingkungan dan
respon individual. Ini berarti stres merupakan interaksi unik antara kondisi
stimulus dalam lingkungan dan cara individu untuk merespons dengan cara
tertentu.[2]
B. Faktor-faktor penyebab stress
Menurut Cooper yang
dikutip oleh Towner (2002 : 19) menyatakan bahwa, “Stres adalah tekanan yang
terlalu besar bagi kita”. Ditambahkan Berry (2004 : 528), “Stress: a
physiological response of the body to environmental of personal demands”.
Ada banyak faktor yang menjadi penyebab
timbulnya stres kerja pustakawan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Sulistyo-Basuki (2006 : 67-68) mengutip pernyataan Caputto (1991) yang
mengidentifikasikan bahwa Pemicu stress (stressor) di dunia perpustakaan antara
lain adalah renumerasi yang rendah, beban kerja yang berat, lemahnya manajemen
dan sistem pengawasan, rendahnya apresiasi masyarakat pengguna terhadap profesi
pustakawan, serta kurang jelasnya jenjang karir pustakawan. Selain itu hal lain
yang juga merupakan faktor penyebab timbulnya stres kerja pustakawan adalah teknologi informasi. Sulityo-Basuki
(2006 : 68-69) menyatakan bahwa: Stressor yang menghantui para pustakawan dalam
satu decade ini adalah penetrasi teknologi informasi ke berbagai kegiatan
in-griya perpustakaan yang tidak diimbangi dengan program pelatihan dan
peningkatan kemampuan mengelola teknologi informasi sehingga menimbulkan
technostress
a) Renumerasi yang Rendah
Berkaitan dengan
penghasilan pustakawan, Sulistyo-Basuki (1991 : 189) menyatakan bahwa: Karyawan
harus diberi insentif atas usaha dan pekerjaannya yang baik. Sudah tentu, untuk
imbalan ini, gaji pada pegawai perpustakaan harus sama dengan gaji karyawan
lain pada badan induk, selama kualifikasinya sama. Keadaan ini tidak selalu
berlaku bagi banyak negara berkembang termasuk Indonesia. Gaji pustakawan yang
bekerja pada pemerintah relatif lebih kecil dibandingkan dengan rekannya yang
bekerja di kantor swasta, walaupun kualifikasiya sama. Pendapat serupa yang
juga menyatakan bahwa gaji pustakawan relatif lebih kecil dibandingkan dengan
profesi lainnya dinyatakan oleh Aziz (2006 : 48) yakni: Tunjangan jabatan
fungsionalpustakawan relatif lebih kecil dibandingkan dengan jabatan fungsional
bidang lain dan jabatan struktural. Dengan tunjangan dan jabatan yang relatif
kecil ini, tidak memberi motivasi orang-orang menjadi pustakawan, sedangkan
bagi pustakawan sendiri tidak lagi tertarik untuk terus duduk dalam jabatan
tersebut.
b)
Beban
Kerja yang Berat
Sulistyo-Basuki (2006
:66-67) berpendapat bahwa: Beban kerja pustakawan perguruan tinggi secara
kuantitatif meliputi jam kerja yang panjang karena banyaknya jumlah individu
yang harus dilayani, dan menyebabkan tanggung jawab ekstra yang harus dipikul.
Sedangkan contoh beban kerja dari aspek kualitatif adalah tingkat kesulitan
pekerjaan yang harus ditangani. Beban kerja kuantitatif dan kualitatif ini
masih ditambah dengan pekerjaan rutin serta pekerjaan administratif lainnya,
yang kesemuanya melampaui kapasitas dan kemampuan pustakawan.
c)
Lemahnya
Manajemen dan Sistem Pengawasan
Berkaitan dengan
lemahnya proses manajemen yang menjadi pemicu timbulnya stres kerja, Rice
(1992) dalam Rini (2002 : 6) menyatakan bahwa: Sebuah penelitian yang menarik
tentang
stres kerja menemukan bahwa sebagian besar
karyawan yang bekerja di suatu organisasi mengalami stres kerja karena konflik
peran. Mereka mengalami stres kerja karena ketidak jelasan peran dalam bekerja
dan tidak tahu apa yang diharapkan oleh manajemen.
Hal ini juga sesuai
dengan pendapat Greenberg yang telah dibahas sebelumnya bahwa salah satu faktor
penyebab stres kerja adalah peran dalam organisasi yakni: ketidakjelasan peran,
konflik peran, pertanggungjawaban untuk sesame anggota dan konflik organisasi.
Konflik dalam peran juga dapat diakibatkan oleh tuntutan yang berbeda dalam
pekerjaannya. Perbedaan antara
tuntutan kerja dengan ciri-ciri pribadi dan
kecakapan yang dimilikinya. Atau dapat dikatakan stres kerja itu muncul bila
pekerja tidak mengetahui hasil yang diharapkan dari pekerjaan yang dilakukan.
d)
Rendahnya
Apresiasi Masyarakat Pengguna terhadap Profesi Pustakawan
Berbagai persepsi
masyarakat tentang steriotipe pustakawan sering kali bersifat negatif.
Masyarakat sering kali mendeskripsikan
pustakawan sebagai sosok yang pendiam, kurang
menarik, suka membantah, akrab dengan bukubuku
usang dan debu. Disamping hal tersebut
(Sulistyo-Basuki, 2006 : 63) juga menyatakan bahwa: Pustakawan seringkali
menerima umpan balik yang negative dari masyarakat. Hal ini disebabkan oleh
tuntutan masyarakat yang tinggi terhadap pelayanan sehingga pustakawan sulit
mencapai standar yang diinginkan oleh masyarakat. Seandainya mereka dapat
memenuhi standar tersebut, masyarakat pada umumnya tidak memberi pujian, sebab
masyarakat menganggap bahwa hal tersebut lumrah dan memang
seharusnya seperti itu.
e)
Jenjang
Karir Pustakawan
Pengetahuan, keahlian,
pengalaman kerja, dan pelatihan merupakan modal pokok yang
diperlukan oleh tiap individu dalam upaya
memperoleh peningkatan karir.
Gibson (1997 : 316) menyatakan bahwa, ”Karir
adalah ide untuk terus begerak ke atas dalam garis pekerjaan yang dipilih
seseorang. Bergerak ke atas artinya memperoleh gaji yang lebih
besar, tanggung jawab yang semakin berat,
status, prestise, dan kekuasaan”. Berbagai alternatif karir bertujuan untuk
memberikan motivasi kepada karyawan agar mampu menggali potensi yang ada.
C.
Pengelolaan
Stres
Mendeteksi penyebab stres dan bentuk reaksinya, maka ada 3 pola
mengatasi Stres,yaitu pola sehat, pola harmonis, dan pola psikologis. Pola
Sehat, pola menghadapi stres yang terbaik yaitu dengan kemampuan mengelola
perilaku dan tindakan sehingga adanya stres tidak menimbulkan gangguan, akan
tetapi menjadi lebih sehat dan berkembang. Pola Harmonis, adalah pola
menghadapi stres dengan kemampuan mengelola waktu dan kegiatan secara harmonis
dan tidak menimbulkan berbagai hambatan. Dalam pola ini, individu mampu
mengendalikan berbagai kesibukan dan tantangan dengan cara mengatur waktu
secara teratur.
Pola Patologis, ialah pola menghadapi Stres dengan berdampak berbagai
gangguan fisik maupun sosial-psikologis. Dalam pola ini, individu akan
menghadapi berbagai tantangan dengan cara-cara yang tidak memiliki kemampuan
dan keteraturan mengelola tugas dan waktu. Cara ini dapat menimbulkan
reaksi-reaksi yang berbahaya karena bisa menimbulkan berbagai masalah-masalah
yang buruk.
Melalui penilaian primer dan sekunder, suatu pendekatan untuk
menghadapi Stres di terapkan. Terdapat dua jenis cara untuk menghadapi Stres,
berfokus pada masalah dan emosi. Problem Focused Coping merujuk pada tindakan
yang diambil untuk berhadapan langsung pada sumber stres. Sebagai contoh,
pekerja yang memiliki seorang manajer yang kasar mungkin menghadapinya dengan
cara absen dari tempat kerja. Absen ini akan memungkinkan pekerja tersebut
untuk menyingkir, selama beberapa waktu, dari manajer yang kasar tersebut. Tipe
menghadapi Stres yang kedua adalah emotion-focused coping. Hal ini merujuk pada
langkah-langkah yang di ambil seseorang untuk berhadapan dengan perasaan dan
emosi yang menekan. Sebagai contoh, karyawan yang sering bepergian sebagai
bagian dari pekerjaannya mungkin dapat memperingan perasaan dan emosinya yang
tertekan dengan berolahraga secara teratur atu dengan membaca buku fiksi ringan
atau puisi yang tidak berkenaan dengan pekerjaan. Jika aktivitas untuk
menghadapi Stres ini berhasil, perasaan dan emosi dari karyawan tersebut
terkendalikan.
Untuk mengatasi Stres tersebut dilakukan dengan pendekatan kejiwaan
dan konseling. Sedangkan yang dimaksud konseling adalah pembahasan suatu
masalah dengan seorang karyawan, dengan maksud pokok untuk membantu karyawan
tersebut agar dapat mengatasi masalah secara lebih baik. Konseling bertujuan
untuk membuat orang-orang menjadi efektif dalam memecahkan masalah-masalah.
Cara mengatasi Stres kerja yang lainnya antara lain :
1. Merumuskan kebijaksanaan manajemen dalam membantu para karyawan
menghadapi Stres.
2. Menyampaikan kebijaksanaan tersebut kepada seluruh karyawan
sehingga mereka mengetahui
kepada siapa mereka dapat meminta bantuan dan dalam bentuk apa jika mereka menghadapi Stres.
3. Melatih para manajer dengan tujuan agar mereka peka terhadap
timbulnya gejala-gejala Stres di kalangan para bawahannya
dan dapat mengambil langkah-langkah tertentu sebelum
Stres itu berdampak negatif terhadap prestasi kerja para bawahannya itu.
4. Melatih para karyawan mengenali dan menghilangkan sumber-sumber
Stres.
5. Terus membuka jalur komunikasi dengan para karyawan sehingga mereka
benar-benar diikutsertakan
untuk mengatasi Strea yang di hadapinya.
6. Memantau terus menerus kegiatan organisasi sehingga kondisi yang
dapat menjadi sumber stres dapat
menjadi sumber Stres dapat diidentifikasikan dan dihilangkan secara dini.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Menurut Phil Kitcel, Stres kerja merupakan respons fisik dan emosional
pada kondisi kerja yang berbahaya, termasuk lingkungan dimana pekerjaan
memerlukan kapabilitas, sumber daya, atau kebutuhan pekerja lebih banyak.
Ada banyak faktor yang menjadi
penyebab timbulnya stres kerja pustakawan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Sulistyo-Basuki (2006 : 67-68) mengutip pernyataan Caputto (1991) yang
mengidentifikasikan bahwa Pemicu stress (stressor) di dunia perpustakaan antara
lain adalah renumerasi yang rendah, beban kerja yang berat, lemahnya manajemen
dan sistem pengawasan, rendahnya apresiasi masyarakat pengguna terhadap profesi
pustakawan, serta kurang jelasnya jenjang karir pustakawan.
Karena
Stres sedemikian meluas dan sangat berpotensi mengganggu dalam organisasi harus
memperhatikan cara mengelolanya secara lebih efektif. Dan memang demikian.
Banyak strategi telah dikembangkan untuk membantu dalam mengelola Stres di
tempat kerja. Beberapa untuk individual dan yang lainnya diperuntukkan bagi
organisasi Strategi untuk mengatasi secara individu, Berolahraga, Relaksasi.
- Saran
Dengan
membacanya makalah ini diharapkan pembaca dapat mengetahui apa itu stress kerja
dan penanggulangannya, serta dapat mengaplikasikannya sesuai kebutuhan pembaca.
Daftar Pustaka
Anzizhan dan Syafaruddin.2017 “Psikologi Organisasi dan Management”.
Depok:Prenamadia group.
Soekarman. 2009. “Daftar Tajuk Subyek Untuk
Perpustakaan”. Jakarta : Gunung
Mulia.
Haryanto. 2000. “Inovasi Perpustakaan Sebuah Tantangan Kualitas Layanan Publik”. Malang:
Wineka Media.
[1] Wibowo, Manajemen Perubahan, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 2006, hlm. 52.
[2] John M. Ivancevich dkk, Perilaku dan Manajemen
Organisasi, Erlangga, Jakarta, 2006, hlm. 295.
No comments:
Post a Comment