KAJIAN AL-QUR’AN
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
A. Latar Belakang ..................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... 2
A. Pengertian Al-qur’an ........................................................................................... .2
B. sejarah
turun dan pengumpulan al-qur’an............................................................. .4
C. isi kandungan al-qur’an......................................................................................... .7
D. Autentisitas al-qur’an........................................................................................8
E. Fungsi dan tujuan al-qur’an...............................................................................10
F. Posisi al-qur’an dalam studi keislaman..............................................................12
BAB II PENUTUP ................................................................................................... 13
Kesimpulan ............................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Al-Qur’an adalah
kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan
puncak dan penutup Wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari
rukun iman yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantara
Malaikat Jibril. Dan
sebagai Wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW, sebagaimana terdapat dalam
surat Al-Alaq ayat 1-5. Al-Qur’an merupakan salah satu kitab yang mempunyai
sejarah panjang yang dimiliki oleh umat Islam dan sampai sekarang masih terjaga
keasliannya.
Al-Qur’an
dalam pengumpulannya mempunyai dua tahap yaitu tahap petama pengumpulan
Al-qur’an dalam arti menghafal Al-Qur’an pada masa Nabi, tahap kedua dalam arti
penulisan Al-Qur’an, hal ini dinamakan penghafalan dan pembukuan Al-Qur’an. Setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW, proses
pengumpulan Al-Qur’an
terus dilaksanakan oleh para khalifah sehingga terbentuklah Mushaf Usmani
seperti yang ada pada saat sekarang ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengertian Al-Qur`an?
2. Bagaimana Sejarah turunnya Al-Qur`an?
3. Bagaimana Isi kandungan Al-Qur`an?
4. Bagaimana Autentisitas Al-Qur`an?
5. Bagaimana Fungsi dan Tujuan Al-Qur`an?
6. Bagaimana Posisi Al-Qur`an dalam studi keislaman?
B. Tujuan
1. Untuk
mengetahui Pengertian Al-Qur`an
2. Untuk
mengetahui Sejarah turunnya Al-Qur`an
3. Untuk mengetahui Isi kandungan Al-Qur`an
4. Untuk mengetahui Autentisitas Al-Qur`an
5. Untuk mengetahui Fungsi dan Tujuan Al-Qur`an
6. Untuk mengetahui Posisi Al-Qur`an dalam studi keislaman
1
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Al-Qur`an
secara bahasa diambil dari kata: قر ا يقرا قراة وقرانا
yang berarti sesuatu yang dibaca. Arti ini mempunyai makna anjuran kepada umat
Islam untuk membaca Alquran. Alquran juga bentuk mashdar dari القراة yang
berarti menghimpun dan mengumpulkan. Dikatakan demikian sebab seolah-olah
Alquran menghimpun beberapa huruf, kata, dan kalimat secara tertib sehingga
tersusun rapi dan benar.[1]
Secara
etimologi, Al-qur’an berasal dari kata “qara-a, yaqra-u, qiraatan atau
quranan" berarti mengumpulkan (al-jam’u), menghimpun (al-dlommu) huruf-huruf serta kata-kata dari bagian ke
bagian lain secara teratur.
1. Al- Lihyani dan kawan-kawan mengatakan
Al-Qur`an berasal dari kata qara`a (membaca)
adalah merujuk kepada firman Allah SWT surah al-Qiyaamah (75) ayat 17-18:
إِنَّ
عَلَيْنَا جَمْعَهُۥ وَقُرْءَانَهُۥ
فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ
Sesungguhnya
atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya (17). Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah
bacaannya itu (18).
2. Al-zujaj menjelaskan bahwa kata al quran
merupakan kata siffat yang berasal dari kata bill (‘al-qar') yang artinya
menghimpun. Kata sifat ini kemudian dijadikan nama bagi fmnan Allah yang
ditumnkan kepada Nabi Muhammad SAW. Makna tersebut menunjukkan bahwa kitab
Al-Qur'an menghimpun surah, ayat, kisah, perintah, larangan dan intisari
kitab-kitab suci sebelumnya.
3. Al-Asy’ari mengatakan bahwa Al-Qur’an diambil
dari kata kerja ‘qarana’(menyertakan) karena Al-Qur'an menyertakan surah, ayat.
dan huruf-huruf.
2
4. Al-farra' menjelaskan bahwa kata Al-Qur’an
diambil dari kata dasar ‘qara'in’ (penguat) karena Al-Qur’an terdiri dari
ayat-ayat yang saling menguatkan. dan terdapat kemiripan antara satu ayat
dengan ayatayat lainnya.[2]
5. Menurut Quraisy Shihab,Al-Qur’ansecara harfiah
berarti bacaan sempurna. Ia merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh
tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis baca lima ribu
tahun yang lalu yang dapat menandingi Al-Qur’an, bacaan sempurnaa lagi mulia[3].
Dalam teori yang lain, istilah Al~Qur’an
dinyatakan sebagai nama khusus yang ditunjukan kepada kumpulan wahyu Allah SWI‘
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Istilah Al-Qur'an ini bukan berasal
dari pecahan kata dalam bahasa Arab ialah nama kitab-kitab seperti Taurat,
Zabur, dan Injil. Semua istilah ini adalah khusus untuk nama kumpulan waahyu
Allah SWT yang diturunkan kepada nabinya masing-masing.[4]
B. Sejarah
Turun Dan Pengumpulan Al-Qur’an
Sejarah singkat Al-Qur’an ialah ayat-ayat Al-Qur’an
diturunkan oleh Allah SWF kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur
sejak malam Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun ke-4l dari umur Nabi SAW sampai
dengan 9 Zulhijjah pada hari haji wada pada tahun 11 H tahun ke-63 dari umur
Nabi SAW. Pertama kali Al-Qur’an diturunkan di Gua Hira pada malam Jum'at
tanggal l7 Ramadhan.1.amanyaAl-Qur’an diturunkan sejak ayat pertama sampai
terakhir adalah 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Dan malam pertama Al-Qur’an
diturunkan adalah pada malam lailatulqadar, menurut riwayat. Nabi Muhammad SAW
wafat setelah 81 malam dari turunnya ayat yang terakhir.[5]
3
1.
Masa
Nabi Muhammad SAW
Rasulullah telah mengangkat para penulis wahyu
Al-Qur'an dan sahabat-sahabat terkemuka, para ulama telah menyampaikan bahwa
segolongan dari mereka di antaranya Ali bin Abi Thalib. Muaz bin Jabal, Ubai
bin Ka'b. Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas’ud telah menghafal Al-Qur'an di
masa Rasulullah.[6]
Bila ayat turun. rasul memerintahkan mereka menuliskannya
sehingga penulisan pada lembaran itu membantu penghafalan di dalam hati. Para
penulis wahyu menuliskan Al-Qur'an pada pelepah kurma, lempengan batu, daun
lontar, kulit atau daun kayu, potongan tulang belulang binatang.
Al-Khattabi berkata: “Rasulullah tidak mengumpulkan
Al-Qur’an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh
terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya
dengan wafatnya Rasullah SAW, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara
lengkap kepada para khulafaur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar
kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaan-Nya dalam surah Al-Hijr (15): 9.
Pengumpulan Al-Qur'an di masa rasul ini dinamakan Penghafalan dan Pembukuan
pertama.[7]
2. Masa
Abu Bakar Abu Bakar
Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan yang
berserakan pada kulit-kulit, tulang dan pelepah kurma tersebut dikumpulkan
dalam satu mushaf. dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun serta
dituliskan dengan sangat berhati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan itu
Al-Qur'an diturunkan. Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpdkan Al-Qur'an
dalam satu mushaf dengan cam seperti ini pengumpulan ini dinamakan pengumpulan
kedua.[8]
4
3. Masa
Usman bin Affan
Pada masa ini terjadi perbedaan-perbedaan Al-Qur’an di
berbagai
daerah Islam. Penyebaran Islam bertambah luas dan para qari pun tersebar di
berbagai wilayah, dan penduduk di setiap wilayah itu mempelajari qira’at(
bacaan ) dari qari yang dikirim pada mereka. Cara-cara pembacaan (qira’at)
Al-Qur'an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan karena mereka menggunakan
huruf (logat) yang berbeda-beda sesuai dengannya Al-Qur'an diturunkan.
Apabila mereka berkumpul di suatu penemuan atau di
suatu Inedan peperangan, sebagian mereka merasa heran akan adanya perbe’ daan
qira’at ini. Terkadang sebagian dari mereka merasa puas karena mengetahui bahwa
perbedaan itu disandarkan pada Rasulullah. Tetapi keadaan demikian bukan
berarti tidak menyusupkan keraguan pada generasi baru yang tidak melihat
Rasulullah, sehingga terjadilah pembicaraan bacaan mana yang baku dan lebih
baku, hingga menimbulkan penentangan, permusuhan dan perbuatan dosa.
Karena khawatir akan timbul bencana, Usman segera
memerintahkan membentuk panitia yang terdiri dari para ahli yaitu: Zaid bin
tsabit beserta para ahli yang lain menulis wahyu ke dalam satu mushaf dengan
menertibkan surat-suratnya. membatasinya hanya pada bahasa Quraisy dengan
alasan bahwa Al-Qur' an diturunkan dengan bahasa Quraisy.
Mushaf-mushafyang telah di salin itu dikirim ke setiap
pelosok daerah, dan mushafyang lama di perintahkan untuk dimusnahkan dan
dibakar. Apa yang dilakukan Usman itu disepakati oleh para sahabat. Dengan
usahanya itu Usman berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber
perselisihan serta menjaga Al-Qur’an dan penambahan dan penyimpangan sepanjang
zaman.Pengumpulan Al-Qur’an oleh Usman ini disebut dengan Pengumpulan Ketiga
yang dilaksanakan pada 25 H. [9]
C. Isi
Kandungan Al-Qur'an
Al-Qur'an merupakan kitab Suci yang di dalamnya sudah
djjelaskan sistem perekonomian. politik.
sosial, budaya. ilmu pengetahuan dan seterusnya sehingga tidak ada suatu pun
yang lerlupakan oleh-Nya. Hal ini di dasarkan pada Al-Qur'an Surah al-Maaidah
ayat (5):3 حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ
الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ
وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ
إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا
بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ
دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْم أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ
اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ
رَحِيمٌ
Diharamkan bagimu (memakan)
bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain
Allah, yang tercekik, yang dipukul. yang jaluh. yang ditanduk. dan yang
diterkam binatang buaS. kecuali yang sempat kamu sembelihnya dan (diharamkan
bagimu) yang disembelih unruk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib
dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu.
sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari
ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah ku ridhoi Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa
terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang(13).
Ayat-ayat di atas dan yang senada dengannya memang
dapat diartikan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang sempuma isinya dalam arti
tidak ada sesuatupun yang dilupakan dan segala-segalanya telah dijelaskan dalam
isinya. Berikut garis besar isi AL-Qur'an:
1.Tentang
Keimanan ( Tauhid )
Membicarakan
tentang ajaran yang menyangkut keyaldnan agama 151m seperti adanya Allah,
kitab-kitab Allah. para Rasul, dan hari kiamat dan taqdir. Contohnya terdapat
dalam Surah Ali-Imran (3):
هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي
الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ
الْحَكِيمُ
Dialah
yang membentuk kamu dalam rahim menurut
yang dia kehendaki. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.
2.Tentang
Hukum
Garis besamya meliputi:
l. Ibadah: Peraturan tentang hubungan antara manusia
dengan Allah (Hablumminallah), seperti shalat, puasa, haji, zakat. QS. al-A'raaf
(7):229.
Katakanlah “Tuhanku menyuruhku
berlaku adil, hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat dan
sembahlah dia dengan mengikhlaskan Ibadah semata-mata hanya kepada-Nya
sebagaimana kamu diciptakan semula
6
2. Jinayat:
Peraturan yang berhubungan dengan kriminal seperti membunuh, berzina, mencuri.
Terdapat dalam QS. al-Maaidah: (15): 38 (Hukum Mencuri), QS. an-Nisaa' (4): 92
(Hukum Pembunuhan), QS. an-Nuur (24): 2-4 (Zina).
3. Munakahat: Peraturan (UU Perkawinan) dan
juga hukum mawaris. Terdapat dalam QS. An-Nisaa’ (14): 7-13 (Mawaris), QS.
an-Nuur (24): 32 (Munakahat).
4. Jihad: Peraturan-peraturan dalam suasana
perang untuk mempertahankan kesucian agama.Terdapat dalam QS. al-Baqarah (2):
218,194 (Etika dalam Berperang).
3. Tentang Sejarah
1) Perjuangan
para rasul dan Nabi.
2) Kemenangan
dan kemasyhuran umat-umat yang terdahulu karena mereka taat dan patuh kepada
Allah dan Rasulnya. Terdapat dalam QS. al-Kahfi (18): 9-26 (Ashabul Kahfl). QS.
al-Qashash (28): 76-83 (Harun).
4. Tentang Janji dan Peringatan
Terdapat dalam QS.
an-Nisaa' (4): 122 (Otang Beriman Masuk kedalam Surga), Q3. al-Ma'aarij (70):
22-35(Orang yang Memelihara Shalat Dimuliakan dalam Syurga)
5. Tentang Peringatan Tuhan
Terdapat dalam QS.
al-Baqarah (2): 206 (Tentang Kesombongan), QS. ali-Imran (3): 25 (Hari
Pembalasan).
6. Tentang Pendidikan Budi Pekerti/ Akhlak
Mahmudah.
Terdapat dalam QS. an-Nisaa’(4): 86 (Penghormatan).
QS. al-Baqarah (12): 195 (Berinfak
dan Berbuat Baik).
Al-Qur'an yang
memuat ketentuan tentang Iman, Ibadah, dan hidup kemasyarakatan kurang lebih
hanya ada 500 buah ayat atau a perSen dan‘ keseluruhan ayat Al-Qur’an. Dari
sejumlah itu, ayat-ayat mengenai ibadah ada 140, dan tentang hidup
kemasyarakatan ada 223 ayat. dan kemudian sisanya berisi tentang keimanan.
7
D. Autentisitas Al-Qur’an
Janji Allah untuk
menjaga autentisitas Al-Qur’an. Penggalan ayat Wa Inna Lahu lahafidhun mengandung dua pengertian penting terkai‘
dengan pemeliharaan Al-Qur‘an. Pertama,
secara bahasa susunan kalimat semacam ini memiliki kaidah makna istimror yakni terus-menerus; Kedua,
dipergunakan kata innd sebagai kata ganti bagi Allah dalam penggalan ayat itu
menunjukkan perlunya keteribatan manusia (selain Allah) dalam pemeliharaan
Al-Qur'an itu. Atas dasar kedua hal ini dapatlah dipahami bahwa Allah
senantiasa menjaga autentitas Al-Qur'an sampai akhir zaman. Hanya saja dalam
aktivitas pemeliharaannya itu. Allah menuntun kepada manusia agar ikut berperan
aktif di dalamnya. Dengan adanya jaminan setegas ini maka setiap Muslim percaya
betul dan wajib percaya, bahwa apa yang dibaca dan didengarkan sebagai
Al-Qur'an seperti ini tidak berbeda sedikitpun dengan Al-Qur'an yang pernah
dibaca oleh Rasulullah dan didengar serta dibaca oleh para Sahabat Nabi. Inilah
makna sebenamya dari autentitas Al-Qur’an.
Ada beberapa
manfaat yang dapat diambil oleh umat manusia dengan terpeliharanya Al-Qur'an
yaitu:
1. Al-Qur'an menjadi satu-satunya kitab suci
yang sama sekali redaksinya tidak pemah mengalami perubahan. Apa yang dibaca
dari isi AI-Qur’an sekarang adalah sama dengan apa yang dibaca oleh para
sahabat I4 abad yang lalu.
2. Terpeliharanya keautentikan AJ~Qur‘an menjadikannya
sebagai sumber pertama ajaran Islam, ia berisi nilai-nilai ajaran yang bersffat
global, universal, dan mendalam karena itu perlu penjelasan lebih lanjut. Di
sinilah pentingnya peranan tafsir guna menjelaskan Iebih lanjut mengenai apa
yang dimaksud Al-Qur'an.
3. Al-Qur’an menjadi al-furqan yang berarti
pembeda. Dengan membaca dan memahami Al-Qur‘an. orang dapat membedakan dan
memisahkan antara yang hak dan yang batil. Selain itu Al-Qur’an juga menjadi
az-zikra. yaitu peringatan yang mengingatkan manusia akan posisinya sebagai
makhluk Allah yang memiliki tangguns jawab.
8
4. Terpeliharanya keautemikan dan keaslian
redaksi Al-Qur'an, menjadikannya sebagai sumber ilmu pengetahuan. Di dalamnya
terdapat berbagai petunjuk yang tersurah dan tersirat yang berkaitan dengan
ilmu pengetahuan. Isyarat-isyarat ilmiah Al-Qur'an temyata dapat dibuktikan
kebenarannya oleh ilmuwan di abad modem saat ini.
E.Fungsi
Dan Tujuan Al-Qur’an
Dari sudut isi
atau subsitansinya, fungsi Al-Qur’an sebagai tersurah dalam nama-namanya adalah
sebagai berikut:
1. Fungsi dan Tujuan AI-Qur’an
Al-Qur’an al karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai
ciri dan sifat, ia merupakan kitab Allah yang selalu dipelihara. Al-Qur’an
mempunyai sekian banyak fungsi diantaranya:
a) . Menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW bukti
kebenaran tersebut dikemukakan dalam tantangan yang sifatnya bertahap.
1) Menantang siapapun yang meragukannya untuk menyusun
semacam Al-Qur’an secara keseluruhan.
2) Menantang mereka untuk menyusun sepuluh surat semacam
Al-Qur’an.
3) Menantang mereka untuk menyusun satu surat saja semacam Al-Qur’an.
4) Menantang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama
dengan satu surah dari Al-Qur’an.[10]
b). Sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW untuk membuktikan kenabian dan
kerasulannya dan Al-Qur’an adalah ciptaan Allah bukan ciptaan nabi. Hal ini
didukung dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Isra’ ayat 88:
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ
أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ
بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرً ا
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul
untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat
yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi
sebagian yang lain"[11]
c). Sebagai huda yaitu petunjuk bagi
kehidupan umat. Dalilnya terdapat dalam QS. Luqman (31): 3.
d). Sebagai rahmat yaitu bentuk kasih
sayang Allah. Dalilnya terdapat dalam QS. Yunus (10): 58.
e).Sebagai mauizah yaitu pengajaranl nasihat
yang membimbing umat untuk mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Dalilnya
terdapat dalam QS. Yunus (10): 57.
f).Sebagai Syifau Al~shudur yaitu obat bagi
rohani yang sakit. Dalilnya terdapat dalam QS. Yunus (10): 57.
g).Sebagai Furqan yaitu pembeda antara yang
baik dengan yang buruk. yang haq dengan yang batil. Dalilnya terdapat dalam QS.
Al-Furqaan (150): l.6.
h).Sebagai Busyra yaitu berita gembira bagi
orang yang berbua‘ baik pada Allah serta manusia. Dalilnya terdapat dalam QS.
anNaml: 1-2.
i).Sebagai Tibyan/Mubiin yaitu penjelasan
wahyu Allah. Dalilnya terdapat dalam QS. Yusuf (12): l.
j). Sebagai Mushaddiq yaitu pembenaran
terhadap kitab yang datang terdahulu. Dalilnya terdapat dalam QS. az-Zumar. 33.
dapat dalam QS. an-Nisaa'(4): 174.
k). Sebagai
Nur yaitu penerang kehidupan manusia. Dalilnya terdapat dalam QS. An-Nissa
l). Sebagai Balagh yaitu memberikan
penjelasan secara perinq sehingga dapat dilaksanakan sesuai dengan yang dikehendaki
Allah. Dalilnya terdapat dalam QS. Ibrahim (44): 52.
m). Sebagai
Hakim yaitu sumber kebijakan. Dalilnya terdapat da. lam QS. Yunus (10): l.
Keberagaman penafsiran ini merupakan perwujudan dari watak
dasar yang dibawa oleh Al-Qur’an, terbuka terhadap keragaman penafsiran
(interpretable) atau qobil An-Niqash dalam pemaknaanya Watak dasar Al-Qur’an
yang menimbulkan keberagaman penafsiran di atas digambarkan oleh Abdullah
Darraz dengan, “Bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda
dengan apa yang terpan. car dari sudut-sudut yang lain, dan tidak mustahil jika
Anda mempersilakan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak
dari apa yang Anda lihat.
10
F. Posisi Al-Qur’an Dalam Studi
Keislaman
Dikalangan umat
Islam, bahwa Al-Qur'an adalah landasan pokok bagi syariat Islam. Darinya
diambil segala pokok-pokok syariat dan cabang-cabangnya, daripadanya diambil
dalil-dalil syar’i. Dengan demildan. Al-Qur'an adalah landasan pokok (kully)
bagi Syariat Islam dan pengumpul segala hukumnya sebagaimana lirman Allah dalam
Surah al-An’aam ayat (6): 38.
Selanjutnya karenaAl-Qur’an merupakan sumber utama,
maka para ulama harus terus- menerus
berusaha untuk mempelajarinya dan menggalinya dengan melakukan ijtihad untuk
mengeluarkan hukum-hukum dari ‘ibarat-‘ibarat, isyarat-isyarat, dzahir, dan
nash Al-Qur’an. Sebagaimana mereka bersungguh-sungguh mencari jalan menakwilkan
ayat-ayat mutasyabih. Mentafsirkan ayat-ayat yang mujmal, menerang kan yang
belum jelas, serta menerangkan mana yang dikatakan ‘am. nasikh, mansukh dan
sebagainnya.
Al-Qur’an sebagai sumber berbagai disiplin ilmu
keislaman dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. llmu Tauhid (Teologi )
llmu Tauhid adalah
ilmu yang membicarakan tentang wujud Tuhan (Allah). sifat-sifat yang mesti ada,
sifat-sifat mustahil dan jaiz padanya.
2. llmu Hukum
Hukum Islam atau
Fikih didefinisikan sebagai ilmu yang membahas tentang hukum-hukum syariat yhng
bersifat amaliah praktis, diambil dari dalil-dalil yang terperinci.
Kebijaksanaan
Al-Qur'an dalam menetapkan hukum menggunakan prinsip-prinsip:
a. Memberikan
kemudahan dan tidak menyulitkan.
b. Menyedikitkan
tuntutan (QS. al-Maaidah [15]: 101 dan 102).
c. Bertahap
dalam menerapkan hukum (QS. al-Baqarah [12]: 219) (an-Nisaa'l4]: 43) dan
(al~Maidah [S]: 90). [12]
d. Al-Qur’an
memberikan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia.“'(al-An'aam (6): 108) dan
(al-Israa’l17]: 32). [13]
3. Ilmu Tasawuf
Tasawuf atau
sufisme bertujuan agar seseorang secara sadar memperoleh hubungan langsung
dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa ia berada di hadirat Tuhan.
4. Ilmu Filsafat Islam
Filsafat Islam
adalah ilmu yang berbicara tentang segala sesuam yang ada untuk dicari hakikat
atau dasar serta prinsip-prinsipnya, secara sistematis. radikal, dan universal.
Dengan demikian,
Al~Qur'an dalam kerangka umtan dalil-dalil atau hukum atau sumber ajaran Islam
adalah menempati kedudukan yang paling tinggi. Dalam kaitan ini, maka Al-Qur'an
mempunyai fungsi dasar pokok, yaitu sebagai alat kontrol atau alat ukur
menganahi apakah dalil-dalil hukum yang lebih rendah sesuai atau tidak dengan
ketemuan-ketentuan Al-Qur'an.
12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. secara bahasa diambil dari kata: قر ا يقرا قراة وقرانا
yang berarti sesuatu yang dibaca. Arti ini mempunyai makna anjuran kepada umat
Islam untuk membaca Alquran. Alquran juga bentuk mashdar dari القراة yang
berarti menghimpun dan mengumpulkan. Dikatakan demikian sebab seolah-olah
Alquran menghimpun beberapa huruf, kata, dan kalimat secara tertib sehingga
tersusun rapi dan benar.
2. Sejarah
singkat Al-Qur’an ialah ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada
Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur sejak malam Jum’at tanggal 17
Ramadhan tahun ke-4l dari umur Nabi SAW sampai dengan 9 Zulhijjah pada hari
haji wada pada tahun 11 H tahun ke-63 dari umur Nabi SAW. Pertama kali
Al-Qur’an diturunkan di Gua Hira pada malam Jum'at tanggal l7
Ramadhan.1.amanyaAl-Qur’an diturunkan sejak ayat pertama sampai terakhir adalah
22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Dan malam pertama Al-Qur’an diturunkan adalah
pada malam lailatulqadar, menurut riwayat. Nabi Muhammad SAW wafat setelah 81
malam dari turunnya ayat yang terakhir.
3. Janji Allah untuk menjaga autentisitas
Al-Qur’an. Penggalan ayat Wa Inna Lahu
lahafidhun mengandung dua pengertian penting terkai‘ dengan pemeliharaan
Al-Qur‘an. Pertama,
secara bahasa susunan kalimat semacam ini memiliki kaidah makna istimror yakni terus-menerus; Kedua,
dipergunakan kata innd sebagai kata ganti bagi Allah dalam penggalan ayat itu
menunjukkan perlunya keteribatan manusia (selain Allah) dalam pemeliharaan
Al-Qur'an itu.
B. Saran
Penulis menyadari bahwa
makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan
memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat
dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran
mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas.
13
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Qattan, Manna khalil. 2011. studi ilmu-ilmu al-qur’an. Bogor: Halim
Jaya.
Anwar, Rosihan. 2008. Ulum
al-qur’an. Bandung: CV. Pustaka.
Batubara, Chuzaimah. Dkk. 2018. Handbook Metodologi Studi Islam. Jakarta : Prenadamedia Group
14
[1] Anshori,
Ulumul Quran, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), p.17
[2] Rosihan Anwar, Ulum al-qur’an, (Bandung: CV. Pustaka, 2008), h.32-34.
[3] M. Quraisy Shihab, Wawasan AL-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996), h.3
[4] Baharuddin & Buyung Ali. Metode Studi Islam, (Bandung:Citra
Pustaka, 2005) h. 41-42.
[5] Drs. H. M. Yusuf Said, MA, (Uslfiqh, Citra Pustaka: Bandung, 2010),
h. 19-26.
[6] Manna Khalil Al-Qattan, studi ilmu-ilmu
al-qur’an, (Bogor: Halim Jaya, 2011),h. 188.
[7] Manna Khalil Al-Qattan, studi ilmu-ilmu al-qur’an, (Bogor: Halim
Jaya, 2011),h. 188
[8] Manna Khalil Al-Qattan, studi ilmu-ilmu al-qur’an, (Bogor: Halim
Jaya, 2011),h. 188-192.
[9] Manna Khalil Al-Qattan, studi ilmu-ilmu al-qur’an, (Bogor: Halim
Jaya, 2011),h. 192-200.
[11] Habsi
Ash Siddieqy, Tafsir Al Bayan, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1966) hal.767.
[12] Al-Hudhari, Bik, Tarikh At-tasyri’ Al-Islami, Matba’ah Sa’adah, Mesir, cetakan ke-6,
1945, h.18.
[13] Abdul Wahab Khalaf, Kashlahah Tarikh AL- Islami, ad-Daar Al-Kuwaetiyah, cetakan ke-8,
h. 22.
No comments:
Post a Comment