Wednesday, 10 June 2020

MAKALAH TENTANG KAJIAN AL-QURAN

KAJIAN AL-QUR’AN

 

 

DAFTAR ISI

      KATA PENGANTAR ..............................................................................................  i

 

      DAFTAR ISI ............................................................................................................  ii

 

      BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................  1

      A. Latar Belakang .....................................................................................................  1

      B. Rumusan Masalah ................................................................................................  1

      C. Tujuan ..................................................................................................................  1

 

      BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................  2

A. Pengertian Al-qur’an ........................................................................................... .2

B. sejarah turun dan pengumpulan al-qur’an............................................................. .4

C. isi kandungan al-qur’an......................................................................................... .7

D. Autentisitas al-qur’an........................................................................................8

E. Fungsi dan tujuan al-qur’an...............................................................................10

F. Posisi al-qur’an dalam studi keislaman..............................................................12

 

      BAB II PENUTUP ...................................................................................................  13

      Kesimpulan ...............................................................................................................  13

 

      DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................  14


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan puncak dan penutup Wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantara Malaikat Jibril. Dan sebagai Wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW, sebagaimana terdapat dalam surat Al-Alaq ayat 1-5. Al-Qur’an merupakan salah satu kitab yang mempunyai sejarah panjang yang dimiliki oleh umat Islam dan sampai sekarang masih terjaga keasliannya.

           Al-Qur’an dalam pengumpulannya mempunyai dua tahap yaitu tahap petama pengumpulan Al-qur’an dalam arti menghafal Al-Qur’an pada masa Nabi, tahap kedua dalam arti penulisan Al-Qur’an, hal ini dinamakan penghafalan dan pembukuan Al-Qur’an. Setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW, proses pengumpulan Al-Qur’an terus dilaksanakan oleh para khalifah sehingga terbentuklah Mushaf Usmani seperti yang ada pada saat sekarang ini.

 

B.  Rumusan Masalah

1. Bagaimana Pengertian Al-Qur`an?

2. Bagaimana Sejarah turunnya Al-Qur`an?

3. Bagaimana Isi kandungan Al-Qur`an?

4. Bagaimana Autentisitas Al-Qur`an?

5. Bagaimana Fungsi dan Tujuan Al-Qur`an?

6. Bagaimana Posisi Al-Qur`an dalam studi keislaman?

 

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui Pengertian Al-Qur`an

2. Untuk mengetahui Sejarah turunnya Al-Qur`an

3. Untuk mengetahui Isi kandungan Al-Qur`an

4. Untuk mengetahui Autentisitas Al-Qur`an

5. Untuk mengetahui Fungsi dan Tujuan Al-Qur`an

6. Untuk mengetahui Posisi Al-Qur`an dalam studi keislaman

 

1

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Al-Qur`an

secara bahasa diambil dari kata: قر ا يقرا قراة وقرانا yang berarti sesuatu yang dibaca. Arti ini mempunyai makna anjuran kepada umat Islam untuk membaca Alquran. Alquran juga bentuk mashdar dari القراة yang berarti menghimpun dan mengumpulkan. Dikatakan demikian sebab seolah-olah Alquran menghimpun beberapa huruf, kata, dan kalimat secara tertib sehingga tersusun rapi dan benar.[1]

 Secara etimologi, Al-qur’an berasal dari kata “qara-a, yaqra-u, qiraatan atau quranan" berarti mengumpulkan (al-jam’u), menghimpun (al-dlommu) huruf-huruf serta kata-kata dari bagian ke bagian lain secara teratur.

1. Al- Lihyani dan kawan-kawan mengatakan Al-Qur`an berasal dari kata qara`a (membaca) adalah merujuk kepada firman Allah SWT surah al-Qiyaamah (75) ayat 17-18:

                                                                                                                                     إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُۥ وَقُرْءَانَهُۥ

                                                       فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ

 

Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya (17). Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu (18).

 

2. Al-zujaj menjelaskan bahwa kata al quran merupakan kata siffat yang berasal dari kata bill (‘al-qar') yang artinya menghimpun. Kata sifat ini kemudian dijadikan nama bagi fmnan Allah yang ditumnkan kepada Nabi Muhammad SAW. Makna tersebut menunjukkan bahwa kitab Al-Qur'an menghimpun surah, ayat, kisah, perintah, larangan dan intisari kitab-kitab suci sebelumnya.

 

3.  Al-Asy’ari mengatakan bahwa Al-Qur’an diambil dari kata kerja ‘qarana’(menyertakan) karena Al-Qur'an menyertakan surah, ayat. dan huruf-huruf.

 

 

2

4. Al-farra' menjelaskan bahwa kata Al-Qur’an diambil dari kata dasar ‘qara'in’ (penguat) karena Al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat yang saling menguatkan. dan terdapat kemiripan antara satu ayat dengan ayatayat lainnya.[2]

 

5. Menurut Quraisy Shihab,Al-Qur’ansecara harfiah berarti bacaan sempurna. Ia merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat menandingi Al-Qur’an, bacaan sempurnaa lagi mulia[3].

Dalam teori yang lain, istilah Al~Qur’an dinyatakan sebagai nama khusus yang ditunjukan kepada kumpulan wahyu Allah SWI‘ yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Istilah Al-Qur'an ini bukan berasal dari pecahan kata dalam bahasa Arab ialah nama kitab-kitab seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Semua istilah ini adalah khusus untuk nama kumpulan waahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabinya masing-masing.[4]

 

 

B. Sejarah Turun Dan Pengumpulan Al-Qur’an

Sejarah singkat Al-Qur’an ialah ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWF kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur sejak malam Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun ke-4l dari umur Nabi SAW sampai dengan 9 Zulhijjah pada hari haji wada pada tahun 11 H tahun ke-63 dari umur Nabi SAW. Pertama kali Al-Qur’an diturunkan di Gua Hira pada malam Jum'at tanggal l7 Ramadhan.1.amanyaAl-Qur’an diturunkan sejak ayat pertama sampai terakhir adalah 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Dan malam pertama Al-Qur’an diturunkan adalah pada malam lailatulqadar, menurut riwayat. Nabi Muhammad SAW wafat setelah 81 malam dari turunnya ayat yang terakhir.[5]

 

 

3

 

1.      Masa Nabi Muhammad SAW

Rasulullah telah mengangkat para penulis wahyu Al-Qur'an dan sahabat-sahabat terkemuka, para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka di antaranya Ali bin Abi Thalib. Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka'b. Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas’ud telah menghafal Al-Qur'an di masa Rasulullah.[6]

Bila ayat turun. rasul memerintahkan mereka menuliskannya sehingga penulisan pada lembaran itu membantu penghafalan di dalam hati. Para penulis wahyu menuliskan Al-Qur'an pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, potongan tulang belulang binatang.

Al-Khattabi berkata: “Rasulullah tidak mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasullah SAW, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para khulafaur Rasyidin sesuai dengan janji-Nya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaan-Nya dalam surah Al-Hijr (15): 9. Pengumpulan Al-Qur'an di masa rasul ini dinamakan Penghafalan dan Pembukuan pertama.[7]

 

2. Masa Abu Bakar Abu Bakar

Abu Bakar memerintahkan agar catatan-catatan yang berserakan pada kulit-kulit, tulang dan pelepah kurma tersebut dikumpulkan dalam satu mushaf. dengan ayat-ayat dan surah-surah yang tersusun serta dituliskan dengan sangat berhati-hati dan mencakup tujuh huruf yang dengan itu Al-Qur'an diturunkan. Abu Bakar adalah orang pertama yang mengumpdkan Al-Qur'an dalam satu mushaf dengan cam seperti ini pengumpulan ini dinamakan pengumpulan kedua.[8]

 

 

4

 

3. Masa Usman bin Affan

Pada masa ini terjadi perbedaan-perbedaan Al-Qur’an di berbagai daerah Islam. Penyebaran Islam bertambah luas dan para qari pun tersebar di berbagai wilayah, dan penduduk di setiap wilayah itu mempelajari qira’at( bacaan ) dari qari yang dikirim pada mereka. Cara-cara pembacaan (qira’at) Al-Qur'an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan karena mereka menggunakan huruf (logat) yang berbeda-beda sesuai dengannya Al-Qur'an diturunkan.

Apabila mereka berkumpul di suatu penemuan atau di suatu Inedan peperangan, sebagian mereka merasa heran akan adanya perbe’ daan qira’at ini. Terkadang sebagian dari mereka merasa puas karena mengetahui bahwa perbedaan itu disandarkan pada Rasulullah. Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak menyusupkan keraguan pada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah, sehingga terjadilah pembicaraan bacaan mana yang baku dan lebih baku, hingga menimbulkan penentangan, permusuhan dan perbuatan dosa.

Karena khawatir akan timbul bencana, Usman segera memerintahkan membentuk panitia yang terdiri dari para ahli yaitu: Zaid bin tsabit beserta para ahli yang lain menulis wahyu ke dalam satu mushaf dengan menertibkan surat-suratnya. membatasinya hanya pada bahasa Quraisy dengan alasan bahwa Al-Qur' an diturunkan dengan bahasa Quraisy.

Mushaf-mushafyang telah di salin itu dikirim ke setiap pelosok daerah, dan mushafyang lama di perintahkan untuk dimusnahkan dan dibakar. Apa yang dilakukan Usman itu disepakati oleh para sahabat. Dengan usahanya itu Usman berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga Al-Qur’an dan penambahan dan penyimpangan sepanjang zaman.Pengumpulan Al-Qur’an oleh Usman ini disebut dengan Pengumpulan Ketiga yang dilaksanakan pada 25 H. [9]

 

C. Isi Kandungan Al-Qur'an

Al-Qur'an merupakan kitab Suci yang di dalamnya sudah djjelaskan  sistem perekonomian. politik. sosial, budaya. ilmu pengetahuan dan seterusnya sehingga tidak ada suatu pun yang lerlupakan oleh-Nya. Hal ini di dasarkan pada Al-Qur'an Surah al-Maaidah ayat (5):3                                                                                                                                  حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْم أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul. yang jaluh. yang ditanduk. dan yang diterkam binatang buaS. kecuali yang sempat kamu sembelihnya dan (diharamkan bagimu) yang disembelih unruk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu. sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah ku ridhoi Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(13).

 

Ayat-ayat di atas dan yang senada dengannya memang dapat diartikan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang sempuma isinya dalam arti tidak ada sesuatupun yang dilupakan dan segala-segalanya telah dijelaskan dalam isinya. Berikut garis besar isi AL-Qur'an:

1.Tentang Keimanan ( Tauhid )

Membicarakan tentang ajaran yang menyangkut keyaldnan agama 151m seperti adanya Allah, kitab-kitab Allah. para Rasul, dan hari kiamat dan taqdir. Contohnya terdapat dalam Surah Ali-Imran (3):

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ                                                                    

Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut  yang dia kehendaki. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.

 

2.Tentang Hukum

Garis besamya meliputi:

l. Ibadah: Peraturan tentang hubungan antara manusia dengan Allah (Hablumminallah), seperti shalat, puasa, haji, zakat. QS. al-A'raaf (7):229.

Katakanlah “Tuhanku menyuruhku berlaku adil, hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat dan sembahlah dia dengan mengikhlaskan Ibadah semata-mata hanya kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula

6

2. Jinayat: Peraturan yang berhubungan dengan kriminal seperti membunuh, berzina, mencuri. Terdapat dalam QS. al-Maaidah: (15): 38 (Hukum Mencuri), QS. an-Nisaa' (4): 92 (Hukum Pembunuhan), QS. an-Nuur (24): 2-4 (Zina).

3. Munakahat: Peraturan (UU Perkawinan) dan juga hukum mawaris. Terdapat dalam QS. An-Nisaa’ (14): 7-13 (Mawaris), QS. an-Nuur (24): 32 (Munakahat).

4. Jihad: Peraturan-peraturan dalam suasana perang untuk mempertahankan kesucian agama.Terdapat dalam QS. al-Baqarah (2): 218,194 (Etika dalam Berperang).

 

3. Tentang Sejarah

1)      Perjuangan para rasul dan Nabi.

2)      Kemenangan dan kemasyhuran umat-umat yang terdahulu karena mereka taat dan patuh kepada Allah dan Rasulnya. Terdapat dalam QS. al-Kahfi (18): 9-26 (Ashabul Kahfl). QS. al-Qashash (28): 76-83 (Harun).

 

4. Tentang Janji dan Peringatan

Terdapat dalam QS. an-Nisaa' (4): 122 (Otang Beriman Masuk kedalam Surga), Q3. al-Ma'aarij (70): 22-35(Orang yang Memelihara Shalat Dimuliakan dalam Syurga)

 

5. Tentang Peringatan Tuhan

Terdapat dalam QS. al-Baqarah (2): 206 (Tentang Kesombongan), QS. ali-Imran (3): 25 (Hari Pembalasan).

 

6. Tentang Pendidikan Budi Pekerti/ Akhlak Mahmudah.

 Terdapat dalam QS. an-Nisaa’(4): 86 (Penghormatan). QS. al-Baqarah (12): 195 (Berinfak dan Berbuat Baik).

Al-Qur'an yang memuat ketentuan tentang Iman, Ibadah, dan hidup kemasyarakatan kurang lebih hanya ada 500 buah ayat atau a perSen dan‘ keseluruhan ayat Al-Qur’an. Dari sejumlah itu, ayat-ayat mengenai ibadah ada 140, dan tentang hidup kemasyarakatan ada 223 ayat. dan kemudian sisanya berisi tentang keimanan.

 

7

 

 

D. Autentisitas Al-Qur’an

Janji Allah untuk menjaga autentisitas Al-Qur’an. Penggalan ayat Wa Inna Lahu lahafidhun mengandung dua pengertian penting terkai‘ dengan pemeliharaan Al-Qur‘an. Pertama, secara bahasa susunan kalimat semacam ini memiliki kaidah makna istimror yakni terus-menerus; Kedua, dipergunakan kata innd sebagai kata ganti bagi Allah dalam penggalan ayat itu menunjukkan perlunya keteribatan manusia (selain Allah) dalam pemeliharaan Al-Qur'an itu. Atas dasar kedua hal ini dapatlah dipahami bahwa Allah senantiasa menjaga autentitas Al-Qur'an sampai akhir zaman. Hanya saja dalam aktivitas pemeliharaannya itu. Allah menuntun kepada manusia agar ikut berperan aktif di dalamnya. Dengan adanya jaminan setegas ini maka setiap Muslim percaya betul dan wajib percaya, bahwa apa yang dibaca dan didengarkan sebagai Al-Qur'an seperti ini tidak berbeda sedikitpun dengan Al-Qur'an yang pernah dibaca oleh Rasulullah dan didengar serta dibaca oleh para Sahabat Nabi. Inilah makna sebenamya dari autentitas Al-Qur’an.

Ada beberapa manfaat yang dapat diambil oleh umat manusia dengan terpeliharanya Al-Qur'an yaitu:

1. Al-Qur'an menjadi satu-satunya kitab suci yang sama sekali redaksinya tidak pemah mengalami perubahan. Apa yang dibaca dari isi AI-Qur’an sekarang adalah sama dengan apa yang dibaca oleh para sahabat I4 abad yang lalu.

2. Terpeliharanya keautentikan AJ~Qur‘an menjadikannya sebagai sumber pertama ajaran Islam, ia berisi nilai-nilai ajaran yang bersffat global, universal, dan mendalam karena itu perlu penjelasan lebih lanjut. Di sinilah pentingnya peranan tafsir guna menjelaskan Iebih lanjut mengenai apa yang dimaksud Al-Qur'an.

 

3. Al-Qur’an menjadi al-furqan yang berarti pembeda. Dengan membaca dan memahami Al-Qur‘an. orang dapat membedakan dan memisahkan antara yang hak dan yang batil. Selain itu Al-Qur’an juga menjadi az-zikra. yaitu peringatan yang mengingatkan manusia akan posisinya sebagai makhluk Allah yang memiliki tangguns jawab.

 

 

 

8

 

4. Terpeliharanya keautemikan dan keaslian redaksi Al-Qur'an, menjadikannya sebagai sumber ilmu pengetahuan. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk yang tersurah dan tersirat yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Isyarat-isyarat ilmiah Al-Qur'an temyata dapat dibuktikan kebenarannya oleh ilmuwan di abad modem saat ini.

 

E.Fungsi Dan Tujuan Al-Qur’an

Dari sudut isi atau subsitansinya, fungsi Al-Qur’an sebagai tersurah dalam nama-namanya adalah sebagai berikut:

 

1. Fungsi dan Tujuan AI-Qur’an

Al-Qur’an al karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat, ia merupakan kitab Allah yang selalu dipelihara. Al-Qur’an mempunyai sekian banyak fungsi diantaranya:

a) . Menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW bukti kebenaran tersebut dikemukakan dalam tantangan yang sifatnya bertahap.

1) Menantang siapapun yang meragukannya untuk menyusun semacam Al-Qur’an secara keseluruhan.

2) Menantang mereka untuk menyusun sepuluh surat semacam Al-Qur’an.

3) Menantang mereka untuk menyusun satu surat saja semacam Al-Qur’an.

 

4) Menantang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan satu surah dari Al-Qur’an.[10]

b). Sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW untuk membuktikan kenabian dan kerasulannya dan Al-Qur’an adalah ciptaan Allah bukan ciptaan nabi. Hal ini didukung dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Isra’ ayat 88:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرً                         ا

 

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain"[11]

 

c). Sebagai huda yaitu petunjuk bagi kehidupan umat. Dalilnya terdapat dalam QS. Luqman (31): 3.

d). Sebagai rahmat yaitu bentuk kasih sayang Allah. Dalilnya terdapat dalam QS. Yunus (10): 58.

e).Sebagai mauizah yaitu pengajaranl nasihat yang membimbing umat untuk mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Dalilnya terdapat dalam QS. Yunus (10): 57.

f).Sebagai Syifau Al~shudur yaitu obat bagi rohani yang sakit. Dalilnya terdapat dalam QS. Yunus (10): 57.

g).Sebagai Furqan yaitu pembeda antara yang baik dengan yang buruk. yang haq dengan yang batil. Dalilnya terdapat dalam QS. Al-Furqaan (150): l.6.

h).Sebagai Busyra yaitu berita gembira bagi orang yang berbua‘ baik pada Allah serta manusia. Dalilnya terdapat dalam QS. anNaml: 1-2.

i).Sebagai Tibyan/Mubiin yaitu penjelasan wahyu Allah. Dalilnya terdapat dalam QS. Yusuf (12): l.

j). Sebagai Mushaddiq yaitu pembenaran terhadap kitab yang datang terdahulu. Dalilnya terdapat dalam QS. az-Zumar. 33. dapat dalam QS. an-Nisaa'(4): 174.

k). Sebagai Nur yaitu penerang kehidupan manusia. Dalilnya terdapat dalam QS. An-Nissa        

l). Sebagai Balagh yaitu memberikan penjelasan secara perinq sehingga dapat dilaksanakan sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Dalilnya terdapat dalam QS. Ibrahim (44): 52.

m). Sebagai Hakim yaitu sumber kebijakan. Dalilnya terdapat da. lam QS. Yunus (10): l.

Keberagaman penafsiran ini merupakan perwujudan dari watak dasar yang dibawa oleh Al-Qur’an, terbuka terhadap keragaman penafsiran (interpretable) atau qobil An-Niqash dalam pemaknaanya Watak dasar Al-Qur’an yang menimbulkan keberagaman penafsiran di atas digambarkan oleh Abdullah Darraz dengan, “Bagaikan intan yang setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpan. car dari sudut-sudut yang lain, dan tidak mustahil jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak dari apa yang Anda lihat.

10

F. Posisi Al-Qur’an Dalam Studi Keislaman

Dikalangan umat Islam, bahwa Al-Qur'an adalah landasan pokok bagi syariat Islam. Darinya diambil segala pokok-pokok syariat dan cabang-cabangnya, daripadanya diambil dalil-dalil syar’i. Dengan demildan. Al-Qur'an adalah landasan pokok (kully) bagi Syariat Islam dan pengumpul segala hukumnya sebagaimana lirman Allah dalam Surah al-An’aam ayat (6): 38.

Selanjutnya karenaAl-Qur’an merupakan sumber utama, maka para ulama harus terus- menerus berusaha untuk mempelajarinya dan menggalinya dengan melakukan ijtihad untuk mengeluarkan hukum-hukum dari ‘ibarat-‘ibarat, isyarat-isyarat, dzahir, dan nash Al-Qur’an. Sebagaimana mereka bersungguh-sungguh mencari jalan menakwilkan ayat-ayat mutasyabih. Mentafsirkan ayat-ayat yang mujmal, menerang kan yang belum jelas, serta menerangkan mana yang dikatakan ‘am. nasikh, mansukh dan sebagainnya.

Al-Qur’an sebagai sumber berbagai disiplin ilmu keislaman dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. llmu Tauhid (Teologi )

llmu Tauhid adalah ilmu yang membicarakan tentang wujud Tuhan (Allah). sifat-sifat yang mesti ada, sifat-sifat mustahil dan jaiz padanya.

 

 

2. llmu Hukum

Hukum Islam atau Fikih didefinisikan sebagai ilmu yang membahas tentang hukum-hukum syariat yhng bersifat amaliah praktis, diambil dari dalil-dalil yang terperinci.

Kebijaksanaan Al-Qur'an dalam menetapkan hukum menggunakan prinsip-prinsip:

a.       Memberikan kemudahan dan tidak menyulitkan.

b.      Menyedikitkan tuntutan (QS. al-Maaidah [15]: 101 dan 102).

c.       Bertahap dalam menerapkan hukum (QS. al-Baqarah [12]: 219) (an-Nisaa'l4]: 43) dan (al~Maidah [S]: 90). [12]

d.      Al-Qur’an memberikan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia.“'(al-An'aam (6): 108) dan (al-Israa’l17]: 32). [13]

 

3. Ilmu Tasawuf

Tasawuf atau sufisme bertujuan agar seseorang secara sadar memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa ia berada di hadirat Tuhan.

 

4. Ilmu Filsafat Islam

Filsafat Islam adalah ilmu yang berbicara tentang segala sesuam yang ada untuk dicari hakikat atau dasar serta prinsip-prinsipnya, secara sistematis. radikal, dan universal.

Dengan demikian, Al~Qur'an dalam kerangka umtan dalil-dalil atau hukum atau sumber ajaran Islam adalah menempati kedudukan yang paling tinggi. Dalam kaitan ini, maka Al-Qur'an mempunyai fungsi dasar pokok, yaitu sebagai alat kontrol atau alat ukur menganahi apakah dalil-dalil hukum yang lebih rendah sesuai atau tidak dengan ketemuan-ketentuan Al-Qur'an.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

12

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

1. secara bahasa diambil dari kata: قر ا يقرا قراة وقرانا yang berarti sesuatu yang dibaca. Arti ini mempunyai makna anjuran kepada umat Islam untuk membaca Alquran. Alquran juga bentuk mashdar dari القراة yang berarti menghimpun dan mengumpulkan. Dikatakan demikian sebab seolah-olah Alquran menghimpun beberapa huruf, kata, dan kalimat secara tertib sehingga tersusun rapi dan benar.

2. Sejarah singkat Al-Qur’an ialah ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur sejak malam Jum’at tanggal 17 Ramadhan tahun ke-4l dari umur Nabi SAW sampai dengan 9 Zulhijjah pada hari haji wada pada tahun 11 H tahun ke-63 dari umur Nabi SAW. Pertama kali Al-Qur’an diturunkan di Gua Hira pada malam Jum'at tanggal l7 Ramadhan.1.amanyaAl-Qur’an diturunkan sejak ayat pertama sampai terakhir adalah 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Dan malam pertama Al-Qur’an diturunkan adalah pada malam lailatulqadar, menurut riwayat. Nabi Muhammad SAW wafat setelah 81 malam dari turunnya ayat yang terakhir.

3. Janji Allah untuk menjaga autentisitas Al-Qur’an. Penggalan ayat Wa Inna Lahu lahafidhun mengandung dua pengertian penting terkai‘ dengan pemeliharaan Al-Qur‘an. Pertama, secara bahasa susunan kalimat semacam ini memiliki kaidah makna istimror yakni terus-menerus; Kedua, dipergunakan kata innd sebagai kata ganti bagi Allah dalam penggalan ayat itu menunjukkan perlunya keteribatan manusia (selain Allah) dalam pemeliharaan Al-Qur'an itu.

B.     Saran

Penulis menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas. 

13

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qattan, Manna khalil. 2011.  studi ilmu-ilmu al-qur’an. Bogor: Halim Jaya.

Anwar, Rosihan. 2008. Ulum al-qur’an. Bandung: CV. Pustaka.

Batubara, Chuzaimah. Dkk. 2018. Handbook Metodologi Studi Islam. Jakarta : Prenadamedia Group

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

14



[1] Anshori, Ulumul Quran, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), p.17

[2] Rosihan Anwar, Ulum al-qur’an, (Bandung: CV. Pustaka, 2008), h.32-34.

[3] M. Quraisy Shihab, Wawasan AL-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1996), h.3

[4] Baharuddin & Buyung Ali. Metode Studi Islam, (Bandung:Citra Pustaka, 2005) h. 41-42.

[5] Drs. H. M. Yusuf Said, MA, (Uslfiqh, Citra Pustaka: Bandung, 2010), h. 19-26.

[6] Manna Khalil Al-Qattan, studi ilmu-ilmu al-qur’an, (Bogor: Halim Jaya, 2011),h. 188.

[7] Manna Khalil Al-Qattan, studi ilmu-ilmu al-qur’an, (Bogor: Halim Jaya, 2011),h. 188

[8] Manna Khalil Al-Qattan, studi ilmu-ilmu al-qur’an, (Bogor: Halim Jaya, 2011),h. 188-192.

[9] Manna Khalil Al-Qattan, studi ilmu-ilmu al-qur’an, (Bogor: Halim Jaya, 2011),h. 192-200.

[10] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur‟an..., hal. 36.

 

 

[11] Habsi Ash Siddieqy, Tafsir Al Bayan, (Bandung: PT Al-Ma’arif, 1966) hal.767.

[12] Al-Hudhari, Bik, Tarikh At-tasyri’ Al-Islami, Matba’ah Sa’adah, Mesir, cetakan ke-6, 1945, h.18.

[13] Abdul Wahab Khalaf, Kashlahah Tarikh AL- Islami, ad-Daar Al-Kuwaetiyah, cetakan ke-8, h. 22.


No comments:

Post a Comment

TOKOH TASAWUF DI INDONESIA

BAB II PEMBAHASAN A.     TOKOH TASAWUF DI INDONESIA Berikut merupakan beberapa tokoh-tokoh tasawuf di Indonesia: 1.       Hamzah Fan...