DAFTAR ISI
hal
KATA PENGANTAR .............................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
A. Latar Belakang ..................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... 2
A. Pendekatan Historis ............................................................................................ 2
B.
Pendekatan
Politis .............................................................................................. 5
C.
Pendekatan
Psikologis.........................................................................................
6
D.
Pendekatan
Interdisipliner .................................................................................. 8
BAB
III PENUTUP .................................................................................................. 12
A.
Simpulan ............................................................................................................. 12
B.
Saran ................................................................................................................... 12
DAFTAR
PUSTAKA ............................................................................................... 13
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehadiaran agama
Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, diyakini menjamin terwujudnya
kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin dimana kehadiran agama ini
dituntut agar ikut terlibat secara aktif dalam memecahkan masalah yang dihadapi
umat manusia. Tuntunan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala
pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif
dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendapat lain, yang secara
operasional, konseptual, dan dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang
timbul.
Oleh sebab itu,
pembahasan agama dapat dipahami dengan berbagai pendekatan studi Islam.
Berbagai pendekatan tersebut meliputi, pendekatan normatif, pendekatan
antropologis, pendekatan sosiologis, pendekatan teologis, pendekatan
fenomenologis, pendekatan filosofis, pendekatan historis, pendekatan politis,
pendekatan psikologis, dan pendekatan interdisipliner. Dalam makalah ini akan
dibahas mengenai pendekatan historis, politis, psikologis, interdisipliner.
B. Rumusan Masalah
·
Apa dan bagaimana pendekatan historis itu ?
·
Apa dan bagaimana pendekatan politis itu ?
·
Apa dan bagaimana pendekatan psikologis itu ?
·
Apa dan bagaimana pendekatan interdisipliner itu ?
C. Tujuan
·
Untuk mengetahui serta memahami pendekatan historis
·
Untuk mengetahui serta memahami pendekatan politis
·
Untuk mengetahui serta memahami pendekatan psikoogis
·
Untuk mengetahui serta memahami pendekatan
interdisipliner
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendekatan
Historis
Secara etimologi sejarah adalah
terjemahkan dari kata taih, sirah, (bahasa Arab), history (bahasa
Inggris), dan geoschicte (bahasa Jerman). Semua kata tersebut
bersal dari bahasa yunani, yaitu istoria yang berarti ilmu. Secara
leksikal, sejarah adalah pengetahuan atau runian tentang peristiwa-peristiwa
dan kejadian- kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Secara
terminologi, sejarah adalah kisah dan peristiwa masa lampau manusia, baik yang
berhubungan dengan peristiwa politik, sosial, ekonomi, maupun gejala alam.[1]
Sejarah atau historis (Historical
Approach) adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa
dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan pelaku
dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini segala peristiwa dapat dilacak dengan
melihat kapan peristiwa itu terjadi, dimana, apa sebabnya, siapa yang terlibat
dalam peristiwa tersebut. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya
kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan
yang ada di alam empiris dan historis.
Menurut Ibnu Khaldun, sejarah
tidak hanya dipahami sebagai suatu rekaman peristiwa masa lampau, tetapi juga
penalaran kritis untuk menemukan rekaman kebenaran suatu peristiwa pada masa
lampau. Dengan demikian, unsur penting sejarah adalah adanya peristiwa, adanya
batasan waktu (yaitu masa lampau), adanya pelaku (yaitu manusia) dan daya
kritis dari peneliti sejarah.[2]
Menurut M. Atho Mudzhar mengatakan bahwa inti Islam merupakan wahyu dan pada
sisi lain ada bagian dari Islam yang merupakan produk sejarah. Kedua-duanya
dapat dijadikan sebagai sasaran penelitian. Islam sebagai produk sejarah ini
dapat diteliti dengan menggunakan pendekatan kritis historis (empiris).
Pendekatan sejarah dalam studi Islam bukan hanya untuk mengungkapkan masa lalu
ke masa kini dan memprediksi masa kini ke masa depan.[3]
Islam historis merupakan unsur kebudayaan yang
dihasilkan oleh setiap pemikiran manusia dalam interpretasi atau pemahamannya
terhadap teks, maka Islam pada tahap ini terpengaruh bahkan menjadi sebuah
kebudayaan. Dengan adanya problematika yang semakin kompleks, maka kita yang
hidup pada era saat ini harus terus berjuang untuk menghasilkan
pemikiran-pemikiran untuk mengatasi problematika kehidupan yang semakin
kompleks sesuai dengan latar belakang kultur dan sosial yang melingkupi kita.
Dengan demikian, kajian sejarah
sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam mempelajari Islam
bertujuan untuk melihat dari segi kesadaran sosial pada perilaku atau pendukung
suatu peristiwa sejarah sehingga mampu mengungkapkan banyak dimensi dari
peristiwa tersebut.
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak
untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu
peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari
konteks historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang
memahaminya. Seseorang yang ingin memahami Al-Qur’an secara benar misalnya,
yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunnya Al-Qur’an atau kejadian-kejadian
yang mengiringi turunnya Al-Qur’an sebagai Ilmu Asbab al-Nuzul (Ilmu
tentang Sebab-sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an) yang pada intinya berisi sejarah
turunnya ayat Al-Qur’an. Dengan ilmu asbabun nuzul ini seseorang akan dapat
mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum
tertentu dan ditujukan untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya.[4]
1. Pendekatan
Historigrafi Periode Awal Islam
Sejarah Islam pada awal
perkembangannya sangat terkait dengan kondisi pra Islam di tanah Arab, namun
sejarah bangsa Arab kuno sendiri hampir tidak dikenal sama sekali, hal ini
terjadi di antaranya karena dua faktor penyebabnya yaitu: pertama karena
mereka hidup secara nomaden yang tersebar diberbagai penjuru, saling berseteru
dan bermusuhan serta tidak punya raja yang kuat dan yang mampu menyatukan
sebagai kesatuan politik, kedua karena meraka lebih menghargai dan
mengutamakan tradisi hafalan dibandingkan tulisan sehingga tidak ada
pemberitaan dalam bentuk tulisan tentang peristiwa yang terjadi dan yang mereka
alami.[5]
Penulisan sejarah Islam
berkembang seiring dengan perkembangan peradapan Islam. Paling tidak ada dua faktor
pendukung utama berkembangnya penulisan sejarah dalam sejarah Islam yaitu: pertama
Al-Qur’an, kitab suci umat Islam memerintahkan kepada umatnya untuk
memerhatikan sejarah. Kedua Hadist ajaran Islam yang terkandung dalam
Al-Qur’an yang berkenaan dengan masalah muamalah bersifat umum dan hanya
garis-garis besarnya.[6]
Dari penulisan hadis inilah
dapat dikatakan sebagai cikal bakal perintisan jalan menuju perkembangan ilmu
sejarah, dan bahkan dalam rangka menyeleksi hadis yang benar dari yang salah
maka munculah ilmu kritik hadis, baik dari periwayatannya maupun dari segi
materinya. Ilmu kritik ini pula yang dijadikan metode kritik penulisan sejarah
yang paling awal. Pendekatan kesejarah ini amat dibutuhkan dalam memahami agama,
karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkrit bahkan berkaitan
dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini Kuntowijoyo telah
melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini Islam, menurut
pendektan sejarah . ketika ia mempelajari Al-Qur’an ia sampai pada satu
kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan Al-Qur’an itu terbagi menjadi dua
bagian. Bagian pertama, berisi konsep-konsep, dan bagian kedua berisi
kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.
2. Pendekatan
Historis dalam Studi Islam dan Manfaatnya
Pendekatan historis dalam studi
Islam amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun
dalam situasi dan kondisi sosial masyarakat, yaitu bagaimana melakukan
pengkajian terhadap berbagai studi keislaman dengan menggunakan pendekatan historis
sebagai salah satu alat (metodologi) untuk menyatakan kebenaran dari objek
kajian itu.
Pentingnya pendekatan ini,
mengingat karena rata-rata disiplin keilmuan dalam Islam tidak terlepas dari
berbagai peristiwa atau sejarah. Baik yang berhubungan dengan waktu, lokasi dan
format peristiwa yang terjadi. Melalui pendekatan historis dalam studi Islam
ditemukan berbagai manfaat yang amat berharga, guna merumuskan secara benar
berbagai kajian keislaman dengan tepat berkenaan dengan suatu peristiwa.[7]
Berdasarkan paparan di atas dapat ditemukan suatu
rumusan bahwa Islam sebagai agama tidak dapat dipungkiri merupakan fenomena
sejarah. Oleh karena itu, pendekatan sejarah dalam studi Islam amat dibutuhkan
dalam melakukan pengkajian terhadap salah satu alat (metodologi) untuk
menyatakan kebenaran dari objek kajian itu sehingga muaranya merupakan
pemahaman terhadap Islam akan lebih baik.[8]
B. Pendekatan
Politis
Teori politik normatif adalah
cara untuk membahas lembaga sosial, khususnya berhubungan dengan kekuasaan
publik, dan tentang hubungan antara individu di dalam lembaga politik disebut
juga sebagai moral atau politik. Pendekatan politis adalah salah satu upaya
memahami agama dengan cara menanamkan nilai-nilai agama pada lembaga sosial
agar timbul motivasi atau keinginan untuk meraih kebahagian dan kesejahteraan
serta perdamaian pada masyarakat. Pendekatan politis dibagi menjadi lima yaitu:[9]
1.
Pendekatan Politis Dekonfessionalisasi
Pendekatan politis
dekonfessionalisasi adalah pendekatan atau usaha dengan meninggalkan seluruh
identitas keyakinan yang berupa simbol dalam sementara waktu untuk menyatukan
perbedaan antara kelompok dan memelihara hubungan politik bersama dengan sebuah
negara agar tercapai suatu kesatuan dan kebersamaan yang lebih besar.
Pancasila sebagai ideologi
negara yang digunakan bangsa Indonesia untuk menjadikan bernegara, hal tersebut
bukan berarti Islam kalah dengan pancasila melainkan didalam pancasila tersimpan
nilai-nilai Islam yaitu keesaan Tuhan, demokrasi, keadilan sosial dan kemanusiaan.
2.
Pendekatan Politis Domestik Islam
Teori ini menggambarkan
hebatnya Islam berkembang di Indonesia bernegara, tetapi lumpuh karena
didominasi kekuatan lokal. Menurut Harry J, berpandangan bahwa bangkitnya
mataram Islam sebenarnya adalah kekuatan Hindu Jawabukanlah Islam itu sendiri.
3.
Pendekatan Politis Skismatik dan Aliran
Teori ini dikembangkan oleh
Robert Jay dan Clifford Goerta. Pendekatan siksmatik memberikan gambaran
tentang adanya realitas kelompok aliran dalam kehidupan sosial, budaya, dan
politik serta agama dalam masyarakat jawa. Dari penjelasan tersebut dapat
disimpulkan bahwa kekuatan diluar Islam yang senantiasa menyaingi bahkan
menjinakan kelompok abangan dan priayi.
4.
Pendekatan Politik Trikotomi
Pendekatan ini dikembangkan oleh
Allan Samson dalam aliran ini dijelaskan karakteristik Islam tidak dapat
dilihat secara tanggal seperti santri yaitu mereka yang tetap mempertahankan
Islam sebagai baris dan norma dalam berpolitiknya. Politik santri dibagi
menjadi tiga yaitu:
a.
Fundamentalis, yaitu menetapkan agama dalam aspek
kehidupan, termasuk bernegara.
b.
Reformis, yaitu menempatkan secara rasional posisi
Islam dalam kehidupan pilitik termasuk membangun relasi bagi penerapan
kepentingan Islam.
c.
Akomodisionis, yaitu kelompok santri yang lebih
terbuka walau sepintas tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
5.
Pendekatan
Politik Kultural atau Diversifikasi
Islam dalam skala kebudayaan memiliki kemenangan yang hebat di Indonesia.
Teori ini mengarahkan kembali energi politik umat Islam ke dalam kegiatan non
politik. Islam kultural akan memunculkan Islam yang lebih simpatik. Dari
penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kultural menjelaskan Islam
sebagai kekuatan budaya yang berhasil dalam menaklukan kekuatan politik.
C. Pendekatan Psikologis
Psikologi
berasal dari bahasa Yunani psych yang berarti jiwa dan logis yang
berarti ilmu. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa. Pendekatan psikologi
adalah paradigma cara pandang memahami dengan mempelajari jiwa seseorang dengan
cara melihat gejala perilaku yang dapat diamati atau pendekatan yang bertujuan
untuk melihat keadaan jiwa pribadi-pribadi yang beragama.[10]
Dalam ajaran agama banyak kita jumpai istilah-istilah yang menggambarkan sikap
batin seseorang. Seperti sikap beriman dan bertakwa kepada Allah, sebagai orang
yang saleh, orang yang berbuat baik, orang yang sadik (jujur), dan sebagainya.
Semua itu adalah gejala-gejala kejiwaan yang berkaitan dengan agama.[11]
Dengan
psikologi ini, akan diketahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan
diamalkan serta sebagai alat untuk memasukkan agama ke dalam jiwa seseorang
sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan ilmu ini agama akan menemukan cara yang
tepat dan cocok untuk menanamkannya. Kita misalnya dapat mengetahui pengaruh
dari shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya dengan melalui ilmu jiwa.
Itulah sebabnya ilmu jiwa ini banyak digunakan sebagai alat untuk menjelaskan
gejala atau sikap keagamaan seseorang.[12]
Ada
banyak hal dan aspek yang sangat mempengaruhi kejiwaan manusia, salah satunya
merupakan agama. Agama merupakan fenomena umum bagi manusia. Mayoritas dari
manusia menganut agama sebagai kebutuhannya. Besarnya pengaruh agama terhadap
kejiwaan manusia, dan populernya agama di kalangan manusia, melahirkan psikologi
agama. Psikologi agama merupakan ilmu yang mengkaji kehidupan beragama pada
manusia dan pengaruh keyakinan agama tersebut dalam sikap dan tingkah laku
serta keadaan hidup pada umumnya atau suatu ilmu yang mempelajari jiwa manusia
dalam hubungannya dengan agama.[13]
Sebagai
disiplin ilmu yang otonom, maka psikologi agama juga memiliki beberapa
pendekatan, antara lain:[14]
a.
Pendekatan Struktural
Pendekatan structural merupakan
pendekatan yang bertujuan untuk mempelajari pengalaman seseorang berdasarkan
tingkatan atau kategori tertentu. Struktur pengalaman tersebut dilakukan dengan
menggunakan metode pengalaman dan intropeksi.
b.
Pendekatan Fungsional
Pendekatan fungsional merupakan
pendekatan yang dilakukan untuk mempelajari bagaimana agama dapat berfungsi
atau berpengaruh terhadap tingkah laku hidup individu dalam kehidupannya.
c.
Pendekatan Psiko-analisis
Pendekatan psiko-analisis merupakan
suatau pendekatan yang dilakukan untuk menjelaskan tentang pengaruh agama dalam
kepribadian seseorang dan hubungannya dengan penyakit-penyakit jiwa.
Pendekatan
psikologis merupakan pendekatan yang memfokuskan pencarian terhadap masalah
kejiwaan manusia. Karena itu, psikologi agama mencari tahu masalah kejiwaan
dalam hubungannya dengan agama. Ada beberapa contoh studi Islam yang dapat
didekati dengan pendekatan psikologis, antara lain:
a.
Tentang masalah perasaan seorang
ahli tasawuf yang merasa bahwa Allah selalu dekat dengannya dan hadir dalam
hatinya dan ia melakukan zikir secara terus-menerus dan secara sadar. Masalah
pokok dalam kajian ini merupakan perasaan (dekat dengan Allah) manusia (ahli
tasawuf) dan bagaimana perasaan tersebut muncul.
b.
Masalah lainnya merupakan masalah
kepuasan seorang hamba terhadap kehidupannya. Di mana bisa dibandingkan antara
dua gejala yakni seorang yang sederhana tapi mempunyai tingkat ibadah yang
lebih tinggi dengan seorang yang cukup tapi mempunyai ibadah yang rendah.
Masalah pokok yang dicari merupakan pengaruh tingkat ibadah tersebut terhadap
rasa puas dalam kehidupan.[15]
Pendekatan psikologis juga dapat digunakan sebagai alat untuk
mengidentifikasi kadar dan tingkat ajaran Islam sesuai dengan tingkat umur
seseorang. Hingga ajaran Islam tidak berubah menjadi semata-mata sistem-sistem
nilai tanpa teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun kontribusi pendekatan psikologis agama dalam studi Islam
merupakan:
a.
Untuk membantu di dalam meneliti
bagaimana latar belakang keyakinan beragama seorang Muslim.
b.
Untuk membantu menyelesaikan
masalah-masalah keberagaman seorang Muslim, seperti penyakit mental dan
hubungannya dengan keyakinan beragama.
c.
Untuk mengetahui bagaimana hubungan
manusia dengan Allah dan bagaimana pengaruh hubungan tersebut terhadap perilaku
dan cara berpikir.[16]
Pendekatan psikologis bertujuan
untuk menjelaskan keadaan jiwa seseorang. Keadaan jiwa tersebut dapat diamati
melalui tingkah laku, sikap, cara berpikir dan berbagai gejala jiwa lainnya.
Dalam penelitian, informasi tentang gejala-gejala tersebut dapat bersumber dari
berbagai hal, seperti observasi, wawancara atau surat maupun dokumen pribadi
yang diteliti.
D.
Pendekatan
Interdisipliner
Pendekatan
interdisipliner adalah upaya dalam memahami Islam dengan menggunakan sejumlah
sudut pandang pendekatan, karena dalam teori interdisipliner sangat penting dibanding
hanya satu pendekatan saja. Contoh interdisipliner adalah seperti aborsi, perlu
dilacak nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi tentang larangan pembunuhan anak,
dan tahap penciptaan manusia dihubungkan teori embriologi.[17]
Pendekatan
interdisipliner yang dimaksud disini adalah kajian dengan menggunakan sejumlah
pendekatan atau sudut pandang (pespektif). Dalam studi misalnya menggunakan
pendekatan sosiologis, historis dan normative secara bersamaan. Pentingnya
penggunaan pendekatan ini semakin disadari keterbatasan dari hasil-hasil
penetilitian yang hanya menggunakan satu pendekatan tertentu.
Dari
pendekatan interdisipliner akan memunculkan beberapa pendekatan baru dengan
catatan:
1.
Perkembangan pembidangan studi Islam
dan pendekatannya sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.
2.
Adanya penekanan terhadap bidang
pendekatan tertentu, dimaksudkan agar mampu memahami ajaran Islam lebih lengkap
(komprehensif) sesuai dengan kebutuhan tuntutan yang semakin lengkap dan
komplek.
3.
Perkembangan tersebut adalah satu
hal yang wajar dan seharusnya memang terjadi, kalau tidak menjadi pertanda
agama semakin tidak mendapat perhatian, dan bahkan diacuhkan.
Dengan
pendekatan interdisipliner akan memunculkan beberapa pendekatan studi Islam
yang lain, sebagian besar dipengaruhi studi kawasan. Misalnya:
1.
Sastra Islam dan arkeologi
2.
Linguistik (bahasa)
3.
Sastra (literature)
4.
Ekonomi
5.
Ilmiah
6.
Doktriner
7.
Fiologi (cinta terhadap kata-kata)
8.
Semiotika (makna benda/lambang)
9.
Mistis
Berikut ini ada beberapa macam
pendekatan interdisipliner, antara lain:
1.
Pendekatan Sejarah
Melalui pendekatan sejarah, ilmu
pendidikan Islam akan memiliki landasan yang kuat sehingga terjadi hubungan
mata rantai yang jelas antara pendidikan yang dilaksanakan sekarang dengan
pendidikan yang pernah ada di masa lalu. Bangunan ilmu pendidikan
Islam yang didasarkan pada pendekatan sejarah akan memiliki landasan yang lebih
realitas dan empiris, karena bertolak dari praktik pendidikan yang benar-benar
telah terjadi. Ilmu pendidikan Islam dengan pendekatan sejarah merupakan sebuah
bentuk aprisiasi atas berbagai peristiwa masa lalu untuk digunakan
sebagai bahan renungan dan pelajaran bagi pengembangan Islam di masa sekarang.
Yang jelas, sejarah adalah fakta
yang benar-benar terjadi bukan yang seharusnya terjadi, ia adalah realitas
bukan idealitas. Oleh karena itu, pendekatan sejarah amat dibutuhkan dalam
upaya kita melakukan studi Islam, karena Islam itu sendiri turun dalam situasi
yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan.
2.
Pendekatan
Filsafat
Filsafat
berasal dari kata phils yang berarti cinta dan kata sophia
yang berarti pengetahuan, hikmah, dan kebijaksanaan. Dasar pendekatan filsafat
Islam, islam pada hakekatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai
suatu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia . sumber
ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu adalah al-Qur’an dan Hadist.
Filsafat dalam
kajian studi Islam merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mengungkap
permasalahan dan memperoleh solusi atas permasalahan tersebut. Pendekatan
filosofis berupaya mencari jawaban atas segala sesuatu atau hikmah di balik
objek formal (fisik) dengan ciri khas mendalam, radikal dan sistematis.
Pendekatan
filsafat bersifat mendalam artinya mengoptimalkan kemampuan akal sampai tak
sanggup lagi dijangkau, radikal artinya pembahasan dilakukan sampai ke akar
permasalahan hingga taka da lagi yang tersisa sedangkan sistematis adalah
dilakukan secara teratur dan menggunakan metode berfikir tertentu dan
universal.[18]
Islam menjadi jiwa yang mewarnai
suatu pemikiran filsafat itulah yang disebut filsafat Islam bukan karena orang
yang melakukan kefilsafatan itu orang muslim, tetapi dari segi obyek membahas
mengenai keislaman.
3.
Pendekatan
Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu tentang
kemasyarakatan, ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan
masyarakat. Sosiologi didifinisikan secara luas sebagai bidang
penelitianyang tujuannya meningkatkan pengetahuan melalui
penagmatan dasar manusia, dan pola organisasi serta hukumnya. Selanjutnya
sosiologi digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam studi Islam yang
mencoba untuk memahami Islam dari aspek sosial yang berkembangdimasyarakat,
sehingga pendidikan dengan pendekatan sosiologis dapat diartikan sebagai
sebuah studi yang memanfaatkan sosiologi untuk menjelaskan
konsep pendidikan dan memecahkan berbagai problem yang dihadapinya.
Ada
empat fungsi mempelajari sosiologi, yaitu sebagai berikut:[19]
1.
Kita
akan dapat melihat dengan jelas siapa diri kita, baik sebagai pribadi maupun
sebagai anggota kelomppok atau masyarakat.
2.
Sosiologi
membantu kita untuk mampu mengkaji tempat kita di masyarakat, serta dapat
melihat budaya lain yang belum kita ketahui.
3.
Dengan
bantuan sosiologi, kita akan semakin memahami pula norma, tradisi, keyakinan,
dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lain.
4.
Kita
sebagai generasi penerus, mempelajari sosiologi membuat kita lebih tanggap,
kritis, dan rasional menghadapi gejala-gejala sosial masyarakat yang makin
kompleks.
4.
Pendekatan
Fiologi
Pendekatan fenologi dapat digunakan
hampir dalam semua aspek kehidupan umat Islam, tidak hanya untuk kepentingan
orang barat tetapi memainkan peran penting dalam dunia orang Islam sendiri yang
berbentuk penelitian fenologi dan sejarah yang banyak dilakukan oleh pembaharu,
intelektual, politisi, dan lain sebagainya.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Pendekatan Metodologi Studi Islam adalah cara pandang atau
paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan
dalam memahami agama. Dalam hal ini adalah agama Islam. Islam dapat dilihat
dalam beberapa aspek yang sesuai dengan cara pandangnya. Adapun pendekatan
studi Islam bagian, antara lain: pendekatan historis, pendekatan politis,
pendekatan psikologis dan pendekatan interdisipliner
Pendekatan historis dalam studi
Islam amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun
dalam situasi dan kondisi sosial masyarakat, yaitu bagaimana melakukan
pengkajian terhadap berbagai studi keislaman dengan menggunakan pendekatan
historis sebagai salah satu alat (metodologi) untuk menyatakan kebenaran dari
objek kajian itu.
Pendekatan politis adalah salah
satu upaya memahami agama dengan cara menanamkan nilai-nilai agama pada lembaga
sosial agar timbul motivasi atau keinginan untuk meraih kebahagian dan
kesejahteraan serta perdamaian pada masyarakat.
Pendekatan psikologi adalah paradigma cara pandang memahami dengan
mempelajari jiwa seseorang dengan cara melihat gejala perilaku yang dapat
diamati atau pendekatan yang bertujuan untuk melihat keadaan jiwa
pribadi-pribadi yang beragama.
Pendekatan interdisipliner adalah upaya dalam memahami Islam dengan
menggunakan sejumlah sudut pandang pendekatan, karena dalam teori interdisipliner
sangat penting dibanding hanya satu pendekatan saja. Pendekatan interdisipliner
yang dimaksud disini adalah kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan atau
sudut pandang (pespektif).
B.
Saran
Adapun saran yang dapat kami sampaikan melalui
makalah ini, yaitu agar pembaca dapat memahami serta mempelajari isi dari
makalah berjudul “Pendekatan Studi Islam (Bagian 2)” yang sekiranya dapat
menambah wawasan, dan pembaca dapat mengidentifikasi macam-macam Pendekatan
Studi Islam beserta penjelasannya.
DAFTAR PUSTAKA
Arfa, Faisar Ananda. dkk. 2016. Metode Studi Islam: Jalan Tengah
Memahami Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
Batubara, Chuzaimah. dkk. 2018. Handbook Metodologi Studi Islam.
Jakarta: Prenadamedia Group.
Kurniawan, Muhammad Galang. 2018. Macam Pendekatan Interdisipliner
di https://www.academia.edu/35641353/MACAM_PENDEKATAN_INTERDISIPLINER
(di akses 01 Oktober 2019).
Nata, Abuddin. 2012. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali
Pers.
[1] Chuzaimah batubara.
dkk. Hanbook Metodologi Studi Islam (Jakarta: Prenamedia Group, 2018), hlm. 176.
[2] Ibid, hlm.
176.
[3] Faisar Ananda Arfa. dkk. Metode
Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2016),
hlm. 132.
[4]
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2012),
hlm. 48.
[5] Faisar Ananda Arfa. dkk. Metode
Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2016),
hlm. 137.
[6] Ibid, hlm.
137.
[7] Ibid, hlm.
150.
[8]
Ibid, hlm. 151
[9] Chuzaimah batubara. dkk. Hanbook Metodologi Studi Islam
(Jakarta: Prenamedia Group, 2018), hlm. 179
[10]
Ibid, hlm. 180
[11]
Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Rajawali Pers, 2012),
hlm. 50.
[12]
Ibid, hlm. 51
[13]
Faisar Ananda Arfa, Metode Studi Islam: Jalan Tengah Memahami Islam
(Jakarta: Rajawali Pers, 2016), hlm. 178
[14]
Ibid, hlm. 179-180
[15]
Ibid, hlm. 183.
[16]
Ibid, hlm. 185.
[17]
Chuzaimah Batubara, Handbook Metodologi Studi Islom (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2018), hlm. 181.
[18]
Muhammad Galang Kurniawan, Macam Pendekatan Interdisipliner, diakses
dari https://www.academia.edu/35641353/MACAM_PENDEKATAN_INTERDISIPLINER,
pada tanggal 01 Oktober 2019, hlm. 3
[19]
Ibid, hlm. 6
No comments:
Post a Comment