Wednesday, 10 June 2020

BEBERAPA PENDEKATAN DALAM STUDI ISLAM (BAGIAN 2)

 

DAFTAR ISI

                                                                                                                     hal

KATA PENGANTAR ..............................................................................................  i

 

DAFTAR ISI ............................................................................................................  ii

 

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................  1

A. Latar Belakang .....................................................................................................  1

B. Rumusan Masalah ................................................................................................  1

C. Tujuan ..................................................................................................................  1

 

BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................  2

A.    Pendekatan Historis ............................................................................................  2

B.     Pendekatan Politis ..............................................................................................  5

C.     Pendekatan Psikologis......................................................................................... 6

D.    Pendekatan Interdisipliner ..................................................................................  8

 

BAB III PENUTUP ..................................................................................................  12

A.    Simpulan .............................................................................................................  12

B.     Saran ...................................................................................................................  12

 

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................  13


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehadiaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, diyakini menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin dimana kehadiran agama ini dituntut agar ikut terlibat secara aktif dalam memecahkan masalah yang dihadapi umat manusia. Tuntunan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendapat lain, yang secara operasional, konseptual, dan dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.

Oleh sebab itu, pembahasan agama dapat dipahami dengan berbagai pendekatan studi Islam. Berbagai pendekatan tersebut meliputi, pendekatan normatif, pendekatan antropologis, pendekatan sosiologis, pendekatan teologis, pendekatan fenomenologis, pendekatan filosofis, pendekatan historis, pendekatan politis, pendekatan psikologis, dan pendekatan interdisipliner. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pendekatan historis, politis, psikologis, interdisipliner.

B. Rumusan Masalah

·         Apa dan bagaimana pendekatan historis itu ?

·         Apa dan bagaimana pendekatan politis itu ?

·         Apa dan bagaimana pendekatan psikologis itu ?

·         Apa dan bagaimana pendekatan interdisipliner itu ?

C. Tujuan

·         Untuk mengetahui serta memahami pendekatan historis

·         Untuk mengetahui serta memahami pendekatan politis

·         Untuk mengetahui serta memahami pendekatan psikoogis

·         Untuk mengetahui serta memahami pendekatan interdisipliner

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Pendekatan Historis

Secara etimologi sejarah adalah terjemahkan dari kata taih, sirah, (bahasa Arab), history (bahasa Inggris), dan geoschicte (bahasa Jerman). Semua kata tersebut bersal dari bahasa yunani, yaitu istoria yang berarti ilmu. Secara leksikal, sejarah adalah pengetahuan atau runian tentang peristiwa-peristiwa dan kejadian- kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Secara terminologi, sejarah adalah kisah dan peristiwa masa lampau manusia, baik yang berhubungan dengan peristiwa politik, sosial, ekonomi, maupun gejala alam.[1]

Sejarah atau historis (Historical Approach) adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, dimana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.

Menurut Ibnu Khaldun, sejarah tidak hanya dipahami sebagai suatu rekaman peristiwa masa lampau, tetapi juga penalaran kritis untuk menemukan rekaman kebenaran suatu peristiwa pada masa lampau. Dengan demikian, unsur penting sejarah adalah adanya peristiwa, adanya batasan waktu (yaitu masa lampau), adanya pelaku (yaitu manusia) dan daya kritis dari peneliti sejarah.[2] Menurut M. Atho Mudzhar mengatakan bahwa inti Islam merupakan wahyu dan pada sisi lain ada bagian dari Islam yang merupakan produk sejarah. Kedua-duanya dapat dijadikan sebagai sasaran penelitian. Islam sebagai produk sejarah ini dapat diteliti dengan menggunakan pendekatan kritis historis (empiris). Pendekatan sejarah dalam studi Islam bukan hanya untuk mengungkapkan masa lalu ke masa kini dan memprediksi masa kini ke masa depan.[3]

Islam historis merupakan unsur kebudayaan yang dihasilkan oleh setiap pemikiran manusia dalam interpretasi atau pemahamannya terhadap teks, maka Islam pada tahap ini terpengaruh bahkan menjadi sebuah kebudayaan. Dengan adanya problematika yang semakin kompleks, maka kita yang hidup pada era saat ini harus terus berjuang untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran untuk mengatasi problematika kehidupan yang semakin kompleks sesuai dengan latar belakang kultur dan sosial yang melingkupi kita.

Dengan demikian, kajian sejarah sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam mempelajari Islam bertujuan untuk melihat dari segi kesadaran sosial pada perilaku atau pendukung suatu peristiwa sejarah sehingga mampu mengungkapkan banyak dimensi dari peristiwa tersebut.

Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya. Seseorang yang ingin memahami Al-Qur’an secara benar misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunnya Al-Qur’an atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya Al-Qur’an sebagai Ilmu Asbab al-Nuzul (Ilmu tentang Sebab-sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an) yang pada intinya berisi sejarah turunnya ayat Al-Qur’an. Dengan ilmu asbabun nuzul ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu dan ditujukan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya.[4]

 

1.    Pendekatan Historigrafi Periode Awal Islam

Sejarah Islam pada awal perkembangannya sangat terkait dengan kondisi pra Islam di tanah Arab, namun sejarah bangsa Arab kuno sendiri hampir tidak dikenal sama sekali, hal ini terjadi di antaranya karena dua faktor penyebabnya yaitu: pertama karena mereka hidup secara nomaden yang tersebar diberbagai penjuru, saling berseteru dan bermusuhan serta tidak punya raja yang kuat dan yang mampu menyatukan sebagai kesatuan politik, kedua karena meraka lebih menghargai dan mengutamakan tradisi hafalan dibandingkan tulisan sehingga tidak ada pemberitaan dalam bentuk tulisan tentang peristiwa yang terjadi dan yang mereka alami.[5]

Penulisan sejarah Islam berkembang seiring dengan perkembangan peradapan Islam. Paling tidak ada dua faktor pendukung utama berkembangnya penulisan sejarah dalam sejarah Islam yaitu: pertama Al-Qur’an, kitab suci umat Islam memerintahkan kepada umatnya untuk memerhatikan sejarah. Kedua Hadist ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an yang berkenaan dengan masalah muamalah bersifat umum dan hanya garis-garis besarnya.[6]

Dari penulisan hadis inilah dapat dikatakan sebagai cikal bakal perintisan jalan menuju perkembangan ilmu sejarah, dan bahkan dalam rangka menyeleksi hadis yang benar dari yang salah maka munculah ilmu kritik hadis, baik dari periwayatannya maupun dari segi materinya. Ilmu kritik ini pula yang dijadikan metode kritik penulisan sejarah yang paling awal. Pendekatan kesejarah ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkrit bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini Islam, menurut pendektan sejarah . ketika ia mempelajari Al-Qur’an ia sampai pada satu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan Al-Qur’an itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, berisi konsep-konsep, dan bagian kedua berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.

 

2.    Pendekatan Historis dalam Studi Islam dan Manfaatnya

Pendekatan historis dalam studi Islam amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi dan kondisi sosial masyarakat, yaitu bagaimana melakukan pengkajian terhadap berbagai studi keislaman dengan menggunakan pendekatan historis sebagai salah satu alat (metodologi) untuk menyatakan kebenaran dari objek kajian itu.

Pentingnya pendekatan ini, mengingat karena rata-rata disiplin keilmuan dalam Islam tidak terlepas dari berbagai peristiwa atau sejarah. Baik yang berhubungan dengan waktu, lokasi dan format peristiwa yang terjadi. Melalui pendekatan historis dalam studi Islam ditemukan berbagai manfaat yang amat berharga, guna merumuskan secara benar berbagai kajian keislaman dengan tepat berkenaan dengan suatu peristiwa.[7]

Berdasarkan paparan di atas dapat ditemukan suatu rumusan bahwa Islam sebagai agama tidak dapat dipungkiri merupakan fenomena sejarah. Oleh karena itu, pendekatan sejarah dalam studi Islam amat dibutuhkan dalam melakukan pengkajian terhadap salah satu alat (metodologi) untuk menyatakan kebenaran dari objek kajian itu sehingga muaranya merupakan pemahaman terhadap Islam akan lebih baik.[8]

 

 

B.  Pendekatan Politis

Teori politik normatif adalah cara untuk membahas lembaga sosial, khususnya berhubungan dengan kekuasaan publik, dan tentang hubungan antara individu di dalam lembaga politik disebut juga sebagai moral atau politik. Pendekatan politis adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara menanamkan nilai-nilai agama pada lembaga sosial agar timbul motivasi atau keinginan untuk meraih kebahagian dan kesejahteraan serta perdamaian pada masyarakat. Pendekatan politis dibagi menjadi lima yaitu:[9]

1.    Pendekatan Politis Dekonfessionalisasi

Pendekatan politis dekonfessionalisasi adalah pendekatan atau usaha dengan meninggalkan seluruh identitas keyakinan yang berupa simbol dalam sementara waktu untuk menyatukan perbedaan antara kelompok dan memelihara hubungan politik bersama dengan sebuah negara agar tercapai suatu kesatuan dan kebersamaan yang lebih besar.

Pancasila sebagai ideologi negara yang digunakan bangsa Indonesia untuk menjadikan bernegara, hal tersebut bukan berarti Islam kalah dengan pancasila melainkan didalam pancasila tersimpan nilai-nilai Islam yaitu keesaan Tuhan, demokrasi, keadilan sosial dan kemanusiaan.

 

2.    Pendekatan Politis Domestik Islam

Teori ini menggambarkan hebatnya Islam berkembang di Indonesia bernegara, tetapi lumpuh karena didominasi kekuatan lokal. Menurut Harry J, berpandangan bahwa bangkitnya mataram Islam sebenarnya adalah kekuatan Hindu Jawabukanlah Islam itu sendiri.

 

3.    Pendekatan Politis Skismatik dan Aliran

Teori ini dikembangkan oleh Robert Jay dan Clifford Goerta. Pendekatan siksmatik memberikan gambaran tentang adanya realitas kelompok aliran dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik serta agama dalam masyarakat jawa. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kekuatan diluar Islam yang senantiasa menyaingi bahkan menjinakan kelompok abangan dan priayi.

 

 

 

4.    Pendekatan Politik Trikotomi

Pendekatan ini dikembangkan oleh Allan Samson dalam aliran ini dijelaskan karakteristik Islam tidak dapat dilihat secara tanggal seperti santri yaitu mereka yang tetap mempertahankan Islam sebagai baris dan norma dalam berpolitiknya. Politik santri dibagi menjadi tiga yaitu:

a.    Fundamentalis, yaitu menetapkan agama dalam aspek kehidupan, termasuk bernegara.

b.    Reformis, yaitu menempatkan secara rasional posisi Islam dalam kehidupan pilitik termasuk membangun relasi bagi penerapan kepentingan Islam.

c.    Akomodisionis, yaitu kelompok santri yang lebih terbuka walau sepintas tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

 

5.   Pendekatan Politik Kultural atau Diversifikasi

Islam dalam skala kebudayaan memiliki kemenangan yang hebat di Indonesia. Teori ini mengarahkan kembali energi politik umat Islam ke dalam kegiatan non politik. Islam kultural akan memunculkan Islam yang lebih simpatik. Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kultural menjelaskan Islam sebagai kekuatan budaya yang berhasil dalam menaklukan kekuatan politik.

 

C. Pendekatan Psikologis

Psikologi berasal dari bahasa Yunani psych yang berarti jiwa dan logis yang berarti ilmu. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa. Pendekatan psikologi adalah paradigma cara pandang memahami dengan mempelajari jiwa seseorang dengan cara melihat gejala perilaku yang dapat diamati atau pendekatan yang bertujuan untuk melihat keadaan jiwa pribadi-pribadi yang beragama.[10] Dalam ajaran agama banyak kita jumpai istilah-istilah yang menggambarkan sikap batin seseorang. Seperti sikap beriman dan bertakwa kepada Allah, sebagai orang yang saleh, orang yang berbuat baik, orang yang sadik (jujur), dan sebagainya. Semua itu adalah gejala-gejala kejiwaan yang berkaitan dengan agama.[11]

Dengan psikologi ini, akan diketahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan serta sebagai alat untuk memasukkan agama ke dalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan ilmu ini agama akan menemukan cara yang tepat dan cocok untuk menanamkannya. Kita misalnya dapat mengetahui pengaruh dari shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya dengan melalui ilmu jiwa. Itulah sebabnya ilmu jiwa ini banyak digunakan sebagai alat untuk menjelaskan gejala atau sikap keagamaan seseorang.[12]

Ada banyak hal dan aspek yang sangat mempengaruhi kejiwaan manusia, salah satunya merupakan agama. Agama merupakan fenomena umum bagi manusia. Mayoritas dari manusia menganut agama sebagai kebutuhannya. Besarnya pengaruh agama terhadap kejiwaan manusia, dan populernya agama di kalangan manusia, melahirkan psikologi agama. Psikologi agama merupakan ilmu yang mengkaji kehidupan beragama pada manusia dan pengaruh keyakinan agama tersebut dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya atau suatu ilmu yang mempelajari jiwa manusia dalam hubungannya dengan agama.[13]

Sebagai disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki beberapa pendekatan, antara lain:[14]

a.       Pendekatan Struktural

Pendekatan structural merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mempelajari pengalaman seseorang berdasarkan tingkatan atau kategori tertentu. Struktur pengalaman tersebut dilakukan dengan menggunakan metode pengalaman dan intropeksi.

b.      Pendekatan Fungsional

Pendekatan fungsional merupakan pendekatan yang dilakukan untuk mempelajari bagaimana agama dapat berfungsi atau berpengaruh terhadap tingkah laku hidup individu dalam kehidupannya.

c.       Pendekatan Psiko-analisis

Pendekatan psiko-analisis merupakan suatau pendekatan yang dilakukan untuk menjelaskan tentang pengaruh agama dalam kepribadian seseorang dan hubungannya dengan penyakit-penyakit jiwa.

Pendekatan psikologis merupakan pendekatan yang memfokuskan pencarian terhadap masalah kejiwaan manusia. Karena itu, psikologi agama mencari tahu masalah kejiwaan dalam hubungannya dengan agama. Ada beberapa contoh studi Islam yang dapat didekati dengan pendekatan psikologis, antara lain:

a.       Tentang masalah perasaan seorang ahli tasawuf yang merasa bahwa Allah selalu dekat dengannya dan hadir dalam hatinya dan ia melakukan zikir secara terus-menerus dan secara sadar. Masalah pokok dalam kajian ini merupakan perasaan (dekat dengan Allah) manusia (ahli tasawuf) dan bagaimana perasaan tersebut muncul.

b.      Masalah lainnya merupakan masalah kepuasan seorang hamba terhadap kehidupannya. Di mana bisa dibandingkan antara dua gejala yakni seorang yang sederhana tapi mempunyai tingkat ibadah yang lebih tinggi dengan seorang yang cukup tapi mempunyai ibadah yang rendah. Masalah pokok yang dicari merupakan pengaruh tingkat ibadah tersebut terhadap rasa puas dalam kehidupan.[15]

 

Pendekatan psikologis juga dapat digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi kadar dan tingkat ajaran Islam sesuai dengan tingkat umur seseorang. Hingga ajaran Islam tidak berubah menjadi semata-mata sistem-sistem nilai tanpa teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun kontribusi pendekatan psikologis agama dalam studi Islam merupakan:

a.       Untuk membantu di dalam meneliti bagaimana latar belakang keyakinan beragama seorang Muslim.

b.      Untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah keberagaman seorang Muslim, seperti penyakit mental dan hubungannya dengan keyakinan beragama.

c.       Untuk mengetahui bagaimana hubungan manusia dengan Allah dan bagaimana pengaruh hubungan tersebut terhadap perilaku dan cara berpikir.[16]

Pendekatan psikologis bertujuan untuk menjelaskan keadaan jiwa seseorang. Keadaan jiwa tersebut dapat diamati melalui tingkah laku, sikap, cara berpikir dan berbagai gejala jiwa lainnya. Dalam penelitian, informasi tentang gejala-gejala tersebut dapat bersumber dari berbagai hal, seperti observasi, wawancara atau surat maupun dokumen pribadi yang diteliti.

 

D. Pendekatan Interdisipliner

Pendekatan interdisipliner adalah upaya dalam memahami Islam dengan menggunakan sejumlah sudut pandang pendekatan, karena dalam teori interdisipliner sangat penting dibanding hanya satu pendekatan saja. Contoh interdisipliner adalah seperti aborsi, perlu dilacak nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi tentang larangan pembunuhan anak, dan tahap penciptaan manusia dihubungkan teori embriologi.[17]

Pendekatan interdisipliner yang dimaksud disini adalah kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan atau sudut pandang (pespektif). Dalam studi misalnya menggunakan pendekatan sosiologis, historis dan normative secara bersamaan. Pentingnya penggunaan pendekatan ini semakin disadari keterbatasan dari hasil-hasil penetilitian yang hanya menggunakan satu pendekatan tertentu.

Dari pendekatan interdisipliner akan memunculkan beberapa pendekatan baru dengan catatan:

1.      Perkembangan pembidangan studi Islam dan pendekatannya sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

2.      Adanya penekanan terhadap bidang pendekatan tertentu, dimaksudkan agar mampu memahami ajaran Islam lebih lengkap (komprehensif) sesuai dengan kebutuhan tuntutan yang semakin lengkap dan komplek.

3.      Perkembangan tersebut adalah satu hal yang wajar dan seharusnya memang terjadi, kalau tidak menjadi pertanda agama semakin tidak mendapat perhatian, dan bahkan diacuhkan.

Dengan pendekatan interdisipliner akan memunculkan beberapa pendekatan studi Islam yang lain, sebagian besar dipengaruhi studi kawasan. Misalnya:

1.      Sastra Islam dan arkeologi

2.      Linguistik (bahasa)

3.      Sastra (literature)

4.      Ekonomi

5.      Ilmiah

6.      Doktriner

7.      Fiologi (cinta terhadap kata-kata)

8.      Semiotika (makna benda/lambang)

9.      Mistis

 

 

Berikut ini ada beberapa macam pendekatan interdisipliner, antara lain:

1.      Pendekatan Sejarah

Melalui pendekatan sejarah, ilmu pendidikan Islam akan memiliki landasan yang kuat sehingga terjadi hubungan mata rantai yang jelas antara pendidikan yang dilaksanakan sekarang dengan  pendidikan yang pernah ada di masa lalu. Bangunan ilmu  pendidikan Islam yang didasarkan pada pendekatan sejarah akan memiliki landasan yang lebih realitas dan empiris, karena bertolak dari praktik pendidikan yang benar-benar telah terjadi. Ilmu pendidikan Islam dengan pendekatan sejarah merupakan sebuah  bentuk aprisiasi atas berbagai peristiwa masa lalu untuk digunakan sebagai bahan renungan dan pelajaran bagi pengembangan Islam di masa sekarang.

Yang jelas, sejarah adalah fakta yang benar-benar terjadi bukan yang seharusnya terjadi, ia adalah realitas bukan idealitas. Oleh karena itu, pendekatan sejarah amat dibutuhkan dalam upaya kita melakukan studi Islam, karena Islam itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan.

 

2.      Pendekatan Filsafat

Filsafat berasal dari kata phils yang berarti cinta dan kata sophia yang berarti pengetahuan, hikmah, dan kebijaksanaan. Dasar pendekatan filsafat Islam, islam pada hakekatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai suatu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia . sumber ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu adalah al-Qur’an dan Hadist.

Filsafat dalam kajian studi Islam merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengungkap permasalahan dan memperoleh solusi atas permasalahan tersebut. Pendekatan filosofis berupaya mencari jawaban atas segala sesuatu atau hikmah di balik objek formal (fisik) dengan ciri khas mendalam, radikal dan sistematis.

Pendekatan filsafat bersifat mendalam artinya mengoptimalkan kemampuan akal sampai tak sanggup lagi dijangkau, radikal artinya pembahasan dilakukan sampai ke akar permasalahan hingga taka da lagi yang tersisa sedangkan sistematis adalah dilakukan secara teratur dan menggunakan metode berfikir tertentu dan universal.[18]

Islam menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran filsafat itulah yang disebut filsafat Islam bukan karena orang yang melakukan kefilsafatan itu orang muslim, tetapi dari segi obyek membahas mengenai keislaman.

 

3.      Pendekatan Sosiologis

Sosiologi adalah ilmu tentang kemasyarakatan, ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat. Sosiologi didifinisikan secara luas sebagai bidang  penelitianyang tujuannya meningkatkan pengetahuan melalui  penagmatan dasar manusia, dan pola organisasi serta hukumnya. Selanjutnya sosiologi digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam studi Islam yang mencoba untuk memahami Islam dari aspek sosial yang berkembangdimasyarakat, sehingga  pendidikan dengan pendekatan sosiologis dapat diartikan sebagai sebuah studi yang memanfaatkan sosiologi untuk menjelaskan konsep pendidikan dan memecahkan berbagai  problem yang dihadapinya.

Ada empat fungsi mempelajari sosiologi, yaitu sebagai berikut:[19]

1.      Kita akan dapat melihat dengan jelas siapa diri kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota kelomppok atau masyarakat.

2.      Sosiologi membantu kita untuk mampu mengkaji tempat kita di masyarakat, serta dapat melihat budaya lain yang belum kita ketahui.

3.      Dengan bantuan sosiologi, kita akan semakin memahami pula norma, tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lain.

4.      Kita sebagai generasi penerus, mempelajari sosiologi membuat kita lebih tanggap, kritis, dan rasional menghadapi gejala-gejala sosial masyarakat yang makin kompleks.

 

4.      Pendekatan Fiologi

Pendekatan fenologi dapat digunakan hampir dalam semua aspek kehidupan umat Islam, tidak hanya untuk kepentingan orang barat tetapi memainkan peran penting dalam dunia orang Islam sendiri yang berbentuk penelitian fenologi dan sejarah yang banyak dilakukan oleh pembaharu, intelektual, politisi, dan lain sebagainya.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Simpulan

Pendekatan Metodologi Studi Islam adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hal ini adalah agama Islam. Islam dapat dilihat dalam beberapa aspek yang sesuai dengan cara pandangnya. Adapun pendekatan studi Islam bagian, antara lain: pendekatan historis, pendekatan politis, pendekatan psikologis dan pendekatan interdisipliner

Pendekatan historis dalam studi Islam amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi dan kondisi sosial masyarakat, yaitu bagaimana melakukan pengkajian terhadap berbagai studi keislaman dengan menggunakan pendekatan historis sebagai salah satu alat (metodologi) untuk menyatakan kebenaran dari objek kajian itu.

Pendekatan politis adalah salah satu upaya memahami agama dengan cara menanamkan nilai-nilai agama pada lembaga sosial agar timbul motivasi atau keinginan untuk meraih kebahagian dan kesejahteraan serta perdamaian pada masyarakat.

Pendekatan psikologi adalah paradigma cara pandang memahami dengan mempelajari jiwa seseorang dengan cara melihat gejala perilaku yang dapat diamati atau pendekatan yang bertujuan untuk melihat keadaan jiwa pribadi-pribadi yang beragama.

Pendekatan interdisipliner adalah upaya dalam memahami Islam dengan menggunakan sejumlah sudut pandang pendekatan, karena dalam teori interdisipliner sangat penting dibanding hanya satu pendekatan saja. Pendekatan interdisipliner yang dimaksud disini adalah kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan atau sudut pandang (pespektif).

 

B.     Saran

Adapun saran yang dapat kami sampaikan melalui makalah ini, yaitu agar pembaca dapat memahami serta mempelajari isi dari makalah berjudul “Pendekatan Studi Islam (Bagian 2)” yang sekiranya dapat menambah wawasan, dan pembaca dapat mengidentifikasi macam-macam Pendekatan Studi Islam beserta penjelasannya.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arfa, Faisar Ananda. dkk. 2016. Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

Batubara, Chuzaimah. dkk. 2018. Handbook Metodologi Studi Islam. Jakarta: Prenadamedia Group.

Kurniawan, Muhammad Galang. 2018. Macam Pendekatan Interdisipliner di https://www.academia.edu/35641353/MACAM_PENDEKATAN_INTERDISIPLINER (di akses 01 Oktober 2019).

Nata, Abuddin. 2012. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

 

 

 

 

 



[1] Chuzaimah  batubara. dkk. Hanbook Metodologi Studi Islam  (Jakarta: Prenamedia Group, 2018), hlm. 176.

[2] Ibid, hlm. 176.

[3] Faisar Ananda Arfa. dkk. Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), hlm. 132.

[4] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 48.

[5] Faisar Ananda Arfa. dkk. Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), hlm. 137.

[6] Ibid, hlm. 137.

[7] Ibid, hlm. 150.

[8] Ibid, hlm. 151

[9] Chuzaimah batubara. dkk. Hanbook Metodologi Studi Islam  (Jakarta: Prenamedia Group, 2018), hlm. 179

[10] Ibid, hlm. 180

[11] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm. 50.

[12] Ibid, hlm. 51

[13] Faisar Ananda Arfa, Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), hlm. 178

[14] Ibid, hlm. 179-180

[15] Ibid, hlm. 183.

[16] Ibid, hlm. 185.

[17] Chuzaimah Batubara, Handbook Metodologi Studi Islom (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), hlm. 181.

[18] Muhammad Galang Kurniawan, Macam Pendekatan Interdisipliner, diakses dari https://www.academia.edu/35641353/MACAM_PENDEKATAN_INTERDISIPLINER, pada tanggal 01 Oktober 2019, hlm. 3

 

[19] Ibid, hlm. 6


No comments:

Post a Comment

TOKOH TASAWUF DI INDONESIA

BAB II PEMBAHASAN A.     TOKOH TASAWUF DI INDONESIA Berikut merupakan beberapa tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia: 1.       Hamzah Fan...