Thursday, 11 June 2020

STRES KERJA DALAM PERPUSTAKAAN

          

STRES KERJA DALAM PERPUSTAKAAN

   

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Pustakawa yang dalam kesehariannya selain memberikan pelayanan kepada pengguna juga melakukan pekerjaan administrative dan pekerjaan rutin, seperti penyeleksian bahan pustaka, pengolahan bahan pustaka, serta perawatan bahan pustaka. Bekerja melayani pengguna dengan beragam jenis kebutuhan dan pertanyaan yang mereka ajukan membutuhkan banyak energi dan harus bersifat sabar serta dapat memahami apa yang mereka inginkan. Keseluruhan pekerjaan tersebut merupakan beban kerja yang berat bagi seorang pustakawan

            Jika seseorang dihadapkan pada tuntunan pekerjaaan yang melampaui kemampuan individu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut mengalami stress kerja. Pemicu  stress (stressor) di dunia perpustakaan Antara lain adalah Renumerasi yang rendah, beban kerja yang berat, lemahnya managemen dan sistem pengawasan, rendahny apresiasi masyarakat pengguna terhadap profesi pustakawan, serta kurang jelasnya jenjang karir pustakawan.

            Banyaknya jumlah pengguna yang harus dilayani, jam kerja yang panjang, serta tingkat kesulitan pekerjaaan yang harus ditangani, sangat potensial menjadi pemicu timbulnya stress pustakawan, selain itu beberapa pustakawan kadag-kadang menunjukkan gejala-gejala timbulnya stress kerja Antara lain lekas marah, kebosanan kerja, menunda dan menghindari pekerjaan, serta menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan teman.

 

  1. Rumusan masalah
  1. Apa yang dimaksud dengan stess kerja dan factor-faktor yang mempengaruhi stress kerja?
  2. Apa saja indikator dalam stress kerja?
  3. Upaya apa saja yang di lakukan untuk mengurangi stress kerja?

 

  1. Tujuan:

1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan stess kerja dan factor-faktor yang mempengaruhi stress kerja

2.      Untuk mengetahui apa saja indikator dalam stress kerja

3.      Untuk mengetahui  upaya apa saja yang di lakukan untuk mengurangi stress kerja

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.   Pengertian stres kerja

Menurut Phil Kitcel, Stres kerja merupakan respons fisik dan emosional pada kondisi kerja yang berbahaya, termasuk lingkungan dimana pekerjaan memerlukan kapabilitas, sumber daya, atau kebutuhan pekerja lebih banyak.[1]

Dari perspektif orang biasa, stres dapat digambarkan sebagai perasaan tegang, gelisah, atau khawatir. Secara ilmiah semua perasaan ini merupakan manifestasi dari pengalaman stres, suatu respons terprogram yang kompleks untuk mempersepsikan ancaman yang dapat menimbulkan hasil yang positif maupun negatif. Istilah stres  sendiri telah didefinisikan secara harfiah dalam berbagai literatur. Akan tetapi, hampir semua definisi ini dapat ditempatkan dalam dua kategori, stres dapat didefinisikan sebagai suatu stimulus atau suatu respons.

Definisi stres sebagai suatu stimulus menganggap stres sebagai sejumlah karakteristik atau peristiwa yang mungkin menghasilkan konsekuensi yang tidak beraturan. Dalam hal ini definisi tersebut merupakan definisi teknis dari stres, dipinjam dari ilmu fisika. Dalam ilmu fisika stres merujuk pada kekuatan luar yang di aplikasikan suatu objek. Dalam definisi stres menurut respons, stres dilihat secara sebagian sebagai suatu respon terhadap sejumlah stimulus yang di sebut Stressor. Sebuah Stressor merupakan peristiwa atau situasi eksternal yang secara potensial mengancam dan berbahaya. Akan tetapi, stres lebih dari hanya sekedar sebuah respons terhadap suatu Stressor. Dalam definisi respons, stres merupakan konsekuensi dari interaksi antara suatu stimulus lingkungan dan respon individual. Ini berarti stres merupakan interaksi unik antara kondisi stimulus dalam lingkungan dan cara individu untuk merespons dengan cara tertentu.[2]

 

B.    Faktor-faktor penyebab stress

Menurut Cooper yang dikutip oleh Towner (2002 : 19) menyatakan bahwa, “Stres adalah tekanan yang terlalu besar bagi kita”. Ditambahkan Berry (2004 : 528), “Stress: a physiological response of the body to environmental of personal demands”.

  Ada banyak faktor yang menjadi penyebab timbulnya stres kerja pustakawan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulistyo-Basuki (2006 : 67-68) mengutip pernyataan Caputto (1991) yang mengidentifikasikan bahwa Pemicu stress (stressor) di dunia perpustakaan antara lain adalah renumerasi yang rendah, beban kerja yang berat, lemahnya manajemen dan sistem pengawasan, rendahnya apresiasi masyarakat pengguna terhadap profesi pustakawan, serta kurang jelasnya jenjang karir pustakawan. Selain itu hal lain yang juga merupakan faktor penyebab timbulnya stres kerja pustakawan  adalah teknologi informasi. Sulityo-Basuki (2006 : 68-69) menyatakan bahwa: Stressor yang menghantui para pustakawan dalam satu decade ini adalah penetrasi teknologi informasi ke berbagai kegiatan in-griya perpustakaan yang tidak diimbangi dengan program pelatihan dan peningkatan kemampuan mengelola teknologi informasi sehingga menimbulkan technostress

a)      Renumerasi yang Rendah

Berkaitan dengan penghasilan pustakawan, Sulistyo-Basuki (1991 : 189) menyatakan bahwa: Karyawan harus diberi insentif atas usaha dan pekerjaannya yang baik. Sudah tentu, untuk imbalan ini, gaji pada pegawai perpustakaan harus sama dengan gaji karyawan lain pada badan induk, selama kualifikasinya sama. Keadaan ini tidak selalu berlaku bagi banyak negara berkembang termasuk Indonesia. Gaji pustakawan yang bekerja pada pemerintah relatif lebih kecil dibandingkan dengan rekannya yang bekerja di kantor swasta, walaupun kualifikasiya sama. Pendapat serupa yang juga menyatakan bahwa gaji pustakawan relatif lebih kecil dibandingkan dengan profesi lainnya dinyatakan oleh Aziz (2006 : 48) yakni: Tunjangan jabatan fungsionalpustakawan relatif lebih kecil dibandingkan dengan jabatan fungsional bidang lain dan jabatan struktural. Dengan tunjangan dan jabatan yang relatif kecil ini, tidak memberi motivasi orang-orang menjadi pustakawan, sedangkan bagi pustakawan sendiri tidak lagi tertarik untuk terus duduk dalam jabatan tersebut.

b)      Beban Kerja yang Berat

Sulistyo-Basuki (2006 :66-67) berpendapat bahwa: Beban kerja pustakawan perguruan tinggi secara kuantitatif meliputi jam kerja yang panjang karena banyaknya jumlah individu yang harus dilayani, dan menyebabkan tanggung jawab ekstra yang harus dipikul. Sedangkan contoh beban kerja dari aspek kualitatif adalah tingkat kesulitan pekerjaan yang harus ditangani. Beban kerja kuantitatif dan kualitatif ini masih ditambah dengan pekerjaan rutin serta pekerjaan administratif lainnya, yang kesemuanya melampaui kapasitas dan kemampuan pustakawan.

c)      Lemahnya Manajemen dan Sistem Pengawasan

Berkaitan dengan lemahnya proses manajemen yang menjadi pemicu timbulnya stres kerja, Rice (1992) dalam Rini (2002 : 6) menyatakan bahwa: Sebuah penelitian yang menarik tentang

stres kerja menemukan bahwa sebagian besar karyawan yang bekerja di suatu organisasi mengalami stres kerja karena konflik peran. Mereka mengalami stres kerja karena ketidak jelasan peran dalam bekerja dan tidak tahu apa yang diharapkan oleh manajemen.

Hal ini juga sesuai dengan pendapat Greenberg yang telah dibahas sebelumnya bahwa salah satu faktor penyebab stres kerja adalah peran dalam organisasi yakni: ketidakjelasan peran, konflik peran, pertanggungjawaban untuk sesame anggota dan konflik organisasi. Konflik dalam peran juga dapat diakibatkan oleh tuntutan yang berbeda dalam pekerjaannya. Perbedaan antara

tuntutan kerja dengan ciri-ciri pribadi dan kecakapan yang dimilikinya. Atau dapat dikatakan stres kerja itu muncul bila pekerja tidak mengetahui hasil yang diharapkan dari pekerjaan yang dilakukan.

d)      Rendahnya Apresiasi Masyarakat Pengguna terhadap Profesi Pustakawan

Berbagai persepsi masyarakat tentang steriotipe pustakawan sering kali bersifat negatif.

Masyarakat sering kali mendeskripsikan pustakawan sebagai sosok yang pendiam, kurang

menarik, suka membantah, akrab dengan bukubuku usang dan debu.  Disamping hal tersebut (Sulistyo-Basuki, 2006 : 63) juga menyatakan bahwa: Pustakawan seringkali menerima umpan balik yang negative dari masyarakat. Hal ini disebabkan oleh tuntutan masyarakat yang tinggi terhadap pelayanan sehingga pustakawan sulit mencapai standar yang diinginkan oleh masyarakat. Seandainya mereka dapat memenuhi standar tersebut, masyarakat pada umumnya tidak memberi pujian, sebab masyarakat menganggap bahwa hal tersebut lumrah dan memang

seharusnya seperti itu.

e)      Jenjang Karir Pustakawan

Pengetahuan, keahlian, pengalaman kerja, dan pelatihan merupakan modal pokok yang

diperlukan oleh tiap individu dalam upaya memperoleh peningkatan karir.

Gibson (1997 : 316) menyatakan bahwa, ”Karir adalah ide untuk terus begerak ke atas dalam garis pekerjaan yang dipilih seseorang. Bergerak ke atas artinya memperoleh gaji yang lebih

besar, tanggung jawab yang semakin berat, status, prestise, dan kekuasaan”. Berbagai alternatif karir bertujuan untuk memberikan motivasi kepada karyawan agar mampu menggali potensi yang ada.

 

C.    Pengelolaan Stres

Mendeteksi penyebab stres dan bentuk reaksinya, maka ada 3 pola mengatasi Stres,yaitu pola sehat, pola harmonis, dan pola psikologis. Pola Sehat, pola menghadapi stres yang terbaik yaitu dengan kemampuan mengelola perilaku dan tindakan sehingga adanya stres tidak menimbulkan gangguan, akan tetapi menjadi lebih sehat dan berkembang. Pola Harmonis, adalah pola menghadapi stres dengan kemampuan mengelola waktu dan kegiatan secara harmonis dan tidak menimbulkan berbagai hambatan. Dalam pola ini, individu mampu mengendalikan berbagai kesibukan dan tantangan dengan cara mengatur waktu secara teratur.

Pola Patologis, ialah pola menghadapi Stres dengan berdampak berbagai gangguan fisik maupun sosial-psikologis. Dalam pola ini, individu akan menghadapi berbagai tantangan dengan cara-cara yang tidak memiliki kemampuan dan keteraturan mengelola tugas dan waktu. Cara ini dapat menimbulkan reaksi-reaksi yang berbahaya karena bisa menimbulkan berbagai masalah-masalah yang buruk.

Melalui penilaian primer dan sekunder, suatu pendekatan untuk menghadapi Stres di terapkan. Terdapat dua jenis cara untuk menghadapi Stres, berfokus pada masalah dan emosi. Problem Focused Coping merujuk pada tindakan yang diambil untuk berhadapan langsung pada sumber stres. Sebagai contoh, pekerja yang memiliki seorang manajer yang kasar mungkin menghadapinya dengan cara absen dari tempat kerja. Absen ini akan memungkinkan pekerja tersebut untuk menyingkir, selama beberapa waktu, dari manajer yang kasar tersebut. Tipe menghadapi Stres yang kedua adalah emotion-focused coping. Hal ini merujuk pada langkah-langkah yang di ambil seseorang untuk berhadapan dengan perasaan dan emosi yang menekan. Sebagai contoh, karyawan yang sering bepergian sebagai bagian dari pekerjaannya mungkin dapat memperingan perasaan dan emosinya yang tertekan dengan berolahraga secara teratur atu dengan membaca buku fiksi ringan atau puisi yang tidak berkenaan dengan pekerjaan. Jika aktivitas untuk menghadapi Stres ini berhasil, perasaan dan emosi dari karyawan tersebut terkendalikan.

Untuk mengatasi Stres tersebut dilakukan dengan pendekatan kejiwaan dan konseling. Sedangkan yang dimaksud konseling adalah pembahasan suatu masalah dengan seorang karyawan, dengan maksud pokok untuk membantu karyawan tersebut agar dapat mengatasi masalah secara lebih baik. Konseling bertujuan untuk membuat orang-orang menjadi efektif dalam memecahkan masalah-masalah.

Cara mengatasi Stres kerja yang lainnya antara lain :

1. Merumuskan kebijaksanaan manajemen dalam membantu para karyawan menghadapi                 Stres.

2. Menyampaikan kebijaksanaan tersebut kepada seluruh karyawan sehingga mereka           mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta bantuan dan dalam bentuk apa jika     mereka menghadapi Stres.

3. Melatih para manajer dengan tujuan agar mereka peka terhadap timbulnya gejala-gejala              Stres di kalangan para bawahannya dan dapat mengambil langkah-langkah tertentu        sebelum Stres itu berdampak negatif terhadap prestasi kerja para bawahannya itu.

4. Melatih para karyawan mengenali dan menghilangkan sumber-sumber Stres.

5. Terus membuka jalur komunikasi dengan para karyawan sehingga mereka benar-benar             diikutsertakan untuk mengatasi Strea yang di hadapinya.

6. Memantau terus menerus kegiatan organisasi sehingga kondisi yang dapat menjadi          sumber stres dapat menjadi sumber Stres dapat diidentifikasikan dan dihilangkan secara            dini.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Menurut Phil Kitcel, Stres kerja merupakan respons fisik dan emosional pada kondisi kerja yang berbahaya, termasuk lingkungan dimana pekerjaan memerlukan kapabilitas, sumber daya, atau kebutuhan pekerja lebih banyak.

  Ada banyak faktor yang menjadi penyebab timbulnya stres kerja pustakawan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulistyo-Basuki (2006 : 67-68) mengutip pernyataan Caputto (1991) yang mengidentifikasikan bahwa Pemicu stress (stressor) di dunia perpustakaan antara lain adalah renumerasi yang rendah, beban kerja yang berat, lemahnya manajemen dan sistem pengawasan, rendahnya apresiasi masyarakat pengguna terhadap profesi pustakawan, serta kurang jelasnya jenjang karir pustakawan.

Karena Stres sedemikian meluas dan sangat berpotensi mengganggu dalam organisasi harus memperhatikan cara mengelolanya secara lebih efektif. Dan memang demikian. Banyak strategi telah dikembangkan untuk membantu dalam mengelola Stres di tempat kerja. Beberapa untuk individual dan yang lainnya diperuntukkan bagi organisasi Strategi untuk mengatasi secara individu, Berolahraga, Relaksasi.

 

  1. Saran

Dengan membacanya makalah ini diharapkan pembaca dapat mengetahui apa itu stress kerja dan penanggulangannya, serta dapat mengaplikasikannya sesuai kebutuhan pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Anzizhan dan Syafaruddin.2017 “Psikologi Organisasi dan Management”. Depok:Prenamadia group.

Soekarman. 2009. “Daftar  Tajuk  Subyek  Untuk  Perpustakaan”. Jakarta : Gunung Mulia.

       Haryanto. 2000. “Inovasi Perpustakaan Sebuah Tantangan Kualitas Layanan Publik”. Malang: Wineka Media.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Wibowo, Manajemen Perubahan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, hlm. 52.  

[2] John M. Ivancevich dkk, Perilaku dan Manajemen Organisasi, Erlangga, Jakarta, 2006, hlm. 295.


No comments:

Post a Comment

TOKOH TASAWUF DI INDONESIA

BAB II PEMBAHASAN A.     TOKOH TASAWUF DI INDONESIA Berikut merupakan beberapa tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia: 1.       Hamzah Fan...